Minggu, 22 Mei 2016

Tugas 3 Psikoterapi

RATIONAL EMOTIVE THERAPY (ELLIS)
Diperkenalkan pada tahun 1955 oleh Albert Ellis yang lahir pada tanggal 27 September 1913. Terapi rasional-emotif menurut Ellis mendasarkan pada pada konsep bahwa berpikir dan berperasaan saling berkaitan, namun dalam pendekatannya lebih menitikberatkan pada pikiran daripada ekspresi emosi seseorang.
A.      Konsep Utama Rational Emotive Therapy
Rational Emotive Therapy (RET) adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Rational Emotive Therapy (RET) menegaskan bahwa manusia memiliki sumber-sumber yang tidak terhingga bagi aktualisasi potensi-potensi dirinya dan bisa mengubah ketentuan-ketentuan pribadi dan masyarakatnya. Menurut Rational Emotive Therapy (RET), manusia dilahirkan dengan kecenderungan untuk mendesakkan pemenuhan keinginan-keinginan, tuntutan-tuntutan, hasrat-hasrta, dan kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya. Jika tidak segera mencapai apa yang diinginkannya, manusia mempersalahkan dirinya sendiri ataupun orang lain. Rational Emotive Therapy (RET) menekankan bahwa manusia berpikir, beremosi, dan bertindak secara stimultan. Jarang manusia beremosi tanppa berpikir, sebab perasaan-perasaan biasanya dicetuskan oleh persepsi atas situasi yang spesifik.
Pandangan Ellis (1980) terhadap konsep manusia adalah:
1.  Manusia mengkondisioning diri sendiri terhadap munculnya perasaan yang mengganggu pribadinya.
2.    Kecenderungan biologisnya sama halnya dengan kecenderungan kultural untuk berpikir salah dan tidak ada gunanya, berakibat mengecewakan diri sendiri.
3.   Kemanusiaannya yang unik untuk menemukan dan mencipta keyakinan yang salah, yang mengganggu, sama halnya dengan kecenderungan mengecewakkan dirinya sendiri karena gangguan-gangguannya.
4.      Kemampuannya yang luar biasa untuk mengubah proses-proses kognitif, emosi dan perilaku, memungkinkan dapat:
a.       Memilih reaksi yang berbeda dengan yang biasanya dilakukan.
b.    Menolak mengecewakan diri sendiri terhadap hampir semua hal yang mungkin terjadi.
c.  Melatih diri sendiri agar secara setengah otomatis mempertahankan gangguan sesedikit mungkin sepanjang hidupnya.


B.       Tujuan Rational Emotive Therapy
Ellis mengemukakan bahwa banyak jalan yang digunakan dalam Rational Emotive Therapy (RET) yang diarahkan pada satu tujuan utama: “Meminimalkan pandangan yang mengalahkan diri dari pasien dan membanru pasien untuk memperoleh filsafat hidup yang lebih realistik”.
Rational Emotive Therapy (RET) mempergunakan pendekatan langsung untuk “menyerang” dan menghilangkan pikiran-pikiran yang tidak rasional dan menggantinya dengan pikiran yang rasional dan logis.

C.      Peran Terapis
Mengenai peran dan kegiatan terapis menurut Ellis adalah:
1.    Bawalah pasien sampai pada akar persoalannya yang menimbulkan pikiran tidak rasional dan yang menimbulkan gangguan pada perilaku.
2.      Doronglah pasien agar mengemukakan pikiran-pikirannya.
3.      Tunjukkan pada pasien dasar dari cara berpikirnya yang tidak logis.
4.    Pergunakan analisis-logis untuk mengurangi keyakinan-keyakinan yang tidak rasional.
5.    Kemukakan kepada pasien bagaimana keyakinan-keyakinan ini tidak jalan dan bagaimana hal tersebut akan menimbulkan gangguan emosi maupun perilaku di kemudian hari.
6.      Pergunakan humor atau cara lain yang mungkin dirasakan aneh-aneh atau yang bukan-bukan seperlunya, untuk menghadapi cara berpikir pasien yang tidak rasional.
7.     Jelaskan bagaimana pikiran-pikiran ini dapat diganti dengan pikiran lain yang lebih rasional dan yang memiliki dasar empirik yang kuat.
8.  Ajarlah pasien bagaimana mempergunakan pendekatan ilmiah dalam proses berpikirnya, sehingga mereka dapat mengamati dan kemudian mengurangi cara berpikir yang tidak rasional dan logis yang dapat menimbulkan kesulitan dalam dirinya di kemudian hari.

D.      Teknik-Teknik Rational Emotive Therapy
1.      Cognitive Method
Rational Emotive Therapy (RET) sangat bergantung pada pemikiran, berselisih, berdebat, menantang, menafsirkan, menjelaskan, dan pengajaran. Berikut ini adalah beberapa teknik kognitif yang dapat dilakukan oleh terapis, yaitu:
a.       Disputing of Irrational Beliefs
Metode kognitif yang paling umum dari Rational Emotive Therapy (RET) dan terdiri dari aktif/direktif menentang keyakinan irasional klien. Terapis menunjukkan kepada klien bahwa mereka terganggu bukan karena peristiwa atau situasi tertentu, tetapi karena persepsi klien tentang peristiwa dan karena sifat serta pernyataan terhadap diri mereka.
b.      Cognitive Homework
Klien diberikan tugas yang merupakan cara untuk melacak keharusan absolut yang merupakan bagian dari diri mereka.
c.       Client’s Disputing of an Irrational Belief
Dengan teknik ini, klien melakukan satu hal yang menjadi irasionalitas utama setiap hari selama sedikitnya sepuluh menit. Klien melakukan hal tersebut sampai keyakinan irasional tidak lagi berusaha ditahan, atau sampai berkurang.
d.      Bibliotherapy
Dalam teknik ini klien diminta untuk membaca literatur rasional-emotif yang dirancang untuk membantu mereka dalam proses restrukturisasi kognitif.
e.       Employing New Self-Statements
Setelah klien belajar untuk melawan keyakinan merusak diri sendiri, kemudian melakukan pengajaran yang mengarah ke pernyataan rasional dan asumsi yang konstruktif.
2.      Emotive Techniques
Secara emotif, terapis menggunakan berbagai prosedur termasuk penerimaan tanpa syarat, rasional-emotif bermain peran, modeling, self-statements, citra rasional-emotif, dan latihan menyerang rasa malu. Klien diajarkan untuk menilai penerimaan diri tanpa syarat. Salah satu teknik utama mengajar klien penerimaan diri adalah modeling.
3.      Behavioral Techniques
Terapis biasanya menggunakan operant conditioning, self-management principles, systematic desensitization, instrumental conditioning, biofeedback, teknik relaksasi, dan modelling. Klien benar-benar melakukan hal-hal baru dan sulit, serta dengan cara ini mereka menempatkan pengetahuan mereka dengan bentuk tindakan nyata.



TERAPI PERILAKU (BEHAVIOUR THERAPY)
Secara formal didefinisikan, terapi perilaku adalah penggunaan prinsip dan paradigma belajar yang ditetapkan secara eksperimental untuk mengatasi perilaku tidak adaptif. Dalam prakteknya, apa yang lazim untuk semua terapi perilaku adalah penekanan pada analisis perilaku untuk menguji secara sistematik hipotesis atas mana terapi didasarkan.
A.      Konsep Utama Terapi Perilaku (Behaviour Therapy)
Behaviorisme adalah suatu pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia. Dalil dasarnya adalah bahwa tingkah laku itu tertib dan bahwa eksperimen yang dikendalikan dengan cermat akan menyingkap hukum-hukum yang mengendalikan tingkah laku. Pendekatan behavioristik yidak menguraikan asumsi-asumsi filosofis tertentu tentang manusia secara langsung. Setiap orang dipandang memiliki kecenderungan-kecenderungan positif dan negatif yang sama. Terapi perilaku kontemporer bukanlah suatu pendekatan yang sepenuhnya deterministik dan mekanistik yang menyingkirkan potensi para klien untuk memilih. Terapi perilaku tidak berlandaskan sekumpulan konsep yang sistematik, juga tidak berakar pada suatu teori yang dikembangkan dengan baik. Pada dasarnya, terapi perilaku diarahkan pada tujuan-tujuan memperoleh perilaku baru, penghapusan perilaku yang maladaptif, serta memperkuat dan mempertahankan perilaku yang diinginkan.

B.       Tujuan Terapi Perilaku (Behaviour Therapy)
Tujuan umum terapi perilaku adalah menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar. Dasar alasannya, yaitu bahwa segenap perilaku adalah dipelajari (learned), termasuk perilaku yang maladaptif. Jika perilaku neurotik learned, maka ia bisa unlearned (dihapus dari ingatan), dan perilaku yang lebih efektif dapat diperoleh.
Krumboltz dan Thorensen mengembangkan tiga kriteria bagi perumusan tujuan yang dapat diterima dalam konsleingn perilaku, yaitu:
1.      Tujuan yang dirumuskan haruslah tujuan yang ingin dicapai oleh klien.
2.      Konselor harus bersedia membantu klien dalam mencapai tujuan.
3.  Harus terdapat kemungkinan untuk menaksirkan sejauh mana klien dapat mencapai tujuannya.

C.      Fungsi dan Peran Terapis
Terapis perilaku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, dan ahli dalam mendiagnosa perilaku yang maladaptif dan dalam menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan serta mengarah pada perilaku yang baru dan adjustive. Krasner mengajukan argumen bahwa peran seorang terapis sesungguhnya adalah “mesin perkuatan”. Apapun yang dilakukannya, terapis pada dasarnya terlibat dalam pemberian perkuatan-perkuatan sosial, baik yang positif maupun negatif. Goodstein juga menyebutkan peran terapis sebagai pemberi perkuatan.

D.      Teknik-Teknik Terapi Perilaku (Behaviour Therapy)
1.      Desensitisasi Sistematis
Digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan pemunculan perilaku atau proses yang berlawanan dengan perilaku yang hendak dihapuskan itu. Desensitisasi diarahkan pada mengajar klien untuk menampilkan suatu respons yang tidak konsisten dengan kecemasan. Desensitisasi sistematik juga melibatkan teknik-teknik relaksasi. Desensitisasi sistematik adalah teknik teknik yang cocok untuk menangani fobia-fobia. Selain itu, desensitisasi sistematik dapat diterapkan secara efektif pada berbagai situasi penghasil kecemasan, mencakup situasi interpersonal, ketakutan menghadapi ujian, ketakutan-ketakutan yang digeneralisasi, kecemasan-kecemasan neurotik, serta impotensi dan frigiditas seksual.
2.      Terapi Implosif
Terapi implosif berasumsi bahwa tingkah laku neurotik melibatkan penghindaran terkondisi atas stimulus-stimulus penghasil kecemasan. Alasan yang digunakan oleh teknik ini adalah bahwa jika seseorang secara berulang-ulang dihadapkan pada suatu situasi penghasil kecemasan dan konsekuensi-konsekuensi yang menakutkan tidak muncul, maka kecemasan akan tereduksi atau terhapus.
3.      Latihan Asertif
Diterapkan terutama pada situasi-situasi interpersonal dimana individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakan yang layak atau benar. Latihan asertif akan membantu bagi orang-orang yag tidak mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung, menunjukkan kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya, memiliki kesulitan untuk mengatakan “tidak”, mengalami kesulitan untuk mengungkapkan afeksi dan respons-respons positif lainnya, merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran sendiri.
4.      Terapi Aversi
Melibatkan pengasosian perilaku simtomatik dengan suatu stimulus yang menyakitkan sampai perilaku yang tidak diinginkan terhambat kemunculannya. Stimulus aversi biasanya berupa hukuman dengan kejutan listrik atau pemberian ramuan yang membuat mual.
5.      Token Ekonomi
Dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku apabila persetujuan dan pemerkuat yang tidak bisa diraba lainnya tidak memberikan pengaruh. Dalam token ekonomi, perilaku yang layak dapat diperkuat dengan perkuatan yang nyata yang nantinya bisa ditukarkan dengan objek atau hak istimewa yang diinginkan. Tujuan dari prosedur ini adalah mengubah motivasi yang ekstrinsik menjadi motivasi yang intrinsik.



TERAPI KELOMPOK (GROUP THERAPY)
Menurut Guze, Richeimer, dan Siegel, terapi kelompok merupakan setiap pengumpulan dari orang yang lazimnya bertemu secara teratur, biasanya dengan pemimpin yang terlatih untuk menangani masalah psikologik atau pertumbuhan pribadi mereka. Terapi kelompok membentuk perubahan terhadap klien, khususnya perubahan perilaku di dalam kelompok. Pendekatan khusus yang digunakan oleh terapis atau pemimpin kelompok terhadap perawatan tergantung pada orientasi teoretis dari terapis atau pemimpin kelompok.
A.      Metode Terapi Kelompok (Group Therapy)
Dalam praktek, terapi kelompok sangat bervariasi seperti halnya dengan terapi individual. Bentuk-bentuk paling awal terapi kelompok bersifat didaktis dimana pemimpin kelompok berceramah, meyakinkan, dan mengarahkan. Karena adanya perkembangan-perkembangan baru di bidang ini, pemimpin kelompok menjalankan fungsi yang sama untuk kelompok sama seperti yang dilakukan oleh terapis individual bagi pasiennya. Dia mendorong, mengungkapkan, memeriksa motif-motif, memberikan penafsiran-penafsiran, dan sedikit demi sedikit membangkitkan partisipasi masing-masing anggota kelompok dalam fungsi ini.

B.       Kegunaan Terapi Kelompok (Group Therapy)
Partisipasi dalam pengalaman kelompok seperti itu akan menghilangkan perasaan-perasaan terisolasi dalam diri pasien dan keunikan dari penyakitnya, dan dengan demikian menghilangkan kecemasan-kecemasannya dan mendorongnya untuk membicarakan perasaan-perasaan batinnya dengan sepenuh hati. Partisipasi pasien dalam terapi kelompok memberi kemungkinan kepadanya melepaskan tegangan dan mengalami abreaksi karena menghidupkan kembali sejumlah kejadian yang mengandung emosi. Dalam beberapa bentuk terapi kelompok yang lebih intensif, analisis hubungan transferensi (transference relationship) yang berkembang dalam kelompok akan terjadi.

C.      Bentuk-Bentuk Terapi Kelompok (Group Therapy)
Terapi kelompok terdiri atas beberapa bentuk, antara lain:
1.      Kelompok Eksplorasi Interpersonal
Tipe ini merupakan tipe yang paling umum dilakukan. Tujuannya adalah mengembangkan kesadaran diri tentang gaya hubungan interpersonal melalui umpan balik korektif dari anggota kelompok yang lain. Pasien diterima dan didukung. Oleh karena itu, dapat meningkatkan harga diri.
2.      Kelompok Bimbingan-Inspirasi
Kelompok yang sangat terstruktur, kohesif, mendukung, yang meminimalkan pentingnya tilikan, dan memaksimalkan nilai diskusi di dalam kelompok dan persahabatan. Anggota kelompok dipilih seringkali karena mereka mempunyai problem yang sama.
3.      Terapi Berorientasi Psikoanalitik
Suatu teknik kelompok dengan struktur yang longgar, terapis melakukan interpretasi tentang konflik nirsadar pasien dan memprosesnya dari observasi interaksi antar anggota kelompok.

D.      Teknik-Teknik Terapi Kelompok (Group Therapy)
1.      Psychodrama Techniques
Pasien didorong untuk memainkan suatu peran emosional di depan para penonton tanpa dia sendiri dilatih sebelumnya. Tujuannya adalah membantu seorang pasien atau sekelompok pasien untuk mengatasi masalah-masalah pribadi dengan menggunakan permainan peran, drama, atau terapi tindakan. Melalui cara-cara ini pasien dibantu untuk mengungkapkan perasaan-perasaan tentang konflik, kemarahan, agresi, perasaan bersalah, dan kesedihan.
2.      T-Group Techniques
Salah satu kontribusi utama dari Training (T) kelompok untuk para klien adalah memahami proses pengambilan keputusan mereka sendiri. Kelompok diminta untuk berdiskusi mengenai pengalaman mereka, mengeksplorasi pola kepemimpinan, resolusi konflik, dan proses pengambilan keputusan.
3.      Encounter Techniques
Bertujuan untuk membantu mengembangkan kesadaran diri dengan berfokus pada cara bagaimana para anggota kelompok berhubungan satu sama lain dalam suatu situasi dimana didorong untuk mengungkapkan perasaan-perasaan secara terus-terang. Hanya ditujukan kepada orang yang menyesuaikan diri dengan baik, berusaha memajukan pertumbuhan pribadi, meningkatkan kesadaran mengenai kebutuhan-kebutuhan dan peresaan-perasaan mereka sendiri serta cara-cara mereka berhubungan dengan orang lain.
4.      Behavioral Techniques
Banyak teknik behavior seperti modelling, pelatihan keterampilan, memecahkan masalah dan relaksasi juga digunakan dalam terapi kelompok. Peserta akan mendapatkan ide-ide untuk bagaimana menangani situasi. Situasi dapat dilatih berulang-ulang sampai peserta merasa puas dengan kemampuannya untuk berperilaku asertif.
5.      Dance and Art Therapy
Teknik ini akan mendorong kesadaran tubuh, gerakan kreatif, dan interpersonal empati. Anggota kelompok berpasang-pasangan, kemudian satu orang mengambil peran sebagai pemimpin dan pengikutnya mencoba untuk menjadi bayangan cermin dari pemimpin dan mengikuti bayangan pemimpin semirip mungkin. Mematung adalah teknik terapi seni dimana peserta diminta untuk mematung yang merupakan representasi dari diri mereka sendiri, keluarga mereka, dunia mereka, masalah mereka, dan kemudian menceritakan hasil dengan anggota kelompok lainnya.




Referensi
Brammer, L. M. (1994). Therapeutic psychology fundamentals of counseling and psychoterapy. Fifth edition New Jersey: Prentice Hall.
Corey, G. (2009). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.
Gunarsa, S. D. (2007). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia.
Guze, B., Richeimer, S., Siegel, D. J. (1994). Buku saku psikiatri. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Semiun, Y. (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta: Kanisius.

Tomb, D. A. (2003). Buku saku psikiatri, edisi 6. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.