Kamis, 31 Desember 2015

Tugas 4 Psikologi Manajemen

I.   Komunikasi dalam Manajemen
A.   Pengertian Komunikasi
Komunikasi merupakan rangkaian proses pengalihan informasi dari satu orang kepada orang lain dengan maksud tertentu. Menurut Theodorson dan Thedorson, komunikasi adalah penyebaran informasi, ide-ide sebagai sikap atau emosi dari seseorang kepada orang lain terutama melalui simbol-simbol.
Sementara menurut Edwin Emery, komunikasi adalah seni menyampaikan informasi, ide, dan sikap seseorang kepada orang lain. Menurut William Albig, komunikasi adalah proses sosial, dalam arti pelemparan pesan/lambang yang mana mau tidak mau akan menumbuhkan pengaruh pada semua proses dan berakibat pada bentuk perilaku manusia dan adat kebiasaan.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah seni menyampaikan informasi, penyebaran informasi, atau rangkaian proses pengalihan informasi dari seseorang kepada orang lain terutama melalui simbol-simbol atau dapat juga diartikan sebagai proses sosial yang akan menumbuhkan pengaruh pada semua proses dan berakibat pada bentuk perilaku manusia dan adat kebiasaan.

B.    Proses Komunikasi
Proses komunikasi adalah setiap langkah mulai dari saat menciptakan informasi sampai dipahami oleh komunikan. Dalam aplikasinya, langkah-langkah dalam proses komunikasi adalah sebagai berikut:
1.      Langkah pertama, ide atau gagasan diciptakan oleh sumber atau komunikator.
2.  Langkah kedua, ide yang diciptakan tersebut kemudian dialihbentukan menjadi lambang-lambang komunikasi yang mempunyai makna dan dapat dikirimkan.
3.    Langkah ketiga, pesan yang telah di-encoding tersebut selanjutnya dikirimkan melalui saluran atau media yang sesuai dengan karateristik lambang-lambang komunikasi ditujukan kepada komunikan.
4.   Langkah keempat, penerima menafsirkan isi pesan sesuai dengan persepsinya untuk mengartikan maksud pesan tersebut.
5.  Langkah kelima, apabila pesan tersebut telah berhasil di-decoding, khalayak akan mengirim kembali pesan tersebut ke komunikator.
Wilbur Schramm mengatakan bahwa untuk terjadinya proses komunikasi paling sedikit harus memiliki 3 unsur komunikasi, yaitu komunikator, pesan, dan komunikan.
Menurut Bovee dan Thill dalam buku Business Communication Today, 6e, proses komunikasi terdiri atas enam tahap, yaitu:
1.      Pengirim mempunyai suatu ide atau gagasan.
2.      Pengirim mengubah ide menjadi suatu pesan.
3.      Pengirim menyampaikan pesan.
4.      Penerima menerima pesan.
5.      Penerima menafsirkan pesan.
6.      Penerima memberi tanggapan dan mengirim umpan balik kepada pengirim.

C.   Hambatan Komunikasi
Ada banyak hal yang dapat mengganggu kita untuk berkomunikasi secara efektif. Komunikasi dikatakan berhasil hanya jika penerima memahami pesan seperti yang dimaksudkan oleh pengirim. Gangguan merupakan segala campur tangan dalam proses komunikasi yang mengubah atau mengaburkan apa yang diartikan oleh pengirim.
Menurut Robbins (2003), ada empat hambatan komunikasi yang akan mempengaruhi kualitas komunikasi yang kita lakukan, diantaranya adalah:
1.      Perbedaan Bahasa dan Persepsi
Setiap hari kita menerima input berupa pemandangan, suara, bau, dan sebagainya. Lesikar dkk (1999) mengilustrasikan pikiran kita yang mengatur input menjadi peta mental (mental map) yang mewakili persepsi kita mengenai realitas. Bahkan bila dua orang mengalami peristiwa yang sama, bayangan mental mereka mengenai peristiwa itu tidak akan identik. Karena persepsi seseorang unik, maka gagasan yang ingin disampaikan berbeda dengan orang lain. Sebagai pengirim, seseorang memilih rincian yang tampaknya penting bagi dirinya, yaitu proses yang dikenal sebagai persepsi selektif. Sebagai penerima, seseorang mencoba menyesuaikan rincian baru ke dalam pola yang sudah ada dala dirinya. Apabila rincian yang dimaksud tidak ada kesesuaian, kita cenderung mengubah informasi itu ketimbang mengatur ulang pola yang sudah ada. Hal ini yang menyebabkan pengertian kita terhadap sesuatu hal akan berbeda secara dramatis dengan orang lain. Namun, semakin banyak pengalaman yang dibagi, semakin tinggi tingkat pemahaman satu sama lain.
2.      Gangguan Komunikasi
Menurut Locker (2000), ada 2 gangguan dalam berkomunikasi, yaitu:
a.       Gangguan Emosional
Seseorang akan kesulitan dalam menyusun pesan jika sedang kecewa, marah, atau takut. Hal ini yang menyebabkan gagasan dan perasaan sering membuat seseorang sulit bersikap objektif. Walaupun kita tidak mungkin menghindari komunikasi dengan orang lain ketika emosi kita terlibat, namun akan lebih baik apabila kita waspada akan kemungkinan besarnya kesalahpahaman yang akan terjadi akibat emosi kita terlibat di dalamnya.
b.      Gangguan Fisik
Hambatan komunikasi sering kali bersifat fisik, yaitu hubungan yang buruk, akustik yang jelek, dan tulisan yang tidak dapat dibaca. Gangguan jenis ini dapat menghambat pesan yang sebenarnya efektif. Penerima pesan mungkin terganggu oleh kursi yang tidak nyaman, cahaya yang redup, masalah kesehatan, atau beberapa kondisi yang menimbulkan gangguan secara fisik. Semua gangguan ini pada umumnya tidak menghambat komunikasi, tetapi akan mengurangi konsentrasi penerima.
3.      Overload Informasi
Komunikasi bisnis sering terganggu karena materinya rumit dan kontroversial. Jumlah pesan bisnis yang disampaikan semakin hari semakin banyak dan peluang untuk terjadinya umpan balik sering terbatas, sehingga sulit untuk meluruskan salah pengertian ketika hal itu terjadi. Dengan memahami berbagai tipe hambatan komunikasi yang ada dalam organisasi, peluang untuk mengatasinya akan meningkat. Teknologi baru pada satu sisi semakin mempermudah pekerjaan staf administrasi, namun di sisi lain juga menambah beban mereka. Sebagai akibatnya, sebagian besar orang terbenam dalam pesan dan akan mengabaikan berita yang menurut mereka tidak penting, menunda menanggapinya, atau menjawab tidak lengkap atau tidak akurat.
4.      Penyaringan yang Tidak Tepat
Menyaring adalah membuang atau menyingkat informasi sebelum pesan itu diteruskan kepada orang lain. Namun apabila hal tersebut mempengaruhi jumlah dan mutu informasi yang diteruskan, tentu akan mempengaruhi komunikasi efektif yang diharapkan.
Penyebab-penyebab dari hambatan komunikasi antara lain sebagai berikut:
1.      Komunikator berpikir dalam lingkup dirinya sendiri;
2.   Berbicara dengan konteks penuh rahasia dan disampaikan dalam waktu yang kurang tepat;
3.      Tanpa memberi contoh nyata, penjelasan sifatnya hanya umum;
4.    Bersikap diktator, kurang menggunakan perasaan sebagai pimpinan, sebagai teman;
5.      Lamban, tidak efisien;
6.      Terlalu cepat mengambil keputusan;
7.      Tidak konsekuen, tidak ada alternatif.

D. Definisi Komunikasi Interpersonal Efektif dalam Organisasi yang Mencakup Componential dan Situational
Komunikasi interpersonal dapat dikatakan efektif apabila pesan diterima dan dimengerti sebagaimana dimaksud oleh pengirim pesan, pesan ditindaklanjuti dengan sebuah pembuatan secara sukarela oleh penerima pesan, dapat meningkatkan kualitas hubungan antarpribadi, dan tidak ada hambatan akan hal itu (Hardjana, 2003 dalam Suranto, 2011). Komunikasi interpersonal efektif adalah komunikasi yang terkandung dalam tatap muka dan saling mempengaruhi, mendengarkan, menyampaikan pernyataan, keterbukaan, kepekaan yang merupakan cara paling efektif dalam mengubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang dengan efek umpan balik secara langsung.
Komunikasi dalam organisasi atau perusahaan dapat menentukan efektif atau tidaknya suatu penyampaian pesan atau perintah antar anggota organisasi, baik antara atasan dengan bawahan (downward communication), bawahan dengan atasan (upward communication), maupun antar anggota yang jabatannya setaraf (lateral communication).
Adapun komunikasi interpersonal efektif dalam organisasi mencakup dua jenis, yaitu:
1.      Componential
Menjelaskan komunikasi antar pribadi dengan mengamati komponen-komponen utamanya, dalam hal ini adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik dengan segera.
2.      Situational
Interaksi tatap muka antara dua orang dengan potensi umpan balik langsung dengan situasi yang mendukung disekitarnya.

E.    Model Pengolahan Informasi
Model ini berdasarkan pada teori belajar kognitif (Piaget) dan berorientasi pada kemampuan seseorang dalam memproses informasi untuk memperbaiki kemampuannya. Pengolahan informasi mengacu kepada cara orang menangani rangsangan dari lingkungan, mengorganisasi data, mengembangkan konsep dan memecahkan masalah, serta menggunakan lambang verbal dan non verbal.
Model pengolahan informasi mencakup empat jenis, yaitu:
1.      Rational
Model ini berasumsi bahwa orang beroperasi dalam model pengolahan dikontrol menggunakan prosedur analitis.
2.      Limited Capacity
Model ini menunjukkan bagaimana orang menyederhanakan pengolahan informasi.
3.      Expert
Model ini bergantung pada model Limited Capacity.
4.      Cybernetic
Model ini berpendapat bahwa informasi diproses dari waktu ke waktu.

F.    Model Interaktif Manajemen
Model interaktif manajemen mencakup lima jenis, yaitu:
1.      Confidence
Dalam manajemen, timbulnya suatu interaksi karena adanya rasa nyaman. Kenyamanan tersebut dapat membuat suatu organisasi bertahan lama dan menimbulkan suatu kepercayaan dan pengertian.
2.      Immediacy
Ini adalah model organisasi yang membuat suatu organisasi tersebut menjadi segar dan tidak membosankan.
3.      Interaction Management
Adanya berbagai interaksi dalam manajemen, seperti mendengarkan dan juga menjelaskan kepada berbagai pihak yang bersangkutan.
4.      Expressiveness
Mengembangkan suatu komitmen dalam suatu organisasi dengan berbagai macam ekspresi perilaku.
5.      Other Orientation
Adanya komunikasi antara komunikasi dengan satu pihak ke pihak lain, sebagai tukar menukar informasi.


Sumber
Andayani. (2015). Problema dan aksioma: dalam metodologi pembelajaran bahasa Indonesia. Yogyakarta: Deepublish.
Briliani, N. I. (2015). Psikologi manajemen tugas VI. Diakses pada 28 Desember 2015 dari http://nataliabriliani.blogspot.co.id/2015_12_01_archive.html.
Efektivitas komunikasi interpersonal. Diakses pada tahun 2013 dari http://www.psychologymania.com/2013/04/efektivitas-komunikasi-interpersonal.html.
Novianty, A. (2014). Komunikasi dalam manajemen. Diakses pada 14 Januari 2014 dari http://alvi-novianty.blogspot.co.id/2014/01/komunikasi-dalam-manajemen.html.
Purwanto, Djoko. (2006). Komunikasi bisnis edisi ketiga. Jakarta: Erlangga.
Rumanti, M. A. (2002). Dasar-dasar public relations: teori dan praktik. Jakarta: PT Grasindo.
Sukoco, B. M. (2007). Manajemen administrasi perkantoran modern. Jakarta: Erlangga
Suprapto, Tommy. (2009). Pengantar teori dan manajemen komunikasi. Yogyakarta: Media Pressindo.
Yasa, R. (2015). Komunikasi dalam manajemen. Diakses pada 17 Januari 2015 dari http://rizkitriyasa.blogspot.co.id/2015/01/komunikasi-dalam-manajemen.html.

Jumat, 25 Desember 2015

Tugas 3 Sistem Informasi Psikologi

Impian dan Karir

Semua orang pasti memiliki impian mengenai kesuksesan di masa depan, begitupun dengan saya. Impian saya mengenai kesuksesan di masa depan berkaitan dengan cita-cita saya kedepannya ingin menjadi apa. Awalnya saya memiliki keinginan untuk menjadi dokter dan semasa SMA pun saya memilih jurusan IPA agar saya dapat mencapai keinginan saya tersebut untuk menjadi dokter. Namun selama saya bersekolah di jurusan IPA, saya memiliki hambatan dalam mempelajari mata pelajaran fisika dan saya berfikir bahwa untuk menjadi dokter harus menguasai banyak materi mengenai fisika, meskipun saya kurang tahu apa yang saya fikirkan tersebut benar atau tidak.
Seiring berjalannya waktu, saya semakin yakin bahwa untuk mencapai keinganan saya menjadi dokter merupakan hal yang sangat sulit, terlebih saya sangat kurang menguasai mata pelajaran fisika. Dan kemudian saya terfikir untuk mempelajari bidang psikologi dan menjadi seorang psikolog karena saya ingin memahami psikis maupun mental seseorang baik yang sedang mengalami suatu penyakit maupun yang sedang mengalami suatu permasalahan lain dalam hidupnya. Selain karena saya ingin memahami psikis maupun mental seseorang, saya juga ingin menyembuhkan orang-orang secara emosionalnya.
Setelah saya lulus SMA, saya memutuskan untuk berkuliah mengambil jurusan psikologi agar saya dapat mencapai keinginan saya untuk dapat memahami bidang psikologi dan menjadi seorang psikolog. Selama saya mempelajari bidang psikologi lebih jauh dalam perkuliahan, saya semakin yakin bahwa saya sangat tertarik dengan bidang psikologi dan keinginan saya untuk menjadi psikolog semakin besar. Untuk saat ini saya memiliki keinginan menjadi psikolog klinis karena saya ingin membantu menyembuhkan mereka yang mengalami gangguan psikis.