RATIONAL
EMOTIVE THERAPY
(ELLIS)
Diperkenalkan
pada tahun 1955 oleh Albert Ellis yang lahir pada tanggal 27 September 1913.
Terapi rasional-emotif menurut Ellis mendasarkan pada pada konsep bahwa
berpikir dan berperasaan saling berkaitan, namun dalam pendekatannya lebih
menitikberatkan pada pikiran daripada ekspresi emosi seseorang.
A. Konsep Utama Rational Emotive
Therapy
Rational Emotive
Therapy (RET) adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan
asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional
dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Rational Emotive Therapy (RET) menegaskan bahwa manusia memiliki
sumber-sumber yang tidak terhingga bagi aktualisasi potensi-potensi dirinya dan
bisa mengubah ketentuan-ketentuan pribadi dan masyarakatnya. Menurut Rational Emotive Therapy (RET), manusia
dilahirkan dengan kecenderungan untuk mendesakkan pemenuhan keinginan-keinginan,
tuntutan-tuntutan, hasrat-hasrta, dan kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya. Jika
tidak segera mencapai apa yang diinginkannya, manusia mempersalahkan dirinya
sendiri ataupun orang lain. Rational
Emotive Therapy (RET) menekankan bahwa manusia berpikir, beremosi, dan bertindak
secara stimultan. Jarang manusia beremosi tanppa berpikir, sebab
perasaan-perasaan biasanya dicetuskan oleh persepsi atas situasi yang spesifik.
Pandangan
Ellis (1980) terhadap konsep manusia adalah:
1. Manusia
mengkondisioning diri sendiri terhadap munculnya perasaan yang mengganggu
pribadinya.
2. Kecenderungan
biologisnya sama halnya dengan kecenderungan kultural untuk berpikir salah dan
tidak ada gunanya, berakibat mengecewakan diri sendiri.
3. Kemanusiaannya
yang unik untuk menemukan dan mencipta keyakinan yang salah, yang mengganggu,
sama halnya dengan kecenderungan mengecewakkan dirinya sendiri karena
gangguan-gangguannya.
4. Kemampuannya
yang luar biasa untuk mengubah proses-proses kognitif, emosi dan perilaku,
memungkinkan dapat:
a. Memilih
reaksi yang berbeda dengan yang biasanya dilakukan.
b. Menolak
mengecewakan diri sendiri terhadap hampir semua hal yang mungkin terjadi.
c. Melatih
diri sendiri agar secara setengah otomatis mempertahankan gangguan sesedikit
mungkin sepanjang hidupnya.
B. Tujuan Rational Emotive Therapy
Ellis
mengemukakan bahwa banyak jalan yang digunakan dalam Rational Emotive Therapy (RET) yang diarahkan pada satu tujuan
utama: “Meminimalkan pandangan yang mengalahkan diri dari pasien dan membanru
pasien untuk memperoleh filsafat hidup yang lebih realistik”.
Rational
Emotive Therapy (RET) mempergunakan pendekatan langsung
untuk “menyerang” dan menghilangkan pikiran-pikiran yang tidak rasional dan
menggantinya dengan pikiran yang rasional dan logis.
C. Peran Terapis
Mengenai peran dan kegiatan terapis
menurut Ellis adalah:
1. Bawalah pasien sampai pada akar
persoalannya yang menimbulkan pikiran tidak rasional dan yang menimbulkan
gangguan pada perilaku.
2.
Doronglah pasien agar mengemukakan
pikiran-pikirannya.
3.
Tunjukkan pada pasien dasar dari cara
berpikirnya yang tidak logis.
4. Pergunakan analisis-logis untuk
mengurangi keyakinan-keyakinan yang tidak rasional.
5. Kemukakan kepada pasien bagaimana
keyakinan-keyakinan ini tidak jalan dan bagaimana hal tersebut akan menimbulkan
gangguan emosi maupun perilaku di kemudian hari.
6.
Pergunakan humor atau cara lain yang
mungkin dirasakan aneh-aneh atau yang bukan-bukan seperlunya, untuk menghadapi
cara berpikir pasien yang tidak rasional.
7. Jelaskan bagaimana pikiran-pikiran ini
dapat diganti dengan pikiran lain yang lebih rasional dan yang memiliki dasar
empirik yang kuat.
8. Ajarlah pasien bagaimana mempergunakan
pendekatan ilmiah dalam proses berpikirnya, sehingga mereka dapat mengamati dan
kemudian mengurangi cara berpikir yang tidak rasional dan logis yang dapat
menimbulkan kesulitan dalam dirinya di kemudian hari.
D.
Teknik-Teknik
Rational Emotive Therapy
1.
Cognitive
Method
Rational
Emotive Therapy (RET) sangat bergantung pada pemikiran,
berselisih, berdebat, menantang, menafsirkan, menjelaskan, dan pengajaran.
Berikut ini adalah beberapa teknik kognitif yang dapat dilakukan oleh terapis,
yaitu:
a. Disputing of Irrational Beliefs
Metode
kognitif yang paling umum dari Rational
Emotive Therapy (RET) dan terdiri dari aktif/direktif menentang keyakinan
irasional klien. Terapis menunjukkan kepada klien bahwa mereka terganggu bukan
karena peristiwa atau situasi tertentu, tetapi karena persepsi klien tentang
peristiwa dan karena sifat serta pernyataan terhadap diri mereka.
b. Cognitive Homework
Klien
diberikan tugas yang merupakan cara untuk melacak keharusan absolut yang
merupakan bagian dari diri mereka.
c. Client’s Disputing of an Irrational
Belief
Dengan
teknik ini, klien melakukan satu hal yang menjadi irasionalitas utama setiap
hari selama sedikitnya sepuluh menit. Klien melakukan hal tersebut sampai
keyakinan irasional tidak lagi berusaha ditahan, atau sampai berkurang.
d. Bibliotherapy
Dalam
teknik ini klien diminta untuk membaca literatur rasional-emotif yang dirancang
untuk membantu mereka dalam proses restrukturisasi kognitif.
e. Employing New Self-Statements
Setelah
klien belajar untuk melawan keyakinan merusak diri sendiri, kemudian melakukan
pengajaran yang mengarah ke pernyataan rasional dan asumsi yang konstruktif.
2.
Emotive
Techniques
Secara
emotif, terapis menggunakan berbagai prosedur termasuk penerimaan tanpa syarat,
rasional-emotif bermain peran, modeling, self-statements,
citra rasional-emotif, dan latihan menyerang rasa malu. Klien diajarkan untuk
menilai penerimaan diri tanpa syarat. Salah satu teknik utama mengajar klien
penerimaan diri adalah modeling.
3.
Behavioral
Techniques
Terapis biasanya
menggunakan operant conditioning, self-management principles, systematic desensitization, instrumental conditioning, biofeedback, teknik relaksasi, dan modelling. Klien benar-benar melakukan
hal-hal baru dan sulit, serta dengan cara ini mereka menempatkan pengetahuan
mereka dengan bentuk tindakan nyata.
TERAPI PERILAKU (BEHAVIOUR THERAPY)
Secara
formal didefinisikan, terapi perilaku adalah penggunaan prinsip dan paradigma
belajar yang ditetapkan secara eksperimental untuk mengatasi perilaku tidak
adaptif. Dalam prakteknya, apa yang lazim untuk semua terapi perilaku adalah
penekanan pada analisis perilaku untuk menguji secara sistematik hipotesis atas
mana terapi didasarkan.
A. Konsep Utama Terapi Perilaku (Behaviour Therapy)
Behaviorisme
adalah suatu pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia. Dalil dasarnya
adalah bahwa tingkah laku itu tertib dan bahwa eksperimen yang dikendalikan
dengan cermat akan menyingkap hukum-hukum yang mengendalikan tingkah laku.
Pendekatan behavioristik yidak menguraikan asumsi-asumsi filosofis tertentu
tentang manusia secara langsung. Setiap orang dipandang memiliki
kecenderungan-kecenderungan positif dan negatif yang sama. Terapi perilaku
kontemporer bukanlah suatu pendekatan yang sepenuhnya deterministik dan
mekanistik yang menyingkirkan potensi para klien untuk memilih. Terapi perilaku
tidak berlandaskan sekumpulan konsep yang sistematik, juga tidak berakar pada
suatu teori yang dikembangkan dengan baik. Pada dasarnya, terapi perilaku
diarahkan pada tujuan-tujuan memperoleh perilaku baru, penghapusan perilaku
yang maladaptif, serta memperkuat dan mempertahankan perilaku yang diinginkan.
B. Tujuan Terapi Perilaku (Behaviour Therapy)
Tujuan umum terapi perilaku adalah
menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar. Dasar alasannya, yaitu bahwa
segenap perilaku adalah dipelajari (learned),
termasuk perilaku yang maladaptif. Jika perilaku neurotik learned, maka ia bisa
unlearned (dihapus dari ingatan), dan perilaku yang lebih efektif dapat
diperoleh.
Krumboltz dan Thorensen
mengembangkan tiga kriteria bagi perumusan tujuan yang dapat diterima dalam
konsleingn perilaku, yaitu:
1.
Tujuan yang dirumuskan haruslah tujuan
yang ingin dicapai oleh klien.
2.
Konselor harus bersedia membantu klien
dalam mencapai tujuan.
3. Harus terdapat kemungkinan untuk
menaksirkan sejauh mana klien dapat mencapai tujuannya.
C.
Fungsi
dan Peran Terapis
Terapis
perilaku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, dan ahli dalam
mendiagnosa perilaku yang maladaptif dan dalam menentukan prosedur-prosedur
penyembuhan yang diharapkan serta mengarah pada perilaku yang baru dan adjustive. Krasner mengajukan argumen
bahwa peran seorang terapis sesungguhnya adalah “mesin perkuatan”. Apapun yang
dilakukannya, terapis pada dasarnya terlibat dalam pemberian
perkuatan-perkuatan sosial, baik yang positif maupun negatif. Goodstein juga
menyebutkan peran terapis sebagai pemberi perkuatan.
D.
Teknik-Teknik
Terapi Perilaku (Behaviour Therapy)
1.
Desensitisasi
Sistematis
Digunakan
untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan
pemunculan perilaku atau proses yang berlawanan dengan perilaku yang hendak
dihapuskan itu. Desensitisasi diarahkan pada mengajar klien untuk menampilkan
suatu respons yang tidak konsisten dengan kecemasan. Desensitisasi sistematik
juga melibatkan teknik-teknik relaksasi. Desensitisasi sistematik adalah teknik
teknik yang cocok untuk menangani fobia-fobia. Selain itu, desensitisasi
sistematik dapat diterapkan secara efektif pada berbagai situasi penghasil
kecemasan, mencakup situasi interpersonal, ketakutan menghadapi ujian,
ketakutan-ketakutan yang digeneralisasi, kecemasan-kecemasan neurotik, serta
impotensi dan frigiditas seksual.
2.
Terapi
Implosif
Terapi
implosif berasumsi bahwa tingkah laku neurotik melibatkan penghindaran
terkondisi atas stimulus-stimulus penghasil kecemasan. Alasan yang digunakan
oleh teknik ini adalah bahwa jika seseorang secara berulang-ulang dihadapkan
pada suatu situasi penghasil kecemasan dan konsekuensi-konsekuensi yang
menakutkan tidak muncul, maka kecemasan akan tereduksi atau terhapus.
3.
Latihan
Asertif
Diterapkan
terutama pada situasi-situasi interpersonal dimana individu mengalami kesulitan
untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakan
yang layak atau benar. Latihan asertif akan membantu bagi orang-orang yag tidak
mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung, menunjukkan kesopanan
yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya, memiliki
kesulitan untuk mengatakan “tidak”, mengalami kesulitan untuk mengungkapkan
afeksi dan respons-respons positif lainnya, merasa tidak punya hak untuk
memiliki perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran sendiri.
4.
Terapi
Aversi
Melibatkan
pengasosian perilaku simtomatik dengan suatu stimulus yang menyakitkan sampai
perilaku yang tidak diinginkan terhambat kemunculannya. Stimulus aversi
biasanya berupa hukuman dengan kejutan listrik atau pemberian ramuan yang
membuat mual.
5.
Token
Ekonomi
Dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku apabila
persetujuan dan pemerkuat yang tidak bisa diraba lainnya tidak memberikan
pengaruh. Dalam token ekonomi, perilaku yang layak dapat diperkuat dengan
perkuatan yang nyata yang nantinya bisa ditukarkan dengan objek atau hak
istimewa yang diinginkan. Tujuan dari prosedur ini adalah mengubah motivasi
yang ekstrinsik menjadi motivasi yang intrinsik.
TERAPI KELOMPOK (GROUP THERAPY)
Menurut
Guze, Richeimer, dan Siegel, terapi kelompok merupakan setiap pengumpulan dari
orang yang lazimnya bertemu secara teratur, biasanya dengan pemimpin yang
terlatih untuk menangani masalah psikologik atau pertumbuhan pribadi mereka.
Terapi kelompok membentuk perubahan terhadap klien, khususnya perubahan
perilaku di dalam kelompok. Pendekatan khusus yang digunakan oleh terapis atau
pemimpin kelompok terhadap perawatan tergantung pada orientasi teoretis dari
terapis atau pemimpin kelompok.
A.
Metode
Terapi Kelompok (Group Therapy)
Dalam praktek, terapi kelompok
sangat bervariasi seperti halnya dengan terapi individual. Bentuk-bentuk paling
awal terapi kelompok bersifat didaktis dimana pemimpin kelompok berceramah,
meyakinkan, dan mengarahkan. Karena adanya perkembangan-perkembangan baru di
bidang ini, pemimpin kelompok menjalankan fungsi yang sama untuk kelompok sama
seperti yang dilakukan oleh terapis individual bagi pasiennya. Dia mendorong,
mengungkapkan, memeriksa motif-motif, memberikan penafsiran-penafsiran, dan
sedikit demi sedikit membangkitkan partisipasi masing-masing anggota kelompok
dalam fungsi ini.
B.
Kegunaan
Terapi Kelompok (Group Therapy)
Partisipasi dalam pengalaman
kelompok seperti itu akan menghilangkan perasaan-perasaan terisolasi dalam diri
pasien dan keunikan dari penyakitnya, dan dengan demikian menghilangkan
kecemasan-kecemasannya dan mendorongnya untuk membicarakan perasaan-perasaan
batinnya dengan sepenuh hati. Partisipasi pasien dalam terapi kelompok memberi
kemungkinan kepadanya melepaskan tegangan dan mengalami abreaksi karena
menghidupkan kembali sejumlah kejadian yang mengandung emosi. Dalam beberapa
bentuk terapi kelompok yang lebih intensif, analisis hubungan transferensi (transference relationship) yang
berkembang dalam kelompok akan terjadi.
C.
Bentuk-Bentuk
Terapi Kelompok (Group Therapy)
Terapi kelompok terdiri atas
beberapa bentuk, antara lain:
1. Kelompok Eksplorasi Interpersonal
Tipe
ini merupakan tipe yang paling umum dilakukan. Tujuannya adalah mengembangkan
kesadaran diri tentang gaya hubungan interpersonal melalui umpan balik korektif
dari anggota kelompok yang lain. Pasien diterima dan didukung. Oleh karena itu,
dapat meningkatkan harga diri.
2. Kelompok Bimbingan-Inspirasi
Kelompok
yang sangat terstruktur, kohesif, mendukung, yang meminimalkan pentingnya
tilikan, dan memaksimalkan nilai diskusi di dalam kelompok dan persahabatan.
Anggota kelompok dipilih seringkali karena mereka mempunyai problem yang sama.
3. Terapi Berorientasi Psikoanalitik
Suatu teknik
kelompok dengan struktur yang longgar, terapis melakukan interpretasi tentang
konflik nirsadar pasien dan memprosesnya dari observasi interaksi antar anggota
kelompok.
D.
Teknik-Teknik
Terapi Kelompok (Group Therapy)
1.
Psychodrama
Techniques
Pasien
didorong untuk memainkan suatu peran emosional di depan para penonton tanpa dia
sendiri dilatih sebelumnya. Tujuannya adalah membantu seorang pasien atau
sekelompok pasien untuk mengatasi masalah-masalah pribadi dengan menggunakan
permainan peran, drama, atau terapi tindakan. Melalui cara-cara ini pasien
dibantu untuk mengungkapkan perasaan-perasaan tentang konflik, kemarahan,
agresi, perasaan bersalah, dan kesedihan.
2.
T-Group
Techniques
Salah
satu kontribusi utama dari Training
(T) kelompok untuk para klien adalah memahami proses pengambilan keputusan
mereka sendiri. Kelompok diminta untuk berdiskusi mengenai pengalaman mereka,
mengeksplorasi pola kepemimpinan, resolusi konflik, dan proses pengambilan
keputusan.
3.
Encounter
Techniques
Bertujuan
untuk membantu mengembangkan kesadaran diri dengan berfokus pada cara bagaimana
para anggota kelompok berhubungan satu sama lain dalam suatu situasi dimana
didorong untuk mengungkapkan perasaan-perasaan secara terus-terang. Hanya
ditujukan kepada orang yang menyesuaikan diri dengan baik, berusaha memajukan
pertumbuhan pribadi, meningkatkan kesadaran mengenai kebutuhan-kebutuhan dan
peresaan-perasaan mereka sendiri serta cara-cara mereka berhubungan dengan
orang lain.
4.
Behavioral
Techniques
Banyak
teknik behavior seperti modelling, pelatihan keterampilan, memecahkan masalah
dan relaksasi juga digunakan dalam terapi kelompok. Peserta akan mendapatkan
ide-ide untuk bagaimana menangani situasi. Situasi dapat dilatih berulang-ulang
sampai peserta merasa puas dengan kemampuannya untuk berperilaku asertif.
5.
Dance
and Art Therapy
Teknik ini akan
mendorong kesadaran tubuh, gerakan kreatif, dan interpersonal empati. Anggota
kelompok berpasang-pasangan, kemudian satu orang mengambil peran sebagai
pemimpin dan pengikutnya mencoba untuk menjadi bayangan cermin dari pemimpin
dan mengikuti bayangan pemimpin semirip mungkin. Mematung adalah teknik terapi
seni dimana peserta diminta untuk mematung yang merupakan representasi dari
diri mereka sendiri, keluarga mereka, dunia mereka, masalah mereka, dan
kemudian menceritakan hasil dengan anggota kelompok lainnya.
Referensi
Brammer, L. M. (1994). Therapeutic psychology fundamentals of counseling and psychoterapy.
Fifth edition New Jersey: Prentice Hall.
Corey, G. (2009). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Refika
Aditama.
Gunarsa, S. D. (2007). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia.
Guze, B., Richeimer, S., Siegel, D. J. (1994). Buku saku psikiatri. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.
Semiun, Y. (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta:
Kanisius.
Tomb, D. A. (2003). Buku saku psikiatri, edisi 6. Jakarta:
Buku Kedokteran EGC.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar