Created
by :
·
Dyah Ayu Septiyaningrum (12513737)
·
Pingkan Aulia Cahyaningtyas (16513863)
·
Rosyidah Nur Syahidah (17513295)
·
Siti Meysaroh (18513569)
Analisis Film “MARY AND MAX”
Review
Film “MARY AND MAX”
Mary and max adalah
film animasi stopmotion dari Australia yang disutradarai oleh Adam Elliot dan
penanganan skenario pun ditangani oleh Adam Elliot.
Film ini diproduksi
pada tahun 2009 dengan mengambil setting waktu tahun 1976 dan berlokasi di
Mount Waverley, kawasan pinggiran di Melbourne Australia, tempat tinggal Mary
Daisy Dinkle (Toni Collette). Mary adalah seorang gadis berusia 8 tahun yang
hidupnya kesepian dan Mary tidak seberuntung anak-anak lain seusianya yang
dapat hidup bahagia dengan keluarganya karena kedua orang tua Mary sibuk dengan
urusannya masing-masing.
Mary berasal dari
keluarga miskin. Ayah Mary adalah seorang buruh pabrik yang selalu sibuk
bekerja, sementara ibu Mary adalah seorang ibu rumah tangga yang alkoholik dan
kleptomania yang jarang memperhatikan Mary, sehingga mereka tidak memiliki
waktu untuk Mary.
Sebagai seorang anak
kecil pada umumnya yang penuh dengan rasa ingin tahu, Mary sebenarnya memiliki
banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada orang tuanya, namun karena
orang tuanya terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing, Mary akhirnya
tidak tahu harus menanyakan pertanyaannya tersebut kepada siapa. Dan akhirnya
pada suatu ketika, Mary memutuskan untuk menulis sebuah surat kepada seseorang
yang dipilihnya secara acak melalui buku telepon Internasional, seseorang itu
bernama Max Jerry Horovits (Philip Seymour Hoffman). Max adalah seorang atheis
Amerika keturunan Yahudi yang berusia 44 tahun dan tinggal di kota New York,
Amerika Serikat.
Berawal dari surat
pertama yang dituliskan Mary untuk Max, persahabatan unik yang memiliki
perbedaan usia cukup jauh ini pun dimulai. Meskipun pada awalnya surat dari
Mary membuat Max panik, namun akhirnya Max memutuskan untuk membalas surat
tersebut.
Perbedaan umur dan
jarak yang sangat jauh diantara mereka bukan menjadi halangan bagi Mary dan Max
untuk berbagi cerita dan pengalaman hidup mereka masing-masing. Mary dan Max
pun memiliki banyak kesamaan, diantaranya adalah mereka menyukai coklat dan
mereka suka menonton serial tv berjudul The Noblets. Max dan Mary juga memiliki
persamaan mendasar yang membuat mereka merasa memiliki perasaan senasib, yaitu
keduanya tidak memiliki teman. Mary selalu menjadi sasaran bullying dan ejekan
teman-temannya karena Mary memiliki tanda lahir di dahinya yang berwarna
seperti kotoran. Sementara Max menderita Asperger
Syndrome yang membuat Max sulit mengartikan ekspresi orang-orang di
sekelilingnya dan membuat Max sulit untuk mengekspresikan perasaannya kepada
orang lain, sehingga Max menjadi terkesan antisosial.
Max sebenarnya sangat
ingin memiliki teman yang benar-benar nyata. Oleh karena itu, surat dari Mary
menjadikan Mary satu-satunya teman yang dimiliki Max dan persahabatan melalui
surat ini pun terjalin kurang lebih 20 tahun lamanya. Namun, dalam sebuah
persahabatan pasti akan ada masalah yang datang. Hubungan Mary dan Max
mengalami titik terendah ketika terjadi kesalahpahaman, yaitu Max merasa
dirinya dimanfaatkan oleh Mary. Kesalahpahaman tersebut membuat Mary terpuruk,
namun akhirnya Max membukakan pintu maaf untuk Mary.
Mary dan Max selalu
saling mendukung satu sama lain disaat mereka senang maupun sedih. Mereka
saling membantu dalam menghadapi setiap masalah yang sedang dihadapi dan mereka
akhirnya menemukan apa yang dinamakan persahabatan sejati.
Persahabatan yang
terjalin diantara Mary dan Max cukup unik dan tidak biasa. Persahabatan yang
dijalin oleh Mary dan Max ini merupakan persahabatan yang tulus tanpa memandang
usia, jenis kelamin, budaya, dan sebagainya. Pertemanan atau lebih tepatnya
persahabatan dapat terjalin karena beberapa hal, salah satunya adalah persamaan
dan dapat juga terjalin karena adanya kepercayaan seperti persahabatan yang
telah dijalin oleh Mary dan Max.
Meskipun film ini
adalah film animasi, namun film ini sangat tidak cocok untuk anak-anak karena
menampilkan kisah dimana didalamnya terdapat masalah yang cukup berat, seperti
kesepian, perasaan cemas, depresi, hingga bunuh diri dan film ini juga penuh
dengan tema-tema dewasa yang sangat tidak pantas jika disaksikan oleh
anak-anak.
Film Mary and Max ini
memiliki pesan yang bagus, yaitu jika kita ingin diterima atau disukai oleh
orang lain, ada baiknya jika kita menyukai diri kita sendiri terlebih dahulu
(Love Yourself First).
“Sometimes
perfect strangers make the best friends”
Analisis
Film “MARY AND MAX”
Berdasarkan review film
Mery and Max diatas, dapat diketahui bahwa salah satu tokoh di film tersebutyang
bernama Max Jerry Horovits (Philip Seymour Hoffman) mengalami Asperger Syndrome atau Sindrom Asperger. Sindrom Asperger merupakan suatu gejala kelainan perkembangan syaraf
otak atau merupakan gangguan neurobiologis
yang dapat terjadi pada anak-anak dan orang dewasa. Sindrom Asperger juga merupakan salah satu tipe Pervasive Development Disorder (PDDs).
PDDs merupakan sekelompok kondisi termasuk keterlambatan perkembangan keahlian
dasar, seperti berkomunikasi, keterampilan bersosialisasi dengan lingkungan,
dan menggunakan imajinasi. Meskipun Sindrom
Asperger mempunyai kesaman dengan Autisme
(jenis PPDs yang lebih parah), namun gangguan ini memiliki perbedaan di
beberapa bidang. Penderita Sindrom
Asperger pada umumnya memiliki fungsi lebih baik dibandingkan penderita Autisme. Selain itu, penderita Sindrom Asperger umumnya mempunyai
kecerdasan yang normal. Dan meskipun penderita Sindrom Asperger kemungkinan mengalami gangguan berkomunikasi,
namun mereka cenderung memiliki perkembangan bahasa yang mendekati normal.
Menurut Clinical Assistant Professor of Pediatrics
Jefferson Medical College Philadelphia, Susan B. Stine, MD mengatakan bahwa
karakter dari penderita Sindrom Asperger
adalah kurangnya kemampuan berinteraksi sosial, pola bicara yang tidak biasa,
dan tingkah laku khusus lainnya. Kemudian, penderita Sindrom Asperger biasanya sangat sulit untuk menampilkan ekspresi
di wajahnya, serta sulit untuk membaca bahasa tubuh pada orang lain. Selain
itu, menurut Stine, ciri dari penderita Sindrom
Asperger adalah terlambatnya kemampuan motorik, ceroboh, minat yang
terbatas, dan perhatian yang berlebihan terhadap kegiatan tertentu.
Seorang penderita Sindrom Asperger dapat memperlihatkan
kekurangan dalam bersosialisasi, mengalami kesulitan jika terjadi perubahan,
dan selalu melakukan hal-hal yang sama berulang-ulang. Penderita Sindrom Asperger juga mengalami
kesulitan dalam menentukan dengan baik posisi badan dalam ruang (orientasi
ruang dan bentuk). Penderita Sindrom
Asperger sering terobsesi oleh rutinitas dan menyibukkan diri dengan suatu
aktivitas yang menarik perhatian mereka.
Penderita Sindrom Asperger sering mempunyai
masalah ketika menggunakan bahasa dalam konteks sosial (pragmati) dan tidak mampu mengenali sebuah kata yang memiliki arti
yang berbeda-beda (semantic) serta
khas dalam berbicara/prosodi (tinggi rendahnya suara, serta tekanan dalam
berbicara).
Karena memiliki
perasaan terlalu sensitif yang berlebihan terhadap suara, rasa, penciuman, dan
penglihatan, penderita Sindrom Asperger
lebih menyukai pakaian yang lembut, makanan tertentu, dan merasa terganggu oleh
suatu keributan atau penerangan lampu dimana orang normal tidak dapat mendengar
atau melihatnya. Penting untuk diperhatikan bahwa penderita Sindrom Asperger memandang dunia dengan
cara yang berlainan. Oleh karena itu, banyak perilaku yang aneh dan luar biasa
yang disebabkan oleh perbedaan neurobiologi
tersebut, bukan karena sengaja berlaku kasar atau berlaku tidak sopan.
Para penderita Sindrom Asperger dinilai sebagai pribadi
yang eksentrik oleh orang lain, aneh, dan mudah dijadikan bahan untuk ejekan
karena mereka memiliki fungsionalitas tingkat tinggi dan bersifat naif, serta
karena mereka terlihat sebagai pribadi yang kurang bersosialisasi.
Menurut Stine,
penderita Sindrom Asperger yang
beranjak dewasa, biasanya akan merasa kesulitan untuk mengungkapkan empati
kepada orang lain, serta tetap kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain.
Penderita Sindrom Asperger memiliki kemampuan
linguistik dan kognitif yang relatif tidak mengalami penurunan, bahkan memiliki
IQ yang relatif tinggi atau rata-rata (ini berarti sebagian besar penderita Sindrom Asperger bisa hidup secara
mandiri). Sindrom Asperger juga bukan
sebuah penyakit mental.
Gangguan Sindrom Asperger pada umumnya akan terus
mengikuti perkembangan usia seseorang. Meski tidak membahayakan jiwa, namun
gangguan itu dapat membuat penderitanya takut berada di keramaian dan dapat
membuat depresi.
Ciri yang menonjol pada
penderita Sindrom Asperger adalah
mereka tidak bisa membaca kode-kode atau ekspresi wajah seseorang dan karena
ketidakmampuannya itu, meraka dijauhi oleh teman-temannya.
Penderita Sindrom Asperger biasanya akan menetap
seumur hidup. Namun, gejala tersebut dapat dikurangi dan diperbaiki dalam kurun
waktu tertentu terutama deteksi dini Sindrom
Asperger akan sangat membantu.
Sesuai
dengan perkembangan otak, kalau kelainan itu diketahui lebih dini, maka dapat distimulasi
atau diberi obat agar berkembang ke arah yang baik. Namun, kalau sudah
terlambat deteksinya, yaitu sudah berusia lima atau enam tahun, maka akan sulit
penanganannya karena perkembangan otak sudah berhenti. Pada umur lima tahun, bagian
otak yang disebut sinaps (sambungan
antar saraf di mana bahan kimia serotonin bekerja) akan berhenti.
Sindrom
Asperger ini lebih umum dialami oleh laki-laki dibandingkan
perempuan dan biasanya terdiagnosis saat seseorang berusia antara dua dan enam
tahun.
Penyebab pasti gangguan
Sindrom Asperger ini masih belum
diketahui. Akan tetapi, fakta menunjukkan adanya kecenderungan bahwa gangguan
ini diturunkan dalam keluarga. Sindrom
Asperger juga diperkirakan terjadi akibat kombinasi dari faktor psikologis, fisiologis, dan sosiologis.
Gangguan Sindrom Asperger ini dapat
dipicu oleh disfungsi otak yang bisa terjadi akibat trauma, penyakit, atau
struktur otak yang abnormal.
Gejala Sindrom Asperger bervariasi dan memiliki rentang dari ringan hingga
berat. Namun, terdapat beberapa gejala-gejala umum Sindrom Asperger, yaitu :
·
Gangguan
keterampilan sosial.
Penderita
Sindrom Asperger pada umumnya
kesulitan berinteraksi dengan orang lain dan seringkali kaku dalam situasi
sosial.
·
Kesulitan
berkomunikasi.
Penderita
Sindrom Asperger kemungkinan tidak
melakukan kontak mata saat berbicara dengan seseorang. Mereka mungkin
bermasalah dalam menggunakan ekspresi dan gerak tubuh, serta kesulitan dalam
memahami bahasa tubuh. Selain itu, mereka cenderung bermasalah memahami bahasa
dalam konteks.
·
Ketertarikan
yang terbatas.
Penderita
Sindrom Asperger kemungkinan memiliki
ketertarikan yang intens dan bahkan terobsesi terhadap hal-hal tertentu saja.
·
Masalah
koordinasi.
Gerakan
penderita Sindrom Asperger terlihat
ceroboh dan kaku.
·
Perilaku
eksentrik atau kebiasaan yang berulang-ulang.
Penderita
Sindrom Asperger kemungkinan
melakukan gerakan-gerakan yang berulang. Mereka juga memiliki kebiasaan
tertentu yang harus selalu diikuti.
·
Berbakat
di bidang tertentu.
Banyak
orang yang menderita Sindrom Asperger
sangat berbakat di bidang tertentu.
·
Kesulitan
berempati dengan orang lain.
·
Berada
di bawah tekanan jika rutinitas berubah.
·
Memiliki
masalah dalam mengelola amarah, mengendalikan perasaan cemas, depresi, dan
ketakutan.
Dalam film Mary and Max ini,
karakteristik Sindrom Asperger digambarkan
dengan baik. Dalam cerita film Mary and Max, tokoh Max yang menderita Sindrom Asperger mengungkapkan lima
karakteristik yang dimilikinya, yaitu :
·
I
find the world very confusing and
chaotic because my mind is very literal and logical.
(Dunia
sangat membingungkan dan kacau karena pikiran saya sangat harfiah dan logis).
Salah
satu karakteristik pada Sindrom Asperger
yang diderita Max adalah ketidakmampuan membaca situasi sosial.
·
I
have trouble in understanding the expression on people’s face.
(Saya
memiliki masalah dalam memahami ekspresi wajah orang).
Penderita
Sindrom Asperger memiliki kesulitan
dalam berkomunikasi secara verbal dan non verbal dengan orang lain.
Didalam
film ini, diceritakan bahwa Max pernah diserang oleh seekor burung ketika
sedang berjalan, sehingga Max harus menggunakan helm kemanapun ia pergi. Max
dan helm tersebut membuat orang lain geli melihatnya dan akhirnya menertawakan
Max. Max tahu orang lain menertawakannya, namun Max tidak mengerti mengapa
orang lain menertawakannya.
·
Bad
handwriting and hypersensitive, clums, and get very concerned.
(Memiliki
tulisan buruk dan terlalu sensitif, pemalu, dan penasaran).
Hypersensitivitas
yang dimiliki penderita Sindrom Asperger
ditandai dengan adanya sensitivitas sensori yang berlebih.
Didalam
film ini, diceritakan bahwa Max mudah terkejut ketika mendengar suara dering
telepon. Max menganggap New York (tempat tinggalnya) sangat tidak cocok baginya
karena terlalu ramai, lampu-lampunya terang benderang, terdengar suara yang
tiba-tiba, dan bebauan yang kuat. Max mengatakan bahwa ia ingin tinggal di
bulan karena lebih hening.
Hypersensitivitas
yang dimiliki Max ini membuat Max menggunakan penyumbat hidung dan telinga
ketika keluar dari apartmentnya.
·
I
like solving problems.
(Saya
suka menyelesaikan masalah).
Didalam
film ini, diceritakan bahwa Max dapat memecahkan Rubik’s Cube.
·
I
have trouble expressing my emotions.
(Saya
memiliki masalah untuk mengekspresikan emosi saya).
Selain
memiliki kesulitan dalam membaca ekspresi, penderita Sindrom Asperger juga sulit untuk mengekspresikan emosinya.
Didalam
film ini, diceritakan bahwa Max kesulitan untuk tersenyum walaupun Max
mengalami suatu hal yang menyenangkan.
Didalam
film ini juga diceritakan bahwa Max pernah merasakan cinta, namun sulit untuk
mengekspresikannya. Max mengatakan, “Love
is a foreign language like a scuba diving or jogging”.
Pada umumnya penderita Sindrom Asperger suka berteman, walaupun
dengan gaya bahasa dan mimik yang formal. Penderita Sindrom Asperger sulit untuk memulai percakapan, serta sulit untuk mengerti
makna dan interaksi sosial. Jika dilihat dari Psikologi Sosial, seorang
psikiater asal Wina bernama Alfred Adler, berpendapat bahwa pada dasarnya
setiap manusia dimotivasi oleh dorongan-dorongan sosial dan manusia adalah
makhluk sosial. Dorongan ini dibawa sejak lahir meskipun tipe-tipe khusus
hubungan manusia dan pranata-pranata sosial yang berkembang ditentukan oleh
corak masyarakat tempat manusia itu dilahirkan.
Jika mengikuti teori
Adler, seseorang yang memiliki pribadi introvert
atau bahkan seseorang yang menderita Sindrom
Asperger seperti Max, pasti memiliki minat sosial. Walaupun tidak muncul
secara spontan, ini adalah sebuah kodrat dan bukan karena kebiasaan belaka.
Oleh karena itu, tidak heran ketika munculnya sebuah ironi dalam
keterbatasannya berhubungan sosial ketika Max berkata kepada Mary melalui
suratnya, “I find human is interesting
but I have trouble understanding them. I think, however, I will understand and
trust you”.
Terdapat beberapa prosedur perawatan dan
pengobatan yang dapat dilakukan untuk penderita Sindrom Asperger meskipun Sindrom
Asperger belum bisa disembuhkan sepenuhnya. Akan tetapi, terdapat beberapa
penanganan dan beberapa terapi untuk meningkatkan fungsi dan mengurangi
perilaku yang tidak diinginkan. Berikut ini adalah beberapa penanganan dan
terapi untuk para penderita Sindrom
Asperger :
·
Pendidikan
Khusus
Pendidikan
yang didisain untuk memenuhi kebutuhan pendidikan seseorang yang unik.
·
Modifikasi
Perilaku
Hal
ini meliputi strategi untuk mendukung perilaku positif dan untuk mengurangi
perilaku yang bermasalah.
·
Terapi
Bicara, Fisik dan Terapi Okupasional
Terapi
ini didisain untuk meningkatkan kemampuan fungsional seseorang.
·
Terapi
Perilaku Kognitif
·
Pelatihan
Ketrampilan Sosial
·
Obat-obatan.
Tidak ada obat yang
khusus untuk menangani penderita Sindrom
Asperger. Akan tetapi, obat-obatan dapat digunakan untuk mengatasi gejala
khusus, seperti kecemasan, depresi, serta perilaku yang hiperaktif dan
terobsesi.
Penserita Sindrom Asperger dapat dilakukan terapi,
terutama dalam hal kemampuan bersosialisasi karena kemampuan bersosialisasi
mereka sangat kurang. Cara terapi yang paling baik adalah mengajarkan penderita
Sindrom Asperger bagaimana
berinteraksi dengan orang lain dan akan lebih baik lagi jika terapi dilakukan
dalam bentuk peer group.
Banyak
dari perilaku penderita Sindrom Asperger
yang disalahpahami. Penderita Sindrom
Asperger dianggap sebagai orang yang egois, dingin, tidak peduli, dll.
Padahal perilaku tersebut bukan sesuatu yang disengaja dan bahkan tidak
disadari oleh para penderita Sindrom
Asperger.
Sumber :



