Rabu, 13 April 2016

Tulisan 2 Psikoterapi

Contoh Kasus yang Dapat Diterapkan Dengan Teknik Intensi Paradoksikal pada Logoterapi (Frankl)

·    Seorang dokter muda datang ke tempat Frankl dengan keluhan takut berkeringat. Setiap kali tubuhnya takut dia berkeringat. Ketakutan ini cukup memicu keluarnya keringat secara berlebihan. Untuk mencegah terjadinya hal ini, Frankl menyarankan agar saat tubuhnya berkeringat secara berlebihan, dia menunjukkan dengan sengaja kepada orang-orang, betapa banyak keringat yang bisa dia keluarkan. Seminggu kemudian ia kembali melaporkan bahwa setiap kali dia bertemu seseorang yang bisa memicu munculnya rasa takut yang diantisipasi, dia akan berkata pada dirinya sendiri: “Biasanya saya hanya akan mengeluarkan seperempat liter keringat, tetapi saya akan mengeluarkan sedikitnya sepuluh liter keringat!”. Hasilnya setelah bertahun-tahun menderita fobia, orang tersebut secara permanen terbebas dari fobianya, hanya dalam waktu satu minggu dan melalui satu kali konsultasi.
·     Kasus bakterofobia dan kompulsi mencuci tangan yang dialami ibu rumah tangga ditangani Frankl dengan mengajak ibu tersebut menirukan apa yang dilakukannya dengan menggosok-gosokkan tangan ke lantai dan kemudian berkata, “Lihat, tangan saya menjadi kotor, tetapi saya tidak bisa menemukan banyak bakteri!” dan kemudian ibu tersebut mau menirukannya. Selama lima hari berikutnya, gejala-gejala bakterofobia mulai menyusut dan akhirnya hilang sama sekali.
Berdasarkan contoh kasus di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan teknik intensi paradoksikal individu didorong untuk mendekati sesuatu yang justru ditakutinya dan yang selalu ingin dihindarinya.


Referensi

Tugas 2 Psikoterapi

TERAPI HUMANISTIK EKSISTENSIALIS
A.      Konsep Dasar Pandangan Humanistik Eksistensialis Tentang Perilaku/Kepribadian
Humanistik Eksistensial berfokus pada diri manusia dan mengutamakan suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia. Terapi ini bukan merupakan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia.
Terdapat beberapa konsep utama dari Humanistik Eksistensialis, yaitu:
1.      Kesadaran Diri
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri seorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu.
2.      Kebebasan, Tanggung Jawab, dan Kecemasan
Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab dapat menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan ekstensial bisa diakibatkan karena keterbatasan dan kemungkinan yang tidak dapat dihindarkan untuk mati (nonbeing). Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesadaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan potensi-potensinya.
3.      Penciptaan Makna
Manusia berusaha untuk menentukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Menjadi manusia juga berarti menghadapi kesendirian (manusia lahir sendirian dan mati sendirian pula). Walaupun pada hakikatnya sendirian, manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia merupakan mahluk rasional. Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri yakni mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya.

B.       Unsur-Unsur Terapi
1.      Munculnya Masalah atau Gangguan
Ketika kondisi inti manusia mulai berubah, serta serta munculnya kecemasan dan timbul pemikiran bahwa hidup tidak abadi, tidak dapat mengaktualisasi potensi diri dan tidak dapat menyadari potensi diri yang dimiliki.
2.      Tujuan Terapi
a. Agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi dasar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya.
b.  Meluaskan kesadaran diri klien dan meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.
c.  Membantu klien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri dan menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekedar korban kekuatan-kekuatan deterministik diluar dirinya.
3.      Peran Terapis
Menurut Buhler dan Allen, para ahli psikologi humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut:
a.       Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi.
b.      Menyadari peran dari tanggung jawab terapis.
c.       Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik.
d.      Berorientasi pada pertumbuhan.
e.       Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi.
f.       Mengakui bahwa putusan dan pilihan akhir terletak di tangan klien.
g.   Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia secara implisit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
h.  Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
i.        Bekerja ke arah mengurangi ketergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.

C.      Teknik-Teknik Terapi
Yang paling dipedulikan oleh konselor eksistensial adalah memahami dunia subyektif klien agar dapat menolongnya untuk bisa sampai pada pemahaman dan pilihan-pilihan baru. Fokusnya adalah situai-situasi hidup klien pada saat itu dan bukan pada menolong klien agar bisa sembuh dari situasi masa lalu. Biasanya terapis eksistensial menggunakan metode yang mencakup ruang yang cukup luas, bervariasi bukan saja dari klien ke klien, tetapi juga dengan klien yang sama dalam tahap yang berbeda dari proses terapeutik. Di satu sisi, mereka menggunakan teknik seperti desentisasi (pengurangan kepekaan atas kekurangan yang diderita klien sehabis konseling), asosiasi bebas, atau restrukturisasi kognitif, dan mereka mungkin mendapatkan pemahaman dari konselor yang berorientasi lain. Tidak ada perangkat teknik yang dikhususkan atau dianggap esensial. Di sisi lain, beberapa orang eksistensialis mengesampingkan teknik karena mereka melihat iyu semua memberi kesan kekakuan, rutinitas, dan manipulasi.
Spanjang proses terapeutik, kedudukan teknik adalah nomor dua dalam hal menciptakan hubungan yang akan bisa membuat konselor bisa secara efektif menantang dan memahami klien. Teknik-teknik yang digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik, yaitu penerimaan, rasa hormat, memahami, menentramkan, memberi dorongan, pertanyaan terbatas, memantulkan pernyataan dan perasaan klien, menunjukkan sikap yang mencerminkan ikut merasakan apa yang dirasakan klien, serta bersikap mengijinkan untuk apa saja yang bermakna.



PERSON CENTERED THERAPY (ROGERS)
A.      Konsep Dasar Pandangan Carl Rogers Tentang Perilaku/Kepribadian
Carl R. Rogers mengembangkan terapi clien centered atau person centered sebagai reaksi terhadap apa yang disebutnya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Terapi client centered adalah terapi yang berpusat pada diri klien, dimana terapis hanya memberikan terapi serta mengawasi klien pada saat mendapatkan pemberian terapi tersebut agar klien dapat berkembang atau keluar dari masalah yang dihadapinya.
Manusia merupakan makhluk sosial dimana keberadaan setiap manusia ingin dihargai, dan diakui keberadaannya serta mendapatkan penghargaan yang positif dari orang lain dan rasa kasih sayang adalah kebutuhan jiwa yang paling mendasar dan pokok dalamhidup manusia. Pandangan client centered atau person centered tentang sifat manusia menolak konsep tentang kecenderungan-kecenderungan negatif dasar.
Kepribadian menurut Rogers merupakan hasil dari interaksi yang terus- menerus antara organism, self, dan medan fenomenal. Untuk memahami perkembangan kepribadian perlu dibahas tentang dinamika kepribadian sebagai berikut:
1.      Kecenderungan Mengaktualisasi
Rogers beranggapan bahwa organism manusia adalah unik dan memiliki kemampuan untuk mengarahkan, mengatur, mengontrol dirinya dan mengembangkan potensinya.
2.      Penghargaan Positif dari Orang Lain
Self berkembang dari interaksi yang dilakukan organism dengan realitas lingkungannya, dan hasil interaksi ini menjadi pengalaman bagi individu. Lingkungan social yang sangat berpengaruh adalah orang-orang yang bermakna baginya, seperti orang tua atau terdekat lainnya. Seseorang akan berkembang secara positif jika dalam berinteraksi itu mendapatkan penghargaan, penerimaan, dan cinta dari orang lain.
3.      Person Yang Berfungsi Utuh
Individu yang terpenuhi kekbutuhannya, yaitu memperoleh penghargaan positif tanpa syarat dan mengalami penghargaan diri, akan dapat mencapai kondisi yang kongruensi antara self dan pengalamannya, pada akhirnya dia akan dapat mencapai penyesuaian psikologis secara baik.

B.       Unsur-Unsur Terapi
1.      Munculnya Masalah atau Gangguan
Orang-orang memiliki kencenderungan dasar yang mendorong mereka ke arah pertumbuhan dan pemenuhan diri. Gangguan-gangguan psikologis pada umumnya terjadi karena orang lain menghambat individu dalam perjalanan menuju kepada aktualisasi diri.
2.      Tujuan Terapi
Menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha membatu klien untuk menjadi seorang pribadi yang berfungsi penuh.
3.      Peran Terapis
Membantu menyesuaikan konsep diri klien dengan seluruh pengalamannya agar pengalaman tersebut tidak dialami sebagai ancaman terhadap konsep dirinya, tetapi sebagai sesuatu yang dapat diintergrasikan dalam sebuah konsep diri yang luas.

C.      Teknik-Teknik Terapi
1.      Empathy
Kemampuan terapis untuk merasakan bersama dengan klien dan menyampaikan pemahaman ini kembali kepada mereka. Empati adalah usaha untuk berpikir bersama dan bukan berpikir tentang atau mereka. Rogers mengatakan bahwa penelitian yang ada makin menunjukkan bahwa empati dalam suatu hubungan mungkin adalah faktor yang paling berpengaruh dan sudah pasti merupakan salah satu faktor yang membawa perubahan dan pembelajaran.
2.      Positive Regard (Acceptance)
Positive Regard (Acceptance) adalah geunine caring yang mendalam untuk klien sebagai pribadi yang sangat menghargai klien karena keberadaannya.
3.      Congruence
Congruence atau kongruensi adalah kondisi transparan dalam hubungan terapeutik dengan tidak memakai topeng atau pulasan-pulasan.



LOGOTERAPI (FRANKL)
A.      Konsep Dasar Pandangan Frankl Tentang Perilaku/Kepribadian
Logoterapi secara umum dapat digambarkan sebagai corak psikologi/psikiatri yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia disamping dimensi ragawi dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup (the meaning of life) dan hasrat untuk hidup bermakna (the will of meaning) merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna (the meaningful life) yang didambakannya.
Logoterapi memiliki tiga konsep yang menjadi landasan filosofinya, yaitu:
1.      Kebebasan Berkehendak (Freedom of Will)
Dalam pandangan Logoterapi, manusia adalah makhluk yang istimewa karena mempunyai kebebasan. Kebebasan disini bukanlah kebebasan yang mutlak, tetapi kebebasan yang bertanggung jawab. Kebebasan manusia bukanlah kebebasan dari kondisi-kondisi biologis, psikologis, dan sosiokultural, tetapi lebih kepada kebebasan untuk mengambil sikap (freedom to take a stand) atas kondisi-kondisi tersebut. Kelebihan manusia yang lain adalah kemampuan untuk mengambil jarak (to detach) terhadap kondisi di luar dirinya, bahkan manusia juga mempunyai kemampuan-kemampuan mengambil jarak terhadap dirinya sendiri (self detachment). Kemampuan-kemampuan inilah yang kemudian membuat manusia disebut sebagai “the self deteming being” yang berarti manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam hidupnya.
2.      Kehendak Hidup Bermakna (The Will to Meaning)
Menurut Frankl, motivasi hidup manusia yang utama adalah mencari makna. Ini berbeda dengan psikoanalisa yang memandang manusia adalah pencari kesenangan atau juga pandangan psikologi individual bahwa manusia adalah pencari kekuasaan. Menurut logoterapi, kesenangan adalah efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan prasyarat bagi pemenuhan makna itu. Mengenal makna itu sendiri menurut Frankl bersifat menarik (to pull) dan menawari (to offer) bukannya mendorong (to push). Karena sifatnya menarik, maka individu termotivasi untuk memenuhinya agar ia menjadi individu yang bermakna dengan berbagai kegiatan yang sarat dengan makna.
3.      Makna Hidup (The Meaning of Life)
Makna hidup adalah sesuatu yang dianggap penting, benar dan didambakan, serta memberikan nilai khusus bagi seseorang. Untuk tujuan praktis, makna hidup dianggap identik dengan tujuan hidup. Makna hidup bisa berbeda antara manusia satu dengan yang lainnya dan berbeda setiap hari, bahkan setiap jam. Karena itu, yang penting bukan makna hidup secara umum, melainkan makna khusus dari hidup seseorang pada suatu saat tertentu. Setiap manusia memiliki pekerjaan dan misi untuk menyelesaikan tugas khusus. Dalam kaitan dengan tugas tersebut, dia tidak bisa digantikan dan hidupnya tidak bisa di ulang. Karena itu manusia memiliki tugas yang unik dan kesempatan untuk menyelesaikan tugasnya.

B.       Unsur-Unsur Terapi
1.      Munculnya Masalah atau Gangguan
a.       Neurosis somatogenik, yaitu gangguan perasaan yang berkaitan dengan ragawi.
b.  Neurosis psikogenik, yaitu gangguan perasaan yang berasal dari hambatan-hambatan psikis.
c.   Neurosis noogenik, yaitu gangguan neurosis yang disebabkan tidak terpenuhinya hasrat untuk hidup bermakna.
2.      Tujuan Terapi
a.  Meraih hidup bermakna dan mampu mengatasi secara efektif berbagai kendala dan hambatan pribadi. Hal ini diperoleh dengan jalan menyadari dan memahamai serta merealisasikan berbagai potensi dan sumber daya kerohanian yang dimiliki setiap orang yang sejauh ini mungkin terhambat dan terabaikan.
b. Menolong klien untuk menemukan tujuan dan maksud dalam hidupnya dengan memperlihatkan bernilainya tanggung jawab dan tugas-tugas tertentu.
3.      Peran Terapis
a.     Terapis harus menunjukkan kepada klien bahwa setiap hidup manusia mempunyai tujuan yang unik yang dapat tercapai dengan suatu cara tertentu.
b.     Menjaga hubungan yang akrab dan pemisahan ilmiah, yaitu terapis pertama-tama harus menciptakan hubungan antara klien dengan mencari keseimbangan antara dua ekstrem, yakni hubungan yang akrab (seperti simpati) dan pemisahan secara ilmiah (menangani klien sejauh ia melibatkan diri dalam teknik terapi).
c.   Mengendalikan filsafat pribadi yang artinya terapis tidak boleh memindahkan filsafat pribadi pada klien karena logoterapi digunakan untuk menangani masalah-masalah yang menyangkut nilai-nilai dan amsalah spiritual, seperti aspirasi terhadap hidup yang bermakna, makna cinta, makna penderitaan, dan sebagainya.
d.      Memberi makna lagi pada hidup. Salah satu tujuan logoterapi adalah menemukan tujuan dan maksud keberadaannya kepada klien bahwa setiap kehidupan memiliki potensi-potensi yang unik dan tugas utamanya adalah menemukan potensi-potensi itu. Pemenuhan tugas ini memberi makna pada hidupnya.

C.      Teknik-Teknik Terapi
1.      Persuasif
Salah satu teknik yang digunakan dalam logoterapi adalah teknik persuasif, yaitu membantu klien untuk mengambil sikap yang lebih konstruktif dalammenghadapi kesulitannya.
2.      Intensi paradoksikal
Teknik intensi paradoksikal merupakan teknik yang dikembangkan Frankl berdasarkan kasus kecemasan antispatori, yaitu kecemasan yang ditimbulkan oleh antisipasi individu atas suatu situasi atau gejala yang ditakutinya. Teknik intensi paradoksikal (perlawanan terhadap niat) didasarkan pada dua fakta, yaitu yang pertama adalah rasa takut bisa menyebabkan terjadinya hal yang ditakutkan dan yang kedua adalah keinginan yang berlebihan bisa membuat keinginan tersebut tidak terlaksana.
3.      Derefleksi
Teknik Derefleksi, yaitu memanfaatkan kemampuan transendensi diri (self-transcendence)yang dimiliki setiap manusia dewasa. Setiap manusia dewasa memiliki kemampuan untuk membebaskan diri dan tidak lagi memperhatikan kondisi yang tidak nyaman, tetapi mampu mengalihkan dan mencurahkan perhatiannya kepada hal-hal yang positif dan bermanfaat. Di sini klien pertama-tama dibantu untuk menyadari kemampuan atau potensinya yang tidak digunakan atau terlupakan. Ini merupakan suatu jenis daya penarik terhadap nilai-nilai pasien yang terpendam. Sekali kemampuan tersebut dapat diungkapkan dalam proses konseling, maka akan muncul suatu perasaan unik, berguna dan berharga dari dalam diri klien.
4.      Bimbingan ruhani (Medical ministry)
Medical ministry merupakan salah satu metode logoterapi yang mula-mula banyak diterapkan dalam dunia medis, khususnya untuk kasus-kasus somatogenik. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, prinsip-prinsip medical ministry diamalkan juga oleh profesi lain dalam kasus-kasus tragis non-medis yang tak dapat dihindari lagi. Pendekatan ini memanfaatkan kemampuan insani untuk mengambil sikap (to take a stand) terhadap keadaan diri sendiri dan keadaan lingkungan yang tak mungkin diubah lagi. Bimbingan ruhani merupakan metode yang khusus digunakan pada penanganan kasus dimana individu dalam penderitaan karena penyakit yang tidak bisa disembuhkan atau nasib buruk yang tidak bisa diubahnya dan tidak mampu lagi untuk berbuat selain menghadapi penderitaan itu. Melalui bimbingan ruhani,  individu yang menderita didorong ke arah merealisasi nilai-nilai bersikap, menunjukkan sikap positif terhadap penderitaannya, sehingga dia bisa menemukan makna dibalik penderitaannya.



Referensi
Corey, G. (2007). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT. Refika Aditama.
Konseling Eksistensial Humanistik. Diakses dari https://www.scribd.com/doc/202049846/KONSELING-EKSISTENSIAL-HUMANISTIK-pdf.
Terapi Eksistensial Humanistik. Diakses dari http://dokumen.tips/documents/terapi-eksistensial-humanistik.html.

Kamis, 17 Maret 2016

Tulisan 1 Psikoterapi

TULISAN

Contoh Kasus yang Dapat Diterapkan Dengan Terapi Psikoanalisis

Mira adalah seorang gadis kecil yang lucu dan ceria. Mira hidup bersama kedua orang tuanya dan kedua kakaknya, namun di usianya yang beranjak 6 tahun ada kejadian yang membuatnya sering sekali ketakutan apalagi pada saat dekat dengan ayahnya, karena Mira sering melihat perlakuan ayahnya yang tidak senonoh pada kedua kakaknya dan juga pada ibunya. Karena kejadian itu, ada banyak rasa kekecewaan hingga membuatnya sering mengalami ketakutan yang berlebihan. Dia tidak menyangka sesosok pria yang selama ini  dia banggakan hanya dapat menyakiti seorang wanita. Karena rasa sakit yang timbul dalam hatinya mulai merasuk ke dalam jiwa dan menjadikan Mira trauma atau ketakutan yang berlebihan dibawah alam sadar akan sesuatu hal. Semenjak kejadian itu, akhirnya Mira mulai menutup dirinya terlebih pada seorang pria. Dan setiap ada pria yang mencoba mendekatinya, Mira selalu bersikap cuek dan seakan tidak peduli pada perasaan mereka. Karena masih sering terbayang-bayang akan masa lalu yang dialami oleh ibu dan kedua kakaknya, sehingga ia takut untuk menjalin hubungan dengan seorang pria. Mira lebih memilih untuk dekat dan menjalin hubungan dengan seorang wanita, karena ia merasa adanya kepuasan dan kenyaman batin bila bersama seorang wanita.


Penerapan Terapi Psikoanalisis
Dalam kasus diatas, dapat disimpulkan Mira mengalami trauma terhadap laki-laki. Trauma ini dapat dibantu dengan terapi psikoanalisis, yaitu dengan menggunakan teknik asosiasi bebas dimana klien diperintahkan untuk duduk santai atau tidur lalu menceritakan semua pengalaman yang terlintas dalam benaknya dan semuanya harus diungkapkan. Asosiasi bebas merupakan metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lalu dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi traumatik di masa lalu. Disini terapis berusaha untuk terus menggali informasi terkait dengan kejadian-kejadian yang membuat klien trauma, sehingga klien dapat terpancing emosinya dan kemudian klien diberikan katarsis atau pelampiasan seperti misalnya berteriak sekeras-kerasnya atau diberikan boneka untuk digunakan sebagai pelampiasan kemarahan klien yang akan membuat klien merasa lebih lega nantinya. Dengan teknik ini, klien dapat mengekspresikan rasa marah, sedih, dan rasa takut yang dirasakannya akibat pengalaman masa lalu yang membuatnya menjadi trauma.


Referensi Contoh Kasus:
http://dokumen.tips/documents/contoh-kasus-psikoanalisis.html

Tugas 1 Psikoterapi

PENGANTAR
A.   Pengertian Psikoterapi
Psikoterapi merupakan usaha penyembuhan untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan, dan perilaku. Psikoterapi (Psychotherapy) berasal dari dua kata, yaitu "Psyche" yang artinya jiwa, pikiran atau mental dan "Therapy" yang artinya penyembuhan, pengobatan atau perawatan. Oleh karena itu, psikoterapi disebut juga dengan istilah terapi kejiwaan, terapi mental, atau terapi pikiran.
Psikoterapi juga merupakan suatu interaksi sistematis antara pasien dan terapis yang menggunakan prinsip-prinsip psikologis untuk membantu menghasilkan perubahan dalam tingkah laku, pikiran, dan perasaan pasien supaya membantu pasien mengatasi tingkah laku abnormal dan memecahkan masalah-masalah dalam hidup atau berkembang sebagai seorang individu. Psikoterapi juga digunakan untuk pasien yang terganggu mentalnya dan mempunyai masalah emosi yang berat.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa psikoterapi disebut dengan istilah terapi kejiwaan, terapi mental, atau terapi pikiran yang merupakan suatu interaksi sistematis antara pasien dan terapis dengan menggunakan prinsip-prinsip psikologis sebagai usaha penyembuhan untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan, dan perilaku, serta digunakan untuk pasien yang terganggu mentalnya dan mempunyai masalah emosi yang berat.

B.   Tujuan Psikoterapi
Psikoterapi didasarkan pada fakta bahwa aspek-aspek mental manusia, seperti cara berpikir, proses emosi, persepsi, believe system, kebiasaan, dan pola perilaku dapat diubah dengan pendekatan psikologis.
Menurut Dr. Maxwell Maltz (dalam Sholeh, 2008), tujuan psikoterapi adalah mengubah gambaran seseorang tentang dirinya sendiri.
Selain tujuan psikoterapi menurut Dr. Maxwell Maltz, berikut ini terdapat beberapa tujuan psikoterapi, yaitu sebagai berikut:
·         Mengembangkan potensi klien.
·         Membantu penyembuhan penyakit fisik.
·         Mengatasi pola perilaku yang terganggu.
·         Mengubah kebiasaan menjadi lebih baik.
·         Memodifikasi struktur kognisi (pola pikiran).
·         Mengurangi atau menghilangkan tekanan emosional.
·         Meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan.
·         Memperoleh pengetahuan tentang diri atau pemahaman diri.
·         Memperkuat motivasi klien untuk melakukan hal yang benar.
·         Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan interaksi sosial.
·         Menghapus, mengubah, atau mengurangi gejala gangguan psikologis.
·         Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian yang positif.

C.   Unsur Psikoterapi
Terdapat beberapa unsur psikoterapi, antara lain adalah sebagai berikut:
1.      Interaksi berlangsung dalam jangka waktu lama.
2.      Interaksi umumnya terbatas pada pertukaran verbal.
3.    Hubungan bertujuan untuk mengubah perilaku tertentu pada klien yang telah disetujui oleh kedua pihak.
4.   Dua individu saling terikat dalam interaksi yang bersifat rahasia, dimana klien akan dibukakan jalan untuk menjadi tahu.

D.   Perbedaan antara Psikoterapi dan Konseling
L. M. Brammer membedakan antara psikoterapi dan konseling. Menurut Brammer, konseling menekankan perencanaan yang lebih bersifat rasional, problem-solving, pembuatan keputusan, intensionalitas, pencegahan dari beberapa penyesuaian diri, dan mendorong timbulnya situasi yang menyenangkan dalam kehidupan sehari-hari bagi orang normal. Sedangkan psikoterapi menekankan intensitas dan tingkat keterlibatan yang lama dan lebih berhubungan dengan pengurangan beberapa permasalahan hidup.
Terdapat beberapa perbedaan yang lain antara psikoterapi dan konseling, yaitu psikoterapi dilakukan secara rutin dalam jangka waktu yang lebih panjang, terfokus pada proses ketidaksadaran dan perubahan struktur kepribadian, serta solusi tidak dapat diperoleh secara langsung, melainkan melalui proses pemahaman diri yang intensif terhadap dinamika masalah kehidupan. Sedangkan konseling dilakukan dalam jangka pendek, terfokus pada permasalahan tertentu, serta membantu individu mengatasi hambatan untuk berkembang.
Selain itu, perbedaannya juga terdapat pada setting dimana setting pada psikoterapi meliputi klinik, rumah sakit, dan praktik pribadi, sementara setting pada konseling meliputi sekolah, universitas, lembaga layanan masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan.

E.   Pendekatan Terhadap Mental Illness
Mental illness merupakan suatu istilah dalam psikologi yang berkaitan dengan suatu gangguan yang bersifat psikis, dimana orang yang mengalami mental illness adalah orang yang sebelumnya sehat, namun karena suatu alasan sehingga mereka terkena suatu penyakit (biasanya bukan merupakan penyakit yang didapat dari lahir).
Terdapat beberapa pandangan yang berkaitan dengan pendekatan mental illness, antara lain:
1.      Biological
Pendekatan terhadap mental illness yang didasarkan pada pandangan biological, dimana gangguan diakibatkan oleh terganggunya faktor-faktor, seperti gen, neurotransmitter, serta struktur dan fungsi otak. Contohnya, seseorang yang mengalam gangguan Schizofrenia, yaitu karena meningkatnya jumlah dopamine di otak dalam kadar yang lebih atau juga karena reseptor dopamine di otak berlebihan atau sangat sensitif, kemudian hilangnya sel-sel otak, serta berkurangnya aktivitas di korteks prefrontal.
2.      Psychological
Pendekatan terhadap mental illness yang didasarkan pada pandangan psychological. Terdapat berbagai macam teori seperti, psikoanalisa yang percaya bahwa pikiran-pikiran yang direpres atau ditekan merupakan sumber perilaku yang tidak normal atau menyimpang, sementara kognitif-behavioristik menyatakan bahwa gangguan diakibatkan oleh ketidakmampuan kognisi dalam meregulasi pikiran, serta humanistik yang melihat bahwa gangguan merupakan kegagalan seorang individu dalam mencapai aktualisasi diri.
3.      Sociological
Pendekatan terhadap mental illness yang didasarkan pada pandangan sociological, melihat faktor eksternal yang dapat mempengaruhi manusia. Menurut paradigma sosial, mental illness merupakan akibat dari meluapnya stress yang diakibatkan oleh faktor lingkungan seperti, lingkungan keluarga, lingkungan pekerjaan, dan masyarakat. Hal yang membedakan pendekatan sosiologis dengan biologis dan psikologis adalah letak sumber masalahnya. Pandangan biologis dan psikologis berasumsi bahwa sumber dari mental illness berasal dari dalam diri manusia, sedangkan sosiologis menyatakan bahwa stresor dari luar yang membuat seseorang terganggu.



TERAPI PSIKOANALISIS
A.   Konsep Dasar Teori Psikoanalisis
Psikoanalisis merupakan salah satu aliran psikologi yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya. Aliran psikoanalisis dari Sigmund Freud berasumsi bahwa energi penggerak awal perilaku manusia berasal dari dalam diri manusia yang terletak jauh di alam bawah sadar dan itulah sebabnya mengapa seringkali banyak penyakit fisik yang disebabkan oleh tertekannya psikologis seseorang. Selain itu, terdapat beberapa konsep dasar teori psikoanalisis dari Freud yang akan dibahas disini.
Konsep pertama mengenai alam bawah sadar (the unconscious). Menurut Freud, dasar skematis jiwa individu terbagi atas tiga bagian, yakni alam sadar (conscious) yang mengandung hal-hal yang disadari, alam pra-sadar (pre-conscious) yang berisi memori yang dapat diingat kembali di alam sadar dengan sedikit upaya, serta alam bawah sadar (unconscious) yang menjadi tempat bagi keinginan, hasrat, pikiran, dan emosi dalam diri individu yang tidak dapat muncul dalam kesadarannya, baik karena menyakitkan ataupun keinginan yang terpendam. Freud sangat menekankan keberadaan alam bawah sadar karena meskipun tidak disadari, alam bawah sadar justru mempengaruhi sebagian besar tingkah laku individu.
Freud mengemukakan bahwa materi dari alam sadar yang berisi hal yang menyakitkan atau diinginkan secara terpendam, didorong ke alam bawah sadar melalui mekanisme represi yang pada intinya merupakan suatu mekanisme yang menutupi pikiran, sikap, dan ingatan dari kesadaran. Akan tetapi, tidak selamanya materi yang berada di alam bawah sadar terepresi karena mengingat dorongannya yang begitu kuat, sehingga ada kemungkinan materi-materi tersebut akan meletup melalui mimpi. Freud menjelaskan hal ini dimungkinkan karena kondisi tidur akan meredusir aktivitas psikis.
Freud juga mengemukakan mengenai tiga struktur kepribadian, yaitu Id, Ego, dan Superego. Struktur kepribadian pertama adalah Id yang sepenuhnya berada di bawah sadar dan berisi insting-insting bawaan dari lahir (innate instict) yang menjadi motivator primer seperti rasa lapar, haus, dan seks. Id memegang Prinsip Kenikmatan (Pleasure Principle) yang berarti bahwa Id berujung pada satu tujuan, yaitu mencapai kepuasan dan menghindari hal yang menyakitkan.
Struktur kepribadian yang kedua adalah Ego yang bertugas menjadi perantara untuk mendamaikan tujuan Id dengan kenyataan yang ada. Ego mengedepankan rasio dan akal dalam bertindak karena memegang Prinsip Kenyataan (Reality Principle). Ego adalah pihak yang berada di antara Id dan Superego. Tugas utama Ego adalah menjembatani tuntutan Id dan Superego.
Sementara struktur kepribadian yang ketiga adalah Superego yang merupakan wujud nilai-nilai yang bersumber dari orang tua. Superego menjadi bagian moral dalam diri individu yang berkembang melalui proses internalisasi Ego terhadap norma-norma masyarakat dan memegang Prinsip Moralistik yang selalu menuntut hal yang ‘ideal’ bukan yang real.
Selain itu, terdapat juga teori tahap perkembangan psikoseksual dari Sigmund Freud. perkembangan psikoseksual merujuk kepada pertumbuhan dan perkembangan fisiologi pada bagian-bagian tertentu tubuh badan anak-anak. Berikut ini adalah tahap-tahap perkembangan psikoseksual Freud, antara lain:
·         Tahap Oral (0 sampai 2 tahun)
Tahap pertama perkembangan psikoseksual manusia. Seorang bayi memperoleh segala bentuk kepuasan dan kenikmatan melalui daerah mulut. Freud menghubungkan daerah mulut dengan kepuasan dan kenikmatan libidinal. Pada usia yang lebih lanjut, bayi berkecenderungan memasukkan suatu objek yang lain ke dalam mulut bagi memuaskan kehendak hatinya.
·         Tahap Anal (2 sampai 3 tahun)
Tahap kedua perkembangan psikoseksual individu. Pusat kenikmatan berubah dari daerah mulut ke daerah anus. Kegiatan penting daerah anus adalah membuang air besar. Apabila anak-anak dapat membuang air besar mengikut cara yang ada padanya, maka anak-anak tersebut akan memperoleh kepuasan yang optimum. Anak-anak juga akan mengalami konflik menahan membuang air besar. Orang tua harus menangani masalah tersebut sesempurna mungkin bagi mengelakkan perasaan negatif di kalangan anak-anak.
·         Tahap Phalic (3 sampai 6 tahun)
Pada tahap ini, anak-anak sudah dapat membandingkan perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan tersebut dikaitkan dengan kegiatan seks.
Pada tahap ini terjadi Oedipus Kompleks pada anak laki-laki dan Electra Kompleks pada anak perempuan. Konflik-konflik ini bercirikan hasrta-hasrat inses untuk memiliki orang tua yang tidak sejenis dan membenci orang tua sejenis. Biasanya konlfik-konflik ini dihentikan dengan cara merepresikan hasrat-hasrat inses dan mengadakan identifikasi dengan orang tua sejenis.
·         Tahap Laten (6 sampai 12 tahun)
Pada tahap ini, anak seolah-olah tidak ada aktivitas seksual. Tahap ini sangat penting dalam pengembangan keterampilan sosial dan komunikasi, serta kepercayaan diri.
·         Tahap Genital (Diatas 12 tahun)
Tahap ini merupakan tahap akhir perkembangan psikoseksual dimana dorongan-dorongan seksual terangsang lagi. Pada tahap ini, individu mengembangkan minat seksual yang kuat pada lawan jenis.

B.   Unsur-Unsur Terapi Psikoanalisis
1.      Munculnya masalah atau gangguan
Untuk lebih mengenal karakteristik penyebab masalah atau gangguan yang dialami klien, maka terapis berusaha memunculkan penyebab-penyebab yang menjadi akar permasalahan atau gangguan dari klien dan kemudian terapis memperkuat kondisi psikis klien agar nantinya bila klien mengalami gangguan, diri klien akan lebih siap menghadapi gangguan yang dialami.
2.      Tujuan terapi
·         Fokus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak.
·   Membentuk kembali struktur karakter individu dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari di dalam diri klien.
3.      Peran terapis
·        Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan klien.
·  Mendengarkan kesenjangan-kesenjangan dan pertentangan-pertentangan pada cerita klien.
·   Membangun hubungan kerja dengan klien, yaitu dengan banyak mendengar dan menafsirkan.
·     Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis.

C.   Teknik Terapi Psikoanalisis
Terdapat beberapa teknik dalam terapi psikoanalisis, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Asosiasi Bebas (free association)
Suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lalu dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi traumatik di masa lalu. Dalam teknik ini, klien diperintahkan untuk duduk santai atau tidur lalu menceritakan semua pengalaman yang terlintas dalam benaknya, baik yang teratur maupun yang tidak, sepele atau penting, logis atau tidak logis, relevan atau tidak, semuanya harus diungkapkan. Asosiasi-asosiasi yang diucapkan itu kemudian ditafsirkan sebagai pengungkapan tersamar pengalaman-pengalaman yang direpres.
2.      Penafsiran
Suatu prosedur dalam menganalisa asosiasi-asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi. Bentuknya adalah tindakan analisis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku.
3.      Analisis Mimpi
Suatu prosedur yang penting untuk menyingkap bahan-bahan yang tidak disadari dan memberikan kepada klien atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Freud memandang mimpi sebagai jalan utama menuju ke alam tidak sadar karena isi mimpi ditentukan oleh keinginan-keinginan yang direpres. Keinginan-keinginan tersebut muncul lagi dalam bentuk simbol sebagai jalan menuju pemuasan.
4.      Analisis Resistensi
Ditujukan untuk membantu klien agar menyadari alasan-alasan yang ada dibalik resistensi, sehingga klien bisa menanganinya.
5.      Analisis Transferensi
Teknik utama dalam psikoanalisis karena mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lalunya dalam terapi. Terapi ini terjadi jika dalam pertemuan terapi terungkap adanya displacement dalam diri klien. Hal tersebut terjadi kalau klien mengalihkan sasaran perasaan cinta atau bencinya kepada terapeuti yang menanganinya. Transferensi itu menunjukkan kebutuhan klien untuk mengekspresikan kebutuhannya. Semua ini berlangsung secara tidak sadar, terapeut sering menjadi sasaran atau pengganti. Disini terapeut berusaha untuk menjelaskan perasaan-perasaan yang sedang dialami atau yang diekspresikannya pada terapeut, sehingga klien memiliki satu pemahaman yang lengkap mengenai kesulitan yang sedang dialami.


Referensi :
Apa itu psikoterapi?. Diakses dari http://www.psikoterapis.com/?en_apa-itu-psikoterapi-,6.
Hashim, S., Jantan, R., & Razali, M. (2003). Psikologi pendidikan. Kuala Lumpur: PTS Professional Publishing Sdn. Bhd.
Matthewa, Andrew. (1997). Being happy! Kiat hidup tenteram dan bahagia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Naisaban, Ladislaus. (2004). Para psikolog terkemuka dunia (riwayat hidup, pokok pikiran, dan karya). Jakarta: Grasindo.
Putri, Herlin. Bab II: Kerangka teori. Diakses dari lib.ui.ac.id/file?file=digital/127142-RB09P440m-Mimpi%20tokoh...pdf.
Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta: Kanisius.
Semiun, Yustinus. (2006). Teori kepribadian dan terapi psikoanalitik Freud. Yogyakarta: Kanisius.
Sholeh, M. (2008). Bertobat sambil berobat: Rahasia ibadah untuk mencegah dan menyembuhkan berbagai penyakit. Jakarta: Hikmah.
Tjandra, Olivia. Psikoterapi: ‘Bengkel’ perkembangan kepribadian. Diakses dari psi442.weblog.esaunggul.ac.id/wp.../sites/.../Psikoterapi-Pertemuan-2.ppt.
Wijaya, Fahri. Teori psikoanalisa dari Sigmund Freud. Diakses pada tahun 2013 dari http://www.wivrit.com/2013/07/teori-psikoanalisa-dari-sigmund-freud.html.
Wolberg, L, R. (1967). The technique of psychotherapy. New York: Grune & Stratton.