Rabu, 13 April 2016

Tugas 2 Psikoterapi

TERAPI HUMANISTIK EKSISTENSIALIS
A.      Konsep Dasar Pandangan Humanistik Eksistensialis Tentang Perilaku/Kepribadian
Humanistik Eksistensial berfokus pada diri manusia dan mengutamakan suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia. Terapi ini bukan merupakan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia.
Terdapat beberapa konsep utama dari Humanistik Eksistensialis, yaitu:
1.      Kesadaran Diri
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri seorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu.
2.      Kebebasan, Tanggung Jawab, dan Kecemasan
Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab dapat menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan ekstensial bisa diakibatkan karena keterbatasan dan kemungkinan yang tidak dapat dihindarkan untuk mati (nonbeing). Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesadaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan potensi-potensinya.
3.      Penciptaan Makna
Manusia berusaha untuk menentukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Menjadi manusia juga berarti menghadapi kesendirian (manusia lahir sendirian dan mati sendirian pula). Walaupun pada hakikatnya sendirian, manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia merupakan mahluk rasional. Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri yakni mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya.

B.       Unsur-Unsur Terapi
1.      Munculnya Masalah atau Gangguan
Ketika kondisi inti manusia mulai berubah, serta serta munculnya kecemasan dan timbul pemikiran bahwa hidup tidak abadi, tidak dapat mengaktualisasi potensi diri dan tidak dapat menyadari potensi diri yang dimiliki.
2.      Tujuan Terapi
a. Agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi dasar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya.
b.  Meluaskan kesadaran diri klien dan meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.
c.  Membantu klien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri dan menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekedar korban kekuatan-kekuatan deterministik diluar dirinya.
3.      Peran Terapis
Menurut Buhler dan Allen, para ahli psikologi humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut:
a.       Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi.
b.      Menyadari peran dari tanggung jawab terapis.
c.       Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik.
d.      Berorientasi pada pertumbuhan.
e.       Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi.
f.       Mengakui bahwa putusan dan pilihan akhir terletak di tangan klien.
g.   Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia secara implisit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
h.  Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
i.        Bekerja ke arah mengurangi ketergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.

C.      Teknik-Teknik Terapi
Yang paling dipedulikan oleh konselor eksistensial adalah memahami dunia subyektif klien agar dapat menolongnya untuk bisa sampai pada pemahaman dan pilihan-pilihan baru. Fokusnya adalah situai-situasi hidup klien pada saat itu dan bukan pada menolong klien agar bisa sembuh dari situasi masa lalu. Biasanya terapis eksistensial menggunakan metode yang mencakup ruang yang cukup luas, bervariasi bukan saja dari klien ke klien, tetapi juga dengan klien yang sama dalam tahap yang berbeda dari proses terapeutik. Di satu sisi, mereka menggunakan teknik seperti desentisasi (pengurangan kepekaan atas kekurangan yang diderita klien sehabis konseling), asosiasi bebas, atau restrukturisasi kognitif, dan mereka mungkin mendapatkan pemahaman dari konselor yang berorientasi lain. Tidak ada perangkat teknik yang dikhususkan atau dianggap esensial. Di sisi lain, beberapa orang eksistensialis mengesampingkan teknik karena mereka melihat iyu semua memberi kesan kekakuan, rutinitas, dan manipulasi.
Spanjang proses terapeutik, kedudukan teknik adalah nomor dua dalam hal menciptakan hubungan yang akan bisa membuat konselor bisa secara efektif menantang dan memahami klien. Teknik-teknik yang digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik, yaitu penerimaan, rasa hormat, memahami, menentramkan, memberi dorongan, pertanyaan terbatas, memantulkan pernyataan dan perasaan klien, menunjukkan sikap yang mencerminkan ikut merasakan apa yang dirasakan klien, serta bersikap mengijinkan untuk apa saja yang bermakna.



PERSON CENTERED THERAPY (ROGERS)
A.      Konsep Dasar Pandangan Carl Rogers Tentang Perilaku/Kepribadian
Carl R. Rogers mengembangkan terapi clien centered atau person centered sebagai reaksi terhadap apa yang disebutnya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Terapi client centered adalah terapi yang berpusat pada diri klien, dimana terapis hanya memberikan terapi serta mengawasi klien pada saat mendapatkan pemberian terapi tersebut agar klien dapat berkembang atau keluar dari masalah yang dihadapinya.
Manusia merupakan makhluk sosial dimana keberadaan setiap manusia ingin dihargai, dan diakui keberadaannya serta mendapatkan penghargaan yang positif dari orang lain dan rasa kasih sayang adalah kebutuhan jiwa yang paling mendasar dan pokok dalamhidup manusia. Pandangan client centered atau person centered tentang sifat manusia menolak konsep tentang kecenderungan-kecenderungan negatif dasar.
Kepribadian menurut Rogers merupakan hasil dari interaksi yang terus- menerus antara organism, self, dan medan fenomenal. Untuk memahami perkembangan kepribadian perlu dibahas tentang dinamika kepribadian sebagai berikut:
1.      Kecenderungan Mengaktualisasi
Rogers beranggapan bahwa organism manusia adalah unik dan memiliki kemampuan untuk mengarahkan, mengatur, mengontrol dirinya dan mengembangkan potensinya.
2.      Penghargaan Positif dari Orang Lain
Self berkembang dari interaksi yang dilakukan organism dengan realitas lingkungannya, dan hasil interaksi ini menjadi pengalaman bagi individu. Lingkungan social yang sangat berpengaruh adalah orang-orang yang bermakna baginya, seperti orang tua atau terdekat lainnya. Seseorang akan berkembang secara positif jika dalam berinteraksi itu mendapatkan penghargaan, penerimaan, dan cinta dari orang lain.
3.      Person Yang Berfungsi Utuh
Individu yang terpenuhi kekbutuhannya, yaitu memperoleh penghargaan positif tanpa syarat dan mengalami penghargaan diri, akan dapat mencapai kondisi yang kongruensi antara self dan pengalamannya, pada akhirnya dia akan dapat mencapai penyesuaian psikologis secara baik.

B.       Unsur-Unsur Terapi
1.      Munculnya Masalah atau Gangguan
Orang-orang memiliki kencenderungan dasar yang mendorong mereka ke arah pertumbuhan dan pemenuhan diri. Gangguan-gangguan psikologis pada umumnya terjadi karena orang lain menghambat individu dalam perjalanan menuju kepada aktualisasi diri.
2.      Tujuan Terapi
Menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha membatu klien untuk menjadi seorang pribadi yang berfungsi penuh.
3.      Peran Terapis
Membantu menyesuaikan konsep diri klien dengan seluruh pengalamannya agar pengalaman tersebut tidak dialami sebagai ancaman terhadap konsep dirinya, tetapi sebagai sesuatu yang dapat diintergrasikan dalam sebuah konsep diri yang luas.

C.      Teknik-Teknik Terapi
1.      Empathy
Kemampuan terapis untuk merasakan bersama dengan klien dan menyampaikan pemahaman ini kembali kepada mereka. Empati adalah usaha untuk berpikir bersama dan bukan berpikir tentang atau mereka. Rogers mengatakan bahwa penelitian yang ada makin menunjukkan bahwa empati dalam suatu hubungan mungkin adalah faktor yang paling berpengaruh dan sudah pasti merupakan salah satu faktor yang membawa perubahan dan pembelajaran.
2.      Positive Regard (Acceptance)
Positive Regard (Acceptance) adalah geunine caring yang mendalam untuk klien sebagai pribadi yang sangat menghargai klien karena keberadaannya.
3.      Congruence
Congruence atau kongruensi adalah kondisi transparan dalam hubungan terapeutik dengan tidak memakai topeng atau pulasan-pulasan.



LOGOTERAPI (FRANKL)
A.      Konsep Dasar Pandangan Frankl Tentang Perilaku/Kepribadian
Logoterapi secara umum dapat digambarkan sebagai corak psikologi/psikiatri yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia disamping dimensi ragawi dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup (the meaning of life) dan hasrat untuk hidup bermakna (the will of meaning) merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna (the meaningful life) yang didambakannya.
Logoterapi memiliki tiga konsep yang menjadi landasan filosofinya, yaitu:
1.      Kebebasan Berkehendak (Freedom of Will)
Dalam pandangan Logoterapi, manusia adalah makhluk yang istimewa karena mempunyai kebebasan. Kebebasan disini bukanlah kebebasan yang mutlak, tetapi kebebasan yang bertanggung jawab. Kebebasan manusia bukanlah kebebasan dari kondisi-kondisi biologis, psikologis, dan sosiokultural, tetapi lebih kepada kebebasan untuk mengambil sikap (freedom to take a stand) atas kondisi-kondisi tersebut. Kelebihan manusia yang lain adalah kemampuan untuk mengambil jarak (to detach) terhadap kondisi di luar dirinya, bahkan manusia juga mempunyai kemampuan-kemampuan mengambil jarak terhadap dirinya sendiri (self detachment). Kemampuan-kemampuan inilah yang kemudian membuat manusia disebut sebagai “the self deteming being” yang berarti manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam hidupnya.
2.      Kehendak Hidup Bermakna (The Will to Meaning)
Menurut Frankl, motivasi hidup manusia yang utama adalah mencari makna. Ini berbeda dengan psikoanalisa yang memandang manusia adalah pencari kesenangan atau juga pandangan psikologi individual bahwa manusia adalah pencari kekuasaan. Menurut logoterapi, kesenangan adalah efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan prasyarat bagi pemenuhan makna itu. Mengenal makna itu sendiri menurut Frankl bersifat menarik (to pull) dan menawari (to offer) bukannya mendorong (to push). Karena sifatnya menarik, maka individu termotivasi untuk memenuhinya agar ia menjadi individu yang bermakna dengan berbagai kegiatan yang sarat dengan makna.
3.      Makna Hidup (The Meaning of Life)
Makna hidup adalah sesuatu yang dianggap penting, benar dan didambakan, serta memberikan nilai khusus bagi seseorang. Untuk tujuan praktis, makna hidup dianggap identik dengan tujuan hidup. Makna hidup bisa berbeda antara manusia satu dengan yang lainnya dan berbeda setiap hari, bahkan setiap jam. Karena itu, yang penting bukan makna hidup secara umum, melainkan makna khusus dari hidup seseorang pada suatu saat tertentu. Setiap manusia memiliki pekerjaan dan misi untuk menyelesaikan tugas khusus. Dalam kaitan dengan tugas tersebut, dia tidak bisa digantikan dan hidupnya tidak bisa di ulang. Karena itu manusia memiliki tugas yang unik dan kesempatan untuk menyelesaikan tugasnya.

B.       Unsur-Unsur Terapi
1.      Munculnya Masalah atau Gangguan
a.       Neurosis somatogenik, yaitu gangguan perasaan yang berkaitan dengan ragawi.
b.  Neurosis psikogenik, yaitu gangguan perasaan yang berasal dari hambatan-hambatan psikis.
c.   Neurosis noogenik, yaitu gangguan neurosis yang disebabkan tidak terpenuhinya hasrat untuk hidup bermakna.
2.      Tujuan Terapi
a.  Meraih hidup bermakna dan mampu mengatasi secara efektif berbagai kendala dan hambatan pribadi. Hal ini diperoleh dengan jalan menyadari dan memahamai serta merealisasikan berbagai potensi dan sumber daya kerohanian yang dimiliki setiap orang yang sejauh ini mungkin terhambat dan terabaikan.
b. Menolong klien untuk menemukan tujuan dan maksud dalam hidupnya dengan memperlihatkan bernilainya tanggung jawab dan tugas-tugas tertentu.
3.      Peran Terapis
a.     Terapis harus menunjukkan kepada klien bahwa setiap hidup manusia mempunyai tujuan yang unik yang dapat tercapai dengan suatu cara tertentu.
b.     Menjaga hubungan yang akrab dan pemisahan ilmiah, yaitu terapis pertama-tama harus menciptakan hubungan antara klien dengan mencari keseimbangan antara dua ekstrem, yakni hubungan yang akrab (seperti simpati) dan pemisahan secara ilmiah (menangani klien sejauh ia melibatkan diri dalam teknik terapi).
c.   Mengendalikan filsafat pribadi yang artinya terapis tidak boleh memindahkan filsafat pribadi pada klien karena logoterapi digunakan untuk menangani masalah-masalah yang menyangkut nilai-nilai dan amsalah spiritual, seperti aspirasi terhadap hidup yang bermakna, makna cinta, makna penderitaan, dan sebagainya.
d.      Memberi makna lagi pada hidup. Salah satu tujuan logoterapi adalah menemukan tujuan dan maksud keberadaannya kepada klien bahwa setiap kehidupan memiliki potensi-potensi yang unik dan tugas utamanya adalah menemukan potensi-potensi itu. Pemenuhan tugas ini memberi makna pada hidupnya.

C.      Teknik-Teknik Terapi
1.      Persuasif
Salah satu teknik yang digunakan dalam logoterapi adalah teknik persuasif, yaitu membantu klien untuk mengambil sikap yang lebih konstruktif dalammenghadapi kesulitannya.
2.      Intensi paradoksikal
Teknik intensi paradoksikal merupakan teknik yang dikembangkan Frankl berdasarkan kasus kecemasan antispatori, yaitu kecemasan yang ditimbulkan oleh antisipasi individu atas suatu situasi atau gejala yang ditakutinya. Teknik intensi paradoksikal (perlawanan terhadap niat) didasarkan pada dua fakta, yaitu yang pertama adalah rasa takut bisa menyebabkan terjadinya hal yang ditakutkan dan yang kedua adalah keinginan yang berlebihan bisa membuat keinginan tersebut tidak terlaksana.
3.      Derefleksi
Teknik Derefleksi, yaitu memanfaatkan kemampuan transendensi diri (self-transcendence)yang dimiliki setiap manusia dewasa. Setiap manusia dewasa memiliki kemampuan untuk membebaskan diri dan tidak lagi memperhatikan kondisi yang tidak nyaman, tetapi mampu mengalihkan dan mencurahkan perhatiannya kepada hal-hal yang positif dan bermanfaat. Di sini klien pertama-tama dibantu untuk menyadari kemampuan atau potensinya yang tidak digunakan atau terlupakan. Ini merupakan suatu jenis daya penarik terhadap nilai-nilai pasien yang terpendam. Sekali kemampuan tersebut dapat diungkapkan dalam proses konseling, maka akan muncul suatu perasaan unik, berguna dan berharga dari dalam diri klien.
4.      Bimbingan ruhani (Medical ministry)
Medical ministry merupakan salah satu metode logoterapi yang mula-mula banyak diterapkan dalam dunia medis, khususnya untuk kasus-kasus somatogenik. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, prinsip-prinsip medical ministry diamalkan juga oleh profesi lain dalam kasus-kasus tragis non-medis yang tak dapat dihindari lagi. Pendekatan ini memanfaatkan kemampuan insani untuk mengambil sikap (to take a stand) terhadap keadaan diri sendiri dan keadaan lingkungan yang tak mungkin diubah lagi. Bimbingan ruhani merupakan metode yang khusus digunakan pada penanganan kasus dimana individu dalam penderitaan karena penyakit yang tidak bisa disembuhkan atau nasib buruk yang tidak bisa diubahnya dan tidak mampu lagi untuk berbuat selain menghadapi penderitaan itu. Melalui bimbingan ruhani,  individu yang menderita didorong ke arah merealisasi nilai-nilai bersikap, menunjukkan sikap positif terhadap penderitaannya, sehingga dia bisa menemukan makna dibalik penderitaannya.



Referensi
Corey, G. (2007). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT. Refika Aditama.
Konseling Eksistensial Humanistik. Diakses dari https://www.scribd.com/doc/202049846/KONSELING-EKSISTENSIAL-HUMANISTIK-pdf.
Terapi Eksistensial Humanistik. Diakses dari http://dokumen.tips/documents/terapi-eksistensial-humanistik.html.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar