Kamis, 17 Maret 2016

Tulisan 1 Psikoterapi

TULISAN

Contoh Kasus yang Dapat Diterapkan Dengan Terapi Psikoanalisis

Mira adalah seorang gadis kecil yang lucu dan ceria. Mira hidup bersama kedua orang tuanya dan kedua kakaknya, namun di usianya yang beranjak 6 tahun ada kejadian yang membuatnya sering sekali ketakutan apalagi pada saat dekat dengan ayahnya, karena Mira sering melihat perlakuan ayahnya yang tidak senonoh pada kedua kakaknya dan juga pada ibunya. Karena kejadian itu, ada banyak rasa kekecewaan hingga membuatnya sering mengalami ketakutan yang berlebihan. Dia tidak menyangka sesosok pria yang selama ini  dia banggakan hanya dapat menyakiti seorang wanita. Karena rasa sakit yang timbul dalam hatinya mulai merasuk ke dalam jiwa dan menjadikan Mira trauma atau ketakutan yang berlebihan dibawah alam sadar akan sesuatu hal. Semenjak kejadian itu, akhirnya Mira mulai menutup dirinya terlebih pada seorang pria. Dan setiap ada pria yang mencoba mendekatinya, Mira selalu bersikap cuek dan seakan tidak peduli pada perasaan mereka. Karena masih sering terbayang-bayang akan masa lalu yang dialami oleh ibu dan kedua kakaknya, sehingga ia takut untuk menjalin hubungan dengan seorang pria. Mira lebih memilih untuk dekat dan menjalin hubungan dengan seorang wanita, karena ia merasa adanya kepuasan dan kenyaman batin bila bersama seorang wanita.


Penerapan Terapi Psikoanalisis
Dalam kasus diatas, dapat disimpulkan Mira mengalami trauma terhadap laki-laki. Trauma ini dapat dibantu dengan terapi psikoanalisis, yaitu dengan menggunakan teknik asosiasi bebas dimana klien diperintahkan untuk duduk santai atau tidur lalu menceritakan semua pengalaman yang terlintas dalam benaknya dan semuanya harus diungkapkan. Asosiasi bebas merupakan metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lalu dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi traumatik di masa lalu. Disini terapis berusaha untuk terus menggali informasi terkait dengan kejadian-kejadian yang membuat klien trauma, sehingga klien dapat terpancing emosinya dan kemudian klien diberikan katarsis atau pelampiasan seperti misalnya berteriak sekeras-kerasnya atau diberikan boneka untuk digunakan sebagai pelampiasan kemarahan klien yang akan membuat klien merasa lebih lega nantinya. Dengan teknik ini, klien dapat mengekspresikan rasa marah, sedih, dan rasa takut yang dirasakannya akibat pengalaman masa lalu yang membuatnya menjadi trauma.


Referensi Contoh Kasus:
http://dokumen.tips/documents/contoh-kasus-psikoanalisis.html

Tugas 1 Psikoterapi

PENGANTAR
A.   Pengertian Psikoterapi
Psikoterapi merupakan usaha penyembuhan untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan, dan perilaku. Psikoterapi (Psychotherapy) berasal dari dua kata, yaitu "Psyche" yang artinya jiwa, pikiran atau mental dan "Therapy" yang artinya penyembuhan, pengobatan atau perawatan. Oleh karena itu, psikoterapi disebut juga dengan istilah terapi kejiwaan, terapi mental, atau terapi pikiran.
Psikoterapi juga merupakan suatu interaksi sistematis antara pasien dan terapis yang menggunakan prinsip-prinsip psikologis untuk membantu menghasilkan perubahan dalam tingkah laku, pikiran, dan perasaan pasien supaya membantu pasien mengatasi tingkah laku abnormal dan memecahkan masalah-masalah dalam hidup atau berkembang sebagai seorang individu. Psikoterapi juga digunakan untuk pasien yang terganggu mentalnya dan mempunyai masalah emosi yang berat.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa psikoterapi disebut dengan istilah terapi kejiwaan, terapi mental, atau terapi pikiran yang merupakan suatu interaksi sistematis antara pasien dan terapis dengan menggunakan prinsip-prinsip psikologis sebagai usaha penyembuhan untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan, dan perilaku, serta digunakan untuk pasien yang terganggu mentalnya dan mempunyai masalah emosi yang berat.

B.   Tujuan Psikoterapi
Psikoterapi didasarkan pada fakta bahwa aspek-aspek mental manusia, seperti cara berpikir, proses emosi, persepsi, believe system, kebiasaan, dan pola perilaku dapat diubah dengan pendekatan psikologis.
Menurut Dr. Maxwell Maltz (dalam Sholeh, 2008), tujuan psikoterapi adalah mengubah gambaran seseorang tentang dirinya sendiri.
Selain tujuan psikoterapi menurut Dr. Maxwell Maltz, berikut ini terdapat beberapa tujuan psikoterapi, yaitu sebagai berikut:
·         Mengembangkan potensi klien.
·         Membantu penyembuhan penyakit fisik.
·         Mengatasi pola perilaku yang terganggu.
·         Mengubah kebiasaan menjadi lebih baik.
·         Memodifikasi struktur kognisi (pola pikiran).
·         Mengurangi atau menghilangkan tekanan emosional.
·         Meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan.
·         Memperoleh pengetahuan tentang diri atau pemahaman diri.
·         Memperkuat motivasi klien untuk melakukan hal yang benar.
·         Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan interaksi sosial.
·         Menghapus, mengubah, atau mengurangi gejala gangguan psikologis.
·         Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian yang positif.

C.   Unsur Psikoterapi
Terdapat beberapa unsur psikoterapi, antara lain adalah sebagai berikut:
1.      Interaksi berlangsung dalam jangka waktu lama.
2.      Interaksi umumnya terbatas pada pertukaran verbal.
3.    Hubungan bertujuan untuk mengubah perilaku tertentu pada klien yang telah disetujui oleh kedua pihak.
4.   Dua individu saling terikat dalam interaksi yang bersifat rahasia, dimana klien akan dibukakan jalan untuk menjadi tahu.

D.   Perbedaan antara Psikoterapi dan Konseling
L. M. Brammer membedakan antara psikoterapi dan konseling. Menurut Brammer, konseling menekankan perencanaan yang lebih bersifat rasional, problem-solving, pembuatan keputusan, intensionalitas, pencegahan dari beberapa penyesuaian diri, dan mendorong timbulnya situasi yang menyenangkan dalam kehidupan sehari-hari bagi orang normal. Sedangkan psikoterapi menekankan intensitas dan tingkat keterlibatan yang lama dan lebih berhubungan dengan pengurangan beberapa permasalahan hidup.
Terdapat beberapa perbedaan yang lain antara psikoterapi dan konseling, yaitu psikoterapi dilakukan secara rutin dalam jangka waktu yang lebih panjang, terfokus pada proses ketidaksadaran dan perubahan struktur kepribadian, serta solusi tidak dapat diperoleh secara langsung, melainkan melalui proses pemahaman diri yang intensif terhadap dinamika masalah kehidupan. Sedangkan konseling dilakukan dalam jangka pendek, terfokus pada permasalahan tertentu, serta membantu individu mengatasi hambatan untuk berkembang.
Selain itu, perbedaannya juga terdapat pada setting dimana setting pada psikoterapi meliputi klinik, rumah sakit, dan praktik pribadi, sementara setting pada konseling meliputi sekolah, universitas, lembaga layanan masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan.

E.   Pendekatan Terhadap Mental Illness
Mental illness merupakan suatu istilah dalam psikologi yang berkaitan dengan suatu gangguan yang bersifat psikis, dimana orang yang mengalami mental illness adalah orang yang sebelumnya sehat, namun karena suatu alasan sehingga mereka terkena suatu penyakit (biasanya bukan merupakan penyakit yang didapat dari lahir).
Terdapat beberapa pandangan yang berkaitan dengan pendekatan mental illness, antara lain:
1.      Biological
Pendekatan terhadap mental illness yang didasarkan pada pandangan biological, dimana gangguan diakibatkan oleh terganggunya faktor-faktor, seperti gen, neurotransmitter, serta struktur dan fungsi otak. Contohnya, seseorang yang mengalam gangguan Schizofrenia, yaitu karena meningkatnya jumlah dopamine di otak dalam kadar yang lebih atau juga karena reseptor dopamine di otak berlebihan atau sangat sensitif, kemudian hilangnya sel-sel otak, serta berkurangnya aktivitas di korteks prefrontal.
2.      Psychological
Pendekatan terhadap mental illness yang didasarkan pada pandangan psychological. Terdapat berbagai macam teori seperti, psikoanalisa yang percaya bahwa pikiran-pikiran yang direpres atau ditekan merupakan sumber perilaku yang tidak normal atau menyimpang, sementara kognitif-behavioristik menyatakan bahwa gangguan diakibatkan oleh ketidakmampuan kognisi dalam meregulasi pikiran, serta humanistik yang melihat bahwa gangguan merupakan kegagalan seorang individu dalam mencapai aktualisasi diri.
3.      Sociological
Pendekatan terhadap mental illness yang didasarkan pada pandangan sociological, melihat faktor eksternal yang dapat mempengaruhi manusia. Menurut paradigma sosial, mental illness merupakan akibat dari meluapnya stress yang diakibatkan oleh faktor lingkungan seperti, lingkungan keluarga, lingkungan pekerjaan, dan masyarakat. Hal yang membedakan pendekatan sosiologis dengan biologis dan psikologis adalah letak sumber masalahnya. Pandangan biologis dan psikologis berasumsi bahwa sumber dari mental illness berasal dari dalam diri manusia, sedangkan sosiologis menyatakan bahwa stresor dari luar yang membuat seseorang terganggu.



TERAPI PSIKOANALISIS
A.   Konsep Dasar Teori Psikoanalisis
Psikoanalisis merupakan salah satu aliran psikologi yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya. Aliran psikoanalisis dari Sigmund Freud berasumsi bahwa energi penggerak awal perilaku manusia berasal dari dalam diri manusia yang terletak jauh di alam bawah sadar dan itulah sebabnya mengapa seringkali banyak penyakit fisik yang disebabkan oleh tertekannya psikologis seseorang. Selain itu, terdapat beberapa konsep dasar teori psikoanalisis dari Freud yang akan dibahas disini.
Konsep pertama mengenai alam bawah sadar (the unconscious). Menurut Freud, dasar skematis jiwa individu terbagi atas tiga bagian, yakni alam sadar (conscious) yang mengandung hal-hal yang disadari, alam pra-sadar (pre-conscious) yang berisi memori yang dapat diingat kembali di alam sadar dengan sedikit upaya, serta alam bawah sadar (unconscious) yang menjadi tempat bagi keinginan, hasrat, pikiran, dan emosi dalam diri individu yang tidak dapat muncul dalam kesadarannya, baik karena menyakitkan ataupun keinginan yang terpendam. Freud sangat menekankan keberadaan alam bawah sadar karena meskipun tidak disadari, alam bawah sadar justru mempengaruhi sebagian besar tingkah laku individu.
Freud mengemukakan bahwa materi dari alam sadar yang berisi hal yang menyakitkan atau diinginkan secara terpendam, didorong ke alam bawah sadar melalui mekanisme represi yang pada intinya merupakan suatu mekanisme yang menutupi pikiran, sikap, dan ingatan dari kesadaran. Akan tetapi, tidak selamanya materi yang berada di alam bawah sadar terepresi karena mengingat dorongannya yang begitu kuat, sehingga ada kemungkinan materi-materi tersebut akan meletup melalui mimpi. Freud menjelaskan hal ini dimungkinkan karena kondisi tidur akan meredusir aktivitas psikis.
Freud juga mengemukakan mengenai tiga struktur kepribadian, yaitu Id, Ego, dan Superego. Struktur kepribadian pertama adalah Id yang sepenuhnya berada di bawah sadar dan berisi insting-insting bawaan dari lahir (innate instict) yang menjadi motivator primer seperti rasa lapar, haus, dan seks. Id memegang Prinsip Kenikmatan (Pleasure Principle) yang berarti bahwa Id berujung pada satu tujuan, yaitu mencapai kepuasan dan menghindari hal yang menyakitkan.
Struktur kepribadian yang kedua adalah Ego yang bertugas menjadi perantara untuk mendamaikan tujuan Id dengan kenyataan yang ada. Ego mengedepankan rasio dan akal dalam bertindak karena memegang Prinsip Kenyataan (Reality Principle). Ego adalah pihak yang berada di antara Id dan Superego. Tugas utama Ego adalah menjembatani tuntutan Id dan Superego.
Sementara struktur kepribadian yang ketiga adalah Superego yang merupakan wujud nilai-nilai yang bersumber dari orang tua. Superego menjadi bagian moral dalam diri individu yang berkembang melalui proses internalisasi Ego terhadap norma-norma masyarakat dan memegang Prinsip Moralistik yang selalu menuntut hal yang ‘ideal’ bukan yang real.
Selain itu, terdapat juga teori tahap perkembangan psikoseksual dari Sigmund Freud. perkembangan psikoseksual merujuk kepada pertumbuhan dan perkembangan fisiologi pada bagian-bagian tertentu tubuh badan anak-anak. Berikut ini adalah tahap-tahap perkembangan psikoseksual Freud, antara lain:
·         Tahap Oral (0 sampai 2 tahun)
Tahap pertama perkembangan psikoseksual manusia. Seorang bayi memperoleh segala bentuk kepuasan dan kenikmatan melalui daerah mulut. Freud menghubungkan daerah mulut dengan kepuasan dan kenikmatan libidinal. Pada usia yang lebih lanjut, bayi berkecenderungan memasukkan suatu objek yang lain ke dalam mulut bagi memuaskan kehendak hatinya.
·         Tahap Anal (2 sampai 3 tahun)
Tahap kedua perkembangan psikoseksual individu. Pusat kenikmatan berubah dari daerah mulut ke daerah anus. Kegiatan penting daerah anus adalah membuang air besar. Apabila anak-anak dapat membuang air besar mengikut cara yang ada padanya, maka anak-anak tersebut akan memperoleh kepuasan yang optimum. Anak-anak juga akan mengalami konflik menahan membuang air besar. Orang tua harus menangani masalah tersebut sesempurna mungkin bagi mengelakkan perasaan negatif di kalangan anak-anak.
·         Tahap Phalic (3 sampai 6 tahun)
Pada tahap ini, anak-anak sudah dapat membandingkan perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan tersebut dikaitkan dengan kegiatan seks.
Pada tahap ini terjadi Oedipus Kompleks pada anak laki-laki dan Electra Kompleks pada anak perempuan. Konflik-konflik ini bercirikan hasrta-hasrat inses untuk memiliki orang tua yang tidak sejenis dan membenci orang tua sejenis. Biasanya konlfik-konflik ini dihentikan dengan cara merepresikan hasrat-hasrat inses dan mengadakan identifikasi dengan orang tua sejenis.
·         Tahap Laten (6 sampai 12 tahun)
Pada tahap ini, anak seolah-olah tidak ada aktivitas seksual. Tahap ini sangat penting dalam pengembangan keterampilan sosial dan komunikasi, serta kepercayaan diri.
·         Tahap Genital (Diatas 12 tahun)
Tahap ini merupakan tahap akhir perkembangan psikoseksual dimana dorongan-dorongan seksual terangsang lagi. Pada tahap ini, individu mengembangkan minat seksual yang kuat pada lawan jenis.

B.   Unsur-Unsur Terapi Psikoanalisis
1.      Munculnya masalah atau gangguan
Untuk lebih mengenal karakteristik penyebab masalah atau gangguan yang dialami klien, maka terapis berusaha memunculkan penyebab-penyebab yang menjadi akar permasalahan atau gangguan dari klien dan kemudian terapis memperkuat kondisi psikis klien agar nantinya bila klien mengalami gangguan, diri klien akan lebih siap menghadapi gangguan yang dialami.
2.      Tujuan terapi
·         Fokus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak.
·   Membentuk kembali struktur karakter individu dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari di dalam diri klien.
3.      Peran terapis
·        Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan klien.
·  Mendengarkan kesenjangan-kesenjangan dan pertentangan-pertentangan pada cerita klien.
·   Membangun hubungan kerja dengan klien, yaitu dengan banyak mendengar dan menafsirkan.
·     Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis.

C.   Teknik Terapi Psikoanalisis
Terdapat beberapa teknik dalam terapi psikoanalisis, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Asosiasi Bebas (free association)
Suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lalu dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi traumatik di masa lalu. Dalam teknik ini, klien diperintahkan untuk duduk santai atau tidur lalu menceritakan semua pengalaman yang terlintas dalam benaknya, baik yang teratur maupun yang tidak, sepele atau penting, logis atau tidak logis, relevan atau tidak, semuanya harus diungkapkan. Asosiasi-asosiasi yang diucapkan itu kemudian ditafsirkan sebagai pengungkapan tersamar pengalaman-pengalaman yang direpres.
2.      Penafsiran
Suatu prosedur dalam menganalisa asosiasi-asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi. Bentuknya adalah tindakan analisis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku.
3.      Analisis Mimpi
Suatu prosedur yang penting untuk menyingkap bahan-bahan yang tidak disadari dan memberikan kepada klien atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Freud memandang mimpi sebagai jalan utama menuju ke alam tidak sadar karena isi mimpi ditentukan oleh keinginan-keinginan yang direpres. Keinginan-keinginan tersebut muncul lagi dalam bentuk simbol sebagai jalan menuju pemuasan.
4.      Analisis Resistensi
Ditujukan untuk membantu klien agar menyadari alasan-alasan yang ada dibalik resistensi, sehingga klien bisa menanganinya.
5.      Analisis Transferensi
Teknik utama dalam psikoanalisis karena mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lalunya dalam terapi. Terapi ini terjadi jika dalam pertemuan terapi terungkap adanya displacement dalam diri klien. Hal tersebut terjadi kalau klien mengalihkan sasaran perasaan cinta atau bencinya kepada terapeuti yang menanganinya. Transferensi itu menunjukkan kebutuhan klien untuk mengekspresikan kebutuhannya. Semua ini berlangsung secara tidak sadar, terapeut sering menjadi sasaran atau pengganti. Disini terapeut berusaha untuk menjelaskan perasaan-perasaan yang sedang dialami atau yang diekspresikannya pada terapeut, sehingga klien memiliki satu pemahaman yang lengkap mengenai kesulitan yang sedang dialami.


Referensi :
Apa itu psikoterapi?. Diakses dari http://www.psikoterapis.com/?en_apa-itu-psikoterapi-,6.
Hashim, S., Jantan, R., & Razali, M. (2003). Psikologi pendidikan. Kuala Lumpur: PTS Professional Publishing Sdn. Bhd.
Matthewa, Andrew. (1997). Being happy! Kiat hidup tenteram dan bahagia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Naisaban, Ladislaus. (2004). Para psikolog terkemuka dunia (riwayat hidup, pokok pikiran, dan karya). Jakarta: Grasindo.
Putri, Herlin. Bab II: Kerangka teori. Diakses dari lib.ui.ac.id/file?file=digital/127142-RB09P440m-Mimpi%20tokoh...pdf.
Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta: Kanisius.
Semiun, Yustinus. (2006). Teori kepribadian dan terapi psikoanalitik Freud. Yogyakarta: Kanisius.
Sholeh, M. (2008). Bertobat sambil berobat: Rahasia ibadah untuk mencegah dan menyembuhkan berbagai penyakit. Jakarta: Hikmah.
Tjandra, Olivia. Psikoterapi: ‘Bengkel’ perkembangan kepribadian. Diakses dari psi442.weblog.esaunggul.ac.id/wp.../sites/.../Psikoterapi-Pertemuan-2.ppt.
Wijaya, Fahri. Teori psikoanalisa dari Sigmund Freud. Diakses pada tahun 2013 dari http://www.wivrit.com/2013/07/teori-psikoanalisa-dari-sigmund-freud.html.
Wolberg, L, R. (1967). The technique of psychotherapy. New York: Grune & Stratton.