Kamis, 09 Juli 2015

Tugas Kesehatan Mental

Created by :
·         Dyah Ayu Septiyaningrum            (12513737)
·         Pingkan Aulia Cahyaningtyas       (16513863)
·         Rosyidah Nur Syahidah                (17513295)
·         Siti Meysaroh                                (18513569)


Analisis Film “MARY AND MAX”

Review Film “MARY AND MAX”
Mary and max adalah film animasi stopmotion dari Australia yang disutradarai oleh Adam Elliot dan penanganan skenario pun ditangani oleh Adam Elliot.
Film ini diproduksi pada tahun 2009 dengan mengambil setting waktu tahun 1976 dan berlokasi di Mount Waverley, kawasan pinggiran di Melbourne Australia, tempat tinggal Mary Daisy Dinkle (Toni Collette). Mary adalah seorang gadis berusia 8 tahun yang hidupnya kesepian dan Mary tidak seberuntung anak-anak lain seusianya yang dapat hidup bahagia dengan keluarganya karena kedua orang tua Mary sibuk dengan urusannya masing-masing.
Mary berasal dari keluarga miskin. Ayah Mary adalah seorang buruh pabrik yang selalu sibuk bekerja, sementara ibu Mary adalah seorang ibu rumah tangga yang alkoholik dan kleptomania yang jarang memperhatikan Mary, sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk Mary.
Sebagai seorang anak kecil pada umumnya yang penuh dengan rasa ingin tahu, Mary sebenarnya memiliki banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada orang tuanya, namun karena orang tuanya terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing, Mary akhirnya tidak tahu harus menanyakan pertanyaannya tersebut kepada siapa. Dan akhirnya pada suatu ketika, Mary memutuskan untuk menulis sebuah surat kepada seseorang yang dipilihnya secara acak melalui buku telepon Internasional, seseorang itu bernama Max Jerry Horovits (Philip Seymour Hoffman). Max adalah seorang atheis Amerika keturunan Yahudi yang berusia 44 tahun dan tinggal di kota New York, Amerika Serikat.
Berawal dari surat pertama yang dituliskan Mary untuk Max, persahabatan unik yang memiliki perbedaan usia cukup jauh ini pun dimulai. Meskipun pada awalnya surat dari Mary membuat Max panik, namun akhirnya Max memutuskan untuk membalas surat tersebut.
Perbedaan umur dan jarak yang sangat jauh diantara mereka bukan menjadi halangan bagi Mary dan Max untuk berbagi cerita dan pengalaman hidup mereka masing-masing. Mary dan Max pun memiliki banyak kesamaan, diantaranya adalah mereka menyukai coklat dan mereka suka menonton serial tv berjudul The Noblets. Max dan Mary juga memiliki persamaan mendasar yang membuat mereka merasa memiliki perasaan senasib, yaitu keduanya tidak memiliki teman. Mary selalu menjadi sasaran bullying dan ejekan teman-temannya karena Mary memiliki tanda lahir di dahinya yang berwarna seperti kotoran. Sementara Max menderita Asperger Syndrome yang membuat Max sulit mengartikan ekspresi orang-orang di sekelilingnya dan membuat Max sulit untuk mengekspresikan perasaannya kepada orang lain, sehingga Max menjadi terkesan antisosial.
Max sebenarnya sangat ingin memiliki teman yang benar-benar nyata. Oleh karena itu, surat dari Mary menjadikan Mary satu-satunya teman yang dimiliki Max dan persahabatan melalui surat ini pun terjalin kurang lebih 20 tahun lamanya. Namun, dalam sebuah persahabatan pasti akan ada masalah yang datang. Hubungan Mary dan Max mengalami titik terendah ketika terjadi kesalahpahaman, yaitu Max merasa dirinya dimanfaatkan oleh Mary. Kesalahpahaman tersebut membuat Mary terpuruk, namun akhirnya Max membukakan pintu maaf untuk Mary.
Mary dan Max selalu saling mendukung satu sama lain disaat mereka senang maupun sedih. Mereka saling membantu dalam menghadapi setiap masalah yang sedang dihadapi dan mereka akhirnya menemukan apa yang dinamakan persahabatan sejati.
Persahabatan yang terjalin diantara Mary dan Max cukup unik dan tidak biasa. Persahabatan yang dijalin oleh Mary dan Max ini merupakan persahabatan yang tulus tanpa memandang usia, jenis kelamin, budaya, dan sebagainya. Pertemanan atau lebih tepatnya persahabatan dapat terjalin karena beberapa hal, salah satunya adalah persamaan dan dapat juga terjalin karena adanya kepercayaan seperti persahabatan yang telah dijalin oleh Mary dan Max.
Meskipun film ini adalah film animasi, namun film ini sangat tidak cocok untuk anak-anak karena menampilkan kisah dimana didalamnya terdapat masalah yang cukup berat, seperti kesepian, perasaan cemas, depresi, hingga bunuh diri dan film ini juga penuh dengan tema-tema dewasa yang sangat tidak pantas jika disaksikan oleh anak-anak.
Film Mary and Max ini memiliki pesan yang bagus, yaitu jika kita ingin diterima atau disukai oleh orang lain, ada baiknya jika kita menyukai diri kita sendiri terlebih dahulu (Love Yourself First).

“Sometimes perfect strangers make the best friends”




Analisis Film “MARY AND MAX”
Berdasarkan review film Mery and Max diatas, dapat diketahui bahwa salah satu tokoh di film tersebutyang bernama Max Jerry Horovits (Philip Seymour Hoffman) mengalami Asperger Syndrome atau Sindrom Asperger. Sindrom Asperger merupakan suatu gejala kelainan perkembangan syaraf otak atau merupakan gangguan neurobiologis yang dapat terjadi pada anak-anak dan orang dewasa. Sindrom Asperger juga merupakan salah satu tipe Pervasive Development Disorder (PDDs). PDDs merupakan sekelompok kondisi termasuk keterlambatan perkembangan keahlian dasar, seperti berkomunikasi, keterampilan bersosialisasi dengan lingkungan, dan menggunakan imajinasi. Meskipun Sindrom Asperger mempunyai kesaman dengan Autisme (jenis PPDs yang lebih parah), namun gangguan ini memiliki perbedaan di beberapa bidang. Penderita Sindrom Asperger pada umumnya memiliki fungsi lebih baik dibandingkan penderita Autisme. Selain itu, penderita Sindrom Asperger umumnya mempunyai kecerdasan yang normal. Dan meskipun penderita Sindrom Asperger kemungkinan mengalami gangguan berkomunikasi, namun mereka cenderung memiliki perkembangan bahasa yang mendekati normal.
Menurut Clinical Assistant Professor of Pediatrics Jefferson Medical College Philadelphia, Susan B. Stine, MD mengatakan bahwa karakter dari penderita Sindrom Asperger adalah kurangnya kemampuan berinteraksi sosial, pola bicara yang tidak biasa, dan tingkah laku khusus lainnya. Kemudian, penderita Sindrom Asperger biasanya sangat sulit untuk menampilkan ekspresi di wajahnya, serta sulit untuk membaca bahasa tubuh pada orang lain. Selain itu, menurut Stine, ciri dari penderita Sindrom Asperger adalah terlambatnya kemampuan motorik, ceroboh, minat yang terbatas, dan perhatian yang berlebihan terhadap kegiatan tertentu.
Seorang penderita Sindrom Asperger dapat memperlihatkan kekurangan dalam bersosialisasi, mengalami kesulitan jika terjadi perubahan, dan selalu melakukan hal-hal yang sama berulang-ulang. Penderita Sindrom Asperger juga mengalami kesulitan dalam menentukan dengan baik posisi badan dalam ruang (orientasi ruang dan bentuk). Penderita Sindrom Asperger sering terobsesi oleh rutinitas dan menyibukkan diri dengan suatu aktivitas yang menarik perhatian mereka.
Penderita Sindrom Asperger sering mempunyai masalah ketika menggunakan bahasa dalam konteks sosial (pragmati) dan tidak mampu mengenali sebuah kata yang memiliki arti yang berbeda-beda (semantic) serta khas dalam berbicara/prosodi (tinggi rendahnya suara, serta tekanan dalam berbicara).
Karena memiliki perasaan terlalu sensitif yang berlebihan terhadap suara, rasa, penciuman, dan penglihatan, penderita Sindrom Asperger lebih menyukai pakaian yang lembut, makanan tertentu, dan merasa terganggu oleh suatu keributan atau penerangan lampu dimana orang normal tidak dapat mendengar atau melihatnya. Penting untuk diperhatikan bahwa penderita Sindrom Asperger memandang dunia dengan cara yang berlainan. Oleh karena itu, banyak perilaku yang aneh dan luar biasa yang disebabkan oleh perbedaan neurobiologi tersebut, bukan karena sengaja berlaku kasar atau berlaku tidak sopan.
Para penderita Sindrom Asperger dinilai sebagai pribadi yang eksentrik oleh orang lain, aneh, dan mudah dijadikan bahan untuk ejekan karena mereka memiliki fungsionalitas tingkat tinggi dan bersifat naif, serta karena mereka terlihat sebagai pribadi yang kurang bersosialisasi.
Menurut Stine, penderita Sindrom Asperger yang beranjak dewasa, biasanya akan merasa kesulitan untuk mengungkapkan empati kepada orang lain, serta tetap kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain.
Penderita Sindrom Asperger memiliki kemampuan linguistik dan kognitif yang relatif tidak mengalami penurunan, bahkan memiliki IQ yang relatif tinggi atau rata-rata (ini berarti sebagian besar penderita Sindrom Asperger bisa hidup secara mandiri). Sindrom Asperger juga bukan sebuah penyakit mental.
Gangguan Sindrom Asperger pada umumnya akan terus mengikuti perkembangan usia seseorang. Meski tidak membahayakan jiwa, namun gangguan itu dapat membuat penderitanya takut berada di keramaian dan dapat membuat depresi.
Ciri yang menonjol pada penderita Sindrom Asperger adalah mereka tidak bisa membaca kode-kode atau ekspresi wajah seseorang dan karena ketidakmampuannya itu, meraka dijauhi oleh teman-temannya.
Penderita Sindrom Asperger biasanya akan menetap seumur hidup. Namun, gejala tersebut dapat dikurangi dan diperbaiki dalam kurun waktu tertentu terutama deteksi dini Sindrom Asperger akan sangat membantu.
Sesuai dengan perkembangan otak, kalau kelainan itu diketahui lebih dini, maka dapat distimulasi atau diberi obat agar berkembang ke arah yang baik. Namun, kalau sudah terlambat deteksinya, yaitu sudah berusia lima atau enam tahun, maka akan sulit penanganannya karena perkembangan otak sudah berhenti. Pada umur lima tahun, bagian otak yang disebut sinaps (sambungan antar saraf di mana bahan kimia serotonin bekerja) akan berhenti.
Sindrom Asperger ini lebih umum dialami oleh laki-laki dibandingkan perempuan dan biasanya terdiagnosis saat seseorang berusia antara dua dan enam tahun.
Penyebab pasti gangguan Sindrom Asperger ini masih belum diketahui. Akan tetapi, fakta menunjukkan adanya kecenderungan bahwa gangguan ini diturunkan dalam keluarga. Sindrom Asperger juga diperkirakan terjadi akibat kombinasi dari faktor psikologis, fisiologis, dan sosiologis. Gangguan Sindrom Asperger ini dapat dipicu oleh disfungsi otak yang bisa terjadi akibat trauma, penyakit, atau struktur otak yang abnormal.
Gejala Sindrom Asperger bervariasi dan memiliki rentang dari ringan hingga berat. Namun, terdapat beberapa gejala-gejala umum Sindrom Asperger, yaitu :
·         Gangguan keterampilan sosial.
Penderita Sindrom Asperger pada umumnya kesulitan berinteraksi dengan orang lain dan seringkali kaku dalam situasi sosial.
·         Kesulitan berkomunikasi.
Penderita Sindrom Asperger kemungkinan tidak melakukan kontak mata saat berbicara dengan seseorang. Mereka mungkin bermasalah dalam menggunakan ekspresi dan gerak tubuh, serta kesulitan dalam memahami bahasa tubuh. Selain itu, mereka cenderung bermasalah memahami bahasa dalam konteks.
·         Ketertarikan yang terbatas.
Penderita Sindrom Asperger kemungkinan memiliki ketertarikan yang intens dan bahkan terobsesi terhadap hal-hal tertentu saja.
·         Masalah koordinasi.
Gerakan penderita Sindrom Asperger terlihat ceroboh dan kaku.
·         Perilaku eksentrik atau kebiasaan yang berulang-ulang.
Penderita Sindrom Asperger kemungkinan melakukan gerakan-gerakan yang berulang. Mereka juga memiliki kebiasaan tertentu yang harus selalu diikuti.
·         Berbakat di bidang tertentu.
Banyak orang yang menderita Sindrom Asperger sangat berbakat di bidang tertentu.
·        Kesulitan berempati dengan orang lain.
·        Berada di bawah tekanan jika rutinitas berubah.
·        Memiliki masalah dalam mengelola amarah, mengendalikan perasaan cemas, depresi, dan ketakutan.
Dalam film Mary and Max ini, karakteristik Sindrom Asperger digambarkan dengan baik. Dalam cerita film Mary and Max, tokoh Max yang menderita Sindrom Asperger mengungkapkan lima karakteristik yang dimilikinya, yaitu :
·         I find the world very confusing  and chaotic because my mind is very literal and logical.
(Dunia sangat membingungkan dan kacau karena pikiran saya sangat harfiah dan logis).
Salah satu karakteristik pada Sindrom Asperger yang diderita Max adalah ketidakmampuan membaca situasi sosial.
·         I have trouble in understanding the expression on people’s face.
(Saya memiliki masalah dalam memahami ekspresi wajah orang).
Penderita Sindrom Asperger memiliki kesulitan dalam berkomunikasi secara verbal dan non verbal dengan orang lain.
Didalam film ini, diceritakan bahwa Max pernah diserang oleh seekor burung ketika sedang berjalan, sehingga Max harus menggunakan helm kemanapun ia pergi. Max dan helm tersebut membuat orang lain geli melihatnya dan akhirnya menertawakan Max. Max tahu orang lain menertawakannya, namun Max tidak mengerti mengapa orang lain menertawakannya.
·         Bad handwriting and hypersensitive, clums, and get very concerned.
(Memiliki tulisan buruk dan terlalu sensitif, pemalu, dan penasaran).
Hypersensitivitas yang dimiliki penderita Sindrom Asperger ditandai dengan adanya sensitivitas sensori yang berlebih.
Didalam film ini, diceritakan bahwa Max mudah terkejut ketika mendengar suara dering telepon. Max menganggap New York (tempat tinggalnya) sangat tidak cocok baginya karena terlalu ramai, lampu-lampunya terang benderang, terdengar suara yang tiba-tiba, dan bebauan yang kuat. Max mengatakan bahwa ia ingin tinggal di bulan karena lebih hening.
Hypersensitivitas yang dimiliki Max ini membuat Max menggunakan penyumbat hidung dan telinga ketika keluar dari apartmentnya.
·         I like solving problems.
(Saya suka menyelesaikan masalah).
Didalam film ini, diceritakan bahwa Max dapat memecahkan Rubik’s Cube.
·         I have trouble expressing my emotions.
(Saya memiliki masalah untuk mengekspresikan emosi saya).
Selain memiliki kesulitan dalam membaca ekspresi, penderita Sindrom Asperger juga sulit untuk mengekspresikan emosinya.
Didalam film ini, diceritakan bahwa Max kesulitan untuk tersenyum walaupun Max mengalami suatu hal yang menyenangkan.
Didalam film ini juga diceritakan bahwa Max pernah merasakan cinta, namun sulit untuk mengekspresikannya. Max mengatakan, “Love is a foreign language like a scuba diving or jogging”.
Pada umumnya penderita Sindrom Asperger suka berteman, walaupun dengan gaya bahasa dan mimik yang formal. Penderita Sindrom Asperger sulit untuk memulai percakapan, serta sulit untuk mengerti makna dan interaksi sosial. Jika dilihat dari Psikologi Sosial, seorang psikiater asal Wina bernama Alfred Adler, berpendapat bahwa pada dasarnya setiap manusia dimotivasi oleh dorongan-dorongan sosial dan manusia adalah makhluk sosial. Dorongan ini dibawa sejak lahir meskipun tipe-tipe khusus hubungan manusia dan pranata-pranata sosial yang berkembang ditentukan oleh corak masyarakat tempat manusia itu dilahirkan.
Jika mengikuti teori Adler, seseorang yang memiliki pribadi introvert atau bahkan seseorang yang menderita Sindrom Asperger seperti Max, pasti memiliki minat sosial. Walaupun tidak muncul secara spontan, ini adalah sebuah kodrat dan bukan karena kebiasaan belaka. Oleh karena itu, tidak heran ketika munculnya sebuah ironi dalam keterbatasannya berhubungan sosial ketika Max berkata kepada Mary melalui suratnya, “I find human is interesting but I have trouble understanding them. I think, however, I will understand and trust you”.
Terdapat beberapa prosedur perawatan dan pengobatan yang dapat dilakukan untuk penderita Sindrom Asperger meskipun Sindrom Asperger belum bisa disembuhkan sepenuhnya. Akan tetapi, terdapat beberapa penanganan dan beberapa terapi untuk meningkatkan fungsi dan mengurangi perilaku yang tidak diinginkan. Berikut ini adalah beberapa penanganan dan terapi untuk para penderita Sindrom Asperger :
·         Pendidikan Khusus
Pendidikan yang didisain untuk memenuhi kebutuhan pendidikan seseorang yang unik.
·         Modifikasi Perilaku
Hal ini meliputi strategi untuk mendukung perilaku positif dan untuk mengurangi perilaku yang bermasalah.
·         Terapi Bicara, Fisik dan Terapi Okupasional
Terapi ini didisain untuk meningkatkan kemampuan fungsional seseorang.
·        Terapi Perilaku Kognitif
·        Pelatihan Ketrampilan Sosial
·        Obat-obatan.
Tidak ada obat yang khusus untuk menangani penderita Sindrom Asperger. Akan tetapi, obat-obatan dapat digunakan untuk mengatasi gejala khusus, seperti kecemasan, depresi, serta perilaku yang hiperaktif dan terobsesi.
Penserita Sindrom Asperger dapat dilakukan terapi, terutama dalam hal kemampuan bersosialisasi karena kemampuan bersosialisasi mereka sangat kurang. Cara terapi yang paling baik adalah mengajarkan penderita Sindrom Asperger bagaimana berinteraksi dengan orang lain dan akan lebih baik lagi jika terapi dilakukan dalam bentuk peer group.
Banyak dari perilaku penderita Sindrom Asperger yang disalahpahami. Penderita Sindrom Asperger dianggap sebagai orang yang egois, dingin, tidak peduli, dll. Padahal perilaku tersebut bukan sesuatu yang disengaja dan bahkan tidak disadari oleh para penderita Sindrom Asperger.

Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar