Kamis, 31 Desember 2015

Tugas 4 Psikologi Manajemen

I.   Komunikasi dalam Manajemen
A.   Pengertian Komunikasi
Komunikasi merupakan rangkaian proses pengalihan informasi dari satu orang kepada orang lain dengan maksud tertentu. Menurut Theodorson dan Thedorson, komunikasi adalah penyebaran informasi, ide-ide sebagai sikap atau emosi dari seseorang kepada orang lain terutama melalui simbol-simbol.
Sementara menurut Edwin Emery, komunikasi adalah seni menyampaikan informasi, ide, dan sikap seseorang kepada orang lain. Menurut William Albig, komunikasi adalah proses sosial, dalam arti pelemparan pesan/lambang yang mana mau tidak mau akan menumbuhkan pengaruh pada semua proses dan berakibat pada bentuk perilaku manusia dan adat kebiasaan.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah seni menyampaikan informasi, penyebaran informasi, atau rangkaian proses pengalihan informasi dari seseorang kepada orang lain terutama melalui simbol-simbol atau dapat juga diartikan sebagai proses sosial yang akan menumbuhkan pengaruh pada semua proses dan berakibat pada bentuk perilaku manusia dan adat kebiasaan.

B.    Proses Komunikasi
Proses komunikasi adalah setiap langkah mulai dari saat menciptakan informasi sampai dipahami oleh komunikan. Dalam aplikasinya, langkah-langkah dalam proses komunikasi adalah sebagai berikut:
1.      Langkah pertama, ide atau gagasan diciptakan oleh sumber atau komunikator.
2.  Langkah kedua, ide yang diciptakan tersebut kemudian dialihbentukan menjadi lambang-lambang komunikasi yang mempunyai makna dan dapat dikirimkan.
3.    Langkah ketiga, pesan yang telah di-encoding tersebut selanjutnya dikirimkan melalui saluran atau media yang sesuai dengan karateristik lambang-lambang komunikasi ditujukan kepada komunikan.
4.   Langkah keempat, penerima menafsirkan isi pesan sesuai dengan persepsinya untuk mengartikan maksud pesan tersebut.
5.  Langkah kelima, apabila pesan tersebut telah berhasil di-decoding, khalayak akan mengirim kembali pesan tersebut ke komunikator.
Wilbur Schramm mengatakan bahwa untuk terjadinya proses komunikasi paling sedikit harus memiliki 3 unsur komunikasi, yaitu komunikator, pesan, dan komunikan.
Menurut Bovee dan Thill dalam buku Business Communication Today, 6e, proses komunikasi terdiri atas enam tahap, yaitu:
1.      Pengirim mempunyai suatu ide atau gagasan.
2.      Pengirim mengubah ide menjadi suatu pesan.
3.      Pengirim menyampaikan pesan.
4.      Penerima menerima pesan.
5.      Penerima menafsirkan pesan.
6.      Penerima memberi tanggapan dan mengirim umpan balik kepada pengirim.

C.   Hambatan Komunikasi
Ada banyak hal yang dapat mengganggu kita untuk berkomunikasi secara efektif. Komunikasi dikatakan berhasil hanya jika penerima memahami pesan seperti yang dimaksudkan oleh pengirim. Gangguan merupakan segala campur tangan dalam proses komunikasi yang mengubah atau mengaburkan apa yang diartikan oleh pengirim.
Menurut Robbins (2003), ada empat hambatan komunikasi yang akan mempengaruhi kualitas komunikasi yang kita lakukan, diantaranya adalah:
1.      Perbedaan Bahasa dan Persepsi
Setiap hari kita menerima input berupa pemandangan, suara, bau, dan sebagainya. Lesikar dkk (1999) mengilustrasikan pikiran kita yang mengatur input menjadi peta mental (mental map) yang mewakili persepsi kita mengenai realitas. Bahkan bila dua orang mengalami peristiwa yang sama, bayangan mental mereka mengenai peristiwa itu tidak akan identik. Karena persepsi seseorang unik, maka gagasan yang ingin disampaikan berbeda dengan orang lain. Sebagai pengirim, seseorang memilih rincian yang tampaknya penting bagi dirinya, yaitu proses yang dikenal sebagai persepsi selektif. Sebagai penerima, seseorang mencoba menyesuaikan rincian baru ke dalam pola yang sudah ada dala dirinya. Apabila rincian yang dimaksud tidak ada kesesuaian, kita cenderung mengubah informasi itu ketimbang mengatur ulang pola yang sudah ada. Hal ini yang menyebabkan pengertian kita terhadap sesuatu hal akan berbeda secara dramatis dengan orang lain. Namun, semakin banyak pengalaman yang dibagi, semakin tinggi tingkat pemahaman satu sama lain.
2.      Gangguan Komunikasi
Menurut Locker (2000), ada 2 gangguan dalam berkomunikasi, yaitu:
a.       Gangguan Emosional
Seseorang akan kesulitan dalam menyusun pesan jika sedang kecewa, marah, atau takut. Hal ini yang menyebabkan gagasan dan perasaan sering membuat seseorang sulit bersikap objektif. Walaupun kita tidak mungkin menghindari komunikasi dengan orang lain ketika emosi kita terlibat, namun akan lebih baik apabila kita waspada akan kemungkinan besarnya kesalahpahaman yang akan terjadi akibat emosi kita terlibat di dalamnya.
b.      Gangguan Fisik
Hambatan komunikasi sering kali bersifat fisik, yaitu hubungan yang buruk, akustik yang jelek, dan tulisan yang tidak dapat dibaca. Gangguan jenis ini dapat menghambat pesan yang sebenarnya efektif. Penerima pesan mungkin terganggu oleh kursi yang tidak nyaman, cahaya yang redup, masalah kesehatan, atau beberapa kondisi yang menimbulkan gangguan secara fisik. Semua gangguan ini pada umumnya tidak menghambat komunikasi, tetapi akan mengurangi konsentrasi penerima.
3.      Overload Informasi
Komunikasi bisnis sering terganggu karena materinya rumit dan kontroversial. Jumlah pesan bisnis yang disampaikan semakin hari semakin banyak dan peluang untuk terjadinya umpan balik sering terbatas, sehingga sulit untuk meluruskan salah pengertian ketika hal itu terjadi. Dengan memahami berbagai tipe hambatan komunikasi yang ada dalam organisasi, peluang untuk mengatasinya akan meningkat. Teknologi baru pada satu sisi semakin mempermudah pekerjaan staf administrasi, namun di sisi lain juga menambah beban mereka. Sebagai akibatnya, sebagian besar orang terbenam dalam pesan dan akan mengabaikan berita yang menurut mereka tidak penting, menunda menanggapinya, atau menjawab tidak lengkap atau tidak akurat.
4.      Penyaringan yang Tidak Tepat
Menyaring adalah membuang atau menyingkat informasi sebelum pesan itu diteruskan kepada orang lain. Namun apabila hal tersebut mempengaruhi jumlah dan mutu informasi yang diteruskan, tentu akan mempengaruhi komunikasi efektif yang diharapkan.
Penyebab-penyebab dari hambatan komunikasi antara lain sebagai berikut:
1.      Komunikator berpikir dalam lingkup dirinya sendiri;
2.   Berbicara dengan konteks penuh rahasia dan disampaikan dalam waktu yang kurang tepat;
3.      Tanpa memberi contoh nyata, penjelasan sifatnya hanya umum;
4.    Bersikap diktator, kurang menggunakan perasaan sebagai pimpinan, sebagai teman;
5.      Lamban, tidak efisien;
6.      Terlalu cepat mengambil keputusan;
7.      Tidak konsekuen, tidak ada alternatif.

D. Definisi Komunikasi Interpersonal Efektif dalam Organisasi yang Mencakup Componential dan Situational
Komunikasi interpersonal dapat dikatakan efektif apabila pesan diterima dan dimengerti sebagaimana dimaksud oleh pengirim pesan, pesan ditindaklanjuti dengan sebuah pembuatan secara sukarela oleh penerima pesan, dapat meningkatkan kualitas hubungan antarpribadi, dan tidak ada hambatan akan hal itu (Hardjana, 2003 dalam Suranto, 2011). Komunikasi interpersonal efektif adalah komunikasi yang terkandung dalam tatap muka dan saling mempengaruhi, mendengarkan, menyampaikan pernyataan, keterbukaan, kepekaan yang merupakan cara paling efektif dalam mengubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang dengan efek umpan balik secara langsung.
Komunikasi dalam organisasi atau perusahaan dapat menentukan efektif atau tidaknya suatu penyampaian pesan atau perintah antar anggota organisasi, baik antara atasan dengan bawahan (downward communication), bawahan dengan atasan (upward communication), maupun antar anggota yang jabatannya setaraf (lateral communication).
Adapun komunikasi interpersonal efektif dalam organisasi mencakup dua jenis, yaitu:
1.      Componential
Menjelaskan komunikasi antar pribadi dengan mengamati komponen-komponen utamanya, dalam hal ini adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik dengan segera.
2.      Situational
Interaksi tatap muka antara dua orang dengan potensi umpan balik langsung dengan situasi yang mendukung disekitarnya.

E.    Model Pengolahan Informasi
Model ini berdasarkan pada teori belajar kognitif (Piaget) dan berorientasi pada kemampuan seseorang dalam memproses informasi untuk memperbaiki kemampuannya. Pengolahan informasi mengacu kepada cara orang menangani rangsangan dari lingkungan, mengorganisasi data, mengembangkan konsep dan memecahkan masalah, serta menggunakan lambang verbal dan non verbal.
Model pengolahan informasi mencakup empat jenis, yaitu:
1.      Rational
Model ini berasumsi bahwa orang beroperasi dalam model pengolahan dikontrol menggunakan prosedur analitis.
2.      Limited Capacity
Model ini menunjukkan bagaimana orang menyederhanakan pengolahan informasi.
3.      Expert
Model ini bergantung pada model Limited Capacity.
4.      Cybernetic
Model ini berpendapat bahwa informasi diproses dari waktu ke waktu.

F.    Model Interaktif Manajemen
Model interaktif manajemen mencakup lima jenis, yaitu:
1.      Confidence
Dalam manajemen, timbulnya suatu interaksi karena adanya rasa nyaman. Kenyamanan tersebut dapat membuat suatu organisasi bertahan lama dan menimbulkan suatu kepercayaan dan pengertian.
2.      Immediacy
Ini adalah model organisasi yang membuat suatu organisasi tersebut menjadi segar dan tidak membosankan.
3.      Interaction Management
Adanya berbagai interaksi dalam manajemen, seperti mendengarkan dan juga menjelaskan kepada berbagai pihak yang bersangkutan.
4.      Expressiveness
Mengembangkan suatu komitmen dalam suatu organisasi dengan berbagai macam ekspresi perilaku.
5.      Other Orientation
Adanya komunikasi antara komunikasi dengan satu pihak ke pihak lain, sebagai tukar menukar informasi.


Sumber
Andayani. (2015). Problema dan aksioma: dalam metodologi pembelajaran bahasa Indonesia. Yogyakarta: Deepublish.
Briliani, N. I. (2015). Psikologi manajemen tugas VI. Diakses pada 28 Desember 2015 dari http://nataliabriliani.blogspot.co.id/2015_12_01_archive.html.
Efektivitas komunikasi interpersonal. Diakses pada tahun 2013 dari http://www.psychologymania.com/2013/04/efektivitas-komunikasi-interpersonal.html.
Novianty, A. (2014). Komunikasi dalam manajemen. Diakses pada 14 Januari 2014 dari http://alvi-novianty.blogspot.co.id/2014/01/komunikasi-dalam-manajemen.html.
Purwanto, Djoko. (2006). Komunikasi bisnis edisi ketiga. Jakarta: Erlangga.
Rumanti, M. A. (2002). Dasar-dasar public relations: teori dan praktik. Jakarta: PT Grasindo.
Sukoco, B. M. (2007). Manajemen administrasi perkantoran modern. Jakarta: Erlangga
Suprapto, Tommy. (2009). Pengantar teori dan manajemen komunikasi. Yogyakarta: Media Pressindo.
Yasa, R. (2015). Komunikasi dalam manajemen. Diakses pada 17 Januari 2015 dari http://rizkitriyasa.blogspot.co.id/2015/01/komunikasi-dalam-manajemen.html.

Jumat, 25 Desember 2015

Tugas 3 Sistem Informasi Psikologi

Impian dan Karir

Semua orang pasti memiliki impian mengenai kesuksesan di masa depan, begitupun dengan saya. Impian saya mengenai kesuksesan di masa depan berkaitan dengan cita-cita saya kedepannya ingin menjadi apa. Awalnya saya memiliki keinginan untuk menjadi dokter dan semasa SMA pun saya memilih jurusan IPA agar saya dapat mencapai keinginan saya tersebut untuk menjadi dokter. Namun selama saya bersekolah di jurusan IPA, saya memiliki hambatan dalam mempelajari mata pelajaran fisika dan saya berfikir bahwa untuk menjadi dokter harus menguasai banyak materi mengenai fisika, meskipun saya kurang tahu apa yang saya fikirkan tersebut benar atau tidak.
Seiring berjalannya waktu, saya semakin yakin bahwa untuk mencapai keinganan saya menjadi dokter merupakan hal yang sangat sulit, terlebih saya sangat kurang menguasai mata pelajaran fisika. Dan kemudian saya terfikir untuk mempelajari bidang psikologi dan menjadi seorang psikolog karena saya ingin memahami psikis maupun mental seseorang baik yang sedang mengalami suatu penyakit maupun yang sedang mengalami suatu permasalahan lain dalam hidupnya. Selain karena saya ingin memahami psikis maupun mental seseorang, saya juga ingin menyembuhkan orang-orang secara emosionalnya.
Setelah saya lulus SMA, saya memutuskan untuk berkuliah mengambil jurusan psikologi agar saya dapat mencapai keinginan saya untuk dapat memahami bidang psikologi dan menjadi seorang psikolog. Selama saya mempelajari bidang psikologi lebih jauh dalam perkuliahan, saya semakin yakin bahwa saya sangat tertarik dengan bidang psikologi dan keinginan saya untuk menjadi psikolog semakin besar. Untuk saat ini saya memiliki keinginan menjadi psikolog klinis karena saya ingin membantu menyembuhkan mereka yang mengalami gangguan psikis.

Sabtu, 21 November 2015

Tugas 3 Psikologi Manajemen

A.  Mengendalikan Fungsi Manajemen
1.    Pengertian Controlling (Mengendalikan)
Controlling (mengendalikan) merupakan fungsi manajemen yang bertugas mengawasi, mengevaluasi, memantau apa yang dilaksanakan apakah sudah sesuai atau belum dengan rencana yang telah ditetapkan dan mengimplementasikan perubahan-perubahan yang diperlukan.
Menurut Harold Koontz, pengendalian adalah pengukuran dan koreksi kinerja dalam rangka untuk memastikan bahwa tujuan-tujuan perusahaan dan rencana yang dirancang untuk mencapainya tercapai. Sedangkan Henri Fayol merumuskan salah satu definisi pertama kontrol karena berkaitan dengan manajemen, yaitu pengendalian merupakan suatu usaha terdiri dari melihat bahwa segala sesuatu yang sedang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah diadopsi, perintah yang telah diberikan, dan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.
Pengendalian, yaitu fungsi manajemen yang berhubungan dengan prosedur pengukuran hasil kerja terhadap tujuan perusahaan. Dengan kata lain, pengendalian adalah proses untuk memastikan bahwa aktivitas sebenarnya sesuai dengan aktivitas yang direncanakan. Fungsi pengendalian memastikan agar tujuan-tujuan dapat dicapai dan melakukan penyesuaian-penyesuaian jika diperlukan.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa controlling (mengendalikan) merupakan fungsi manajemen yang bertugas mengawasi, mengevaluasi, memantau kinerja, dan mengimplementasikan perubahan-perubahan yang diperlukan dalam rangka untuk memastikan bahwa sesuatu yang dilakukan sesuai dengan perintah yang telah diberikan, dan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan, serta memastikan bahwa tujuan-tujuan perusahaan dapat tercapai.

2.    Langkah-Langkah Kontrol
       Terdapat 4 langkah fundamental, yaitu :
·         Menetapkan standar
Standar pengendalian adalah target yang akan menjadi acuan perbandingan kinerja di kemudian hari. Standar yang ditetapkan bagi tujuan pengendalian harus diekspresikan dalam acuan yang dapat diukur.
·         Mengukur kinerja
Pengukuran kinerja adalah aktivitas konstan bagi sebagian besar organisasi. Kinerja karyawan dapat diukur berbasis kuantitas atau kualitas output. Ukuran kinerja harus valid agar pengendalian efektif.
·         Membandingkan kinerja dengan standar
Untuk membandingkan kinerja aktual dengan standar tergantung pada banyak faktor, diantaranya signifikansi dan kompleksitas dari apa yang dikendalikan.
·         Menentukan kebutuhan koreksi
Berbagai keputusan menyangkut tindakan korektif sangat bergantung pada keahlian analitis dan diagnosis manajer. Manajer bisa melakukan koreksi penyimpangan dari standar, atau mengubah standar (biasanya diperlukan jika standar yang ada terlalu tinggi atau terlalu rendah).

3.    Tipe-Tipe Kontrol dalam Manajemen
       Terdapat tiga tipe, diantaranya :
·         Pengawasan Pendahuluan (preliminary control)
Dirancang untuk mengantisipasi adanya penyimpangan dari standar atau  tujuan dan memungkinkan koreksi dibuat sebelum suatu tahap kegiatan tertentu diselesaikan.
·   Pengawasan yang dilakukan bersama dengan pelaksanaan kegiatan  (cocurrent control)
Proses dimana aspek tertentu dari suatu prosedur harus disetujui terlebih dahulu atau syarat tertentu harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum kegiatan-kegiatan dapat dilanjutkan, untuk menjadi semacam peralatan "double check" yang telah menjamin ketepatan pelaksanaan kegiatan.
·         Pengawasan umpan balik (feed back control)
Mengukur hasil-hasil dari suatu kegiatan yang telah diselesaikan. Berfungsi memberikan umpan balik yang dapat di gunakan untuk membuat rencana masa depan yang lebih baik
Berdasarkan bagian yang akan diawasi, pengendalian dibedakan atas :
·         Pengendalian Inventaris (Inventory control)
Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui apakah inventaris perusahaan masih ada semuanya atau ada yang hilang.
·         Pengendalian Karyawan (Personal control)
Pengendalian ini ditujukan kepada hal-hal yang ada hubungannya dengan kegiatan pegawai, apakah pegawai bekerja sesuai atau tidak dengan perintah, rencana, tata kerja, absensi pegawai dan lain-lain.
·         Pengendalian Kebijaksanaan (Policy control)
Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui dan menilai apakah kebijaksanaan organisasi telah dilaksanakan sesuai atau tidak dengan yang digariskan.
·         Pengendalian Keuangan (financial control)
Pengendalian ini ditujukan untuk hal-hal yang menyangkut keuangan, yakni pemasukan dan pengeluaran, biaya-biaya perusahaaan termasuk pengendalian anggaranya.
·         Pengendalian Pemeliharaan (maintenance control)
Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui apakah semua inventaris perusahaan dan kantor terprlihara atau tidak,dan mengetahui kerusakan. reksi itu harus dikenakan.
·         Pengendalian Penjualan (Sales control)
Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui apakah produksi yang dihasilkan terjual sesuai rencana yang ditentukan.
·         Pengendalian Produksi (Production control)
Pengendalian ini difokuskan untuk mengetahui kualitas dan kuantitas produksi yang dihasilkan, apakah sesuai atau tidak dengan standar atau rencana.
·         Pengendalian Teknis (Technical control)
Pengendalian ini ditujukan kepada hal-hal yang bersifat fisik, yang berhubungan dengan tindakan dan teknis pelaksanaan.
·         Pengendalian Waktu (Time control)
Pengendalian ini ditujukan kepada penggunaan waktu, artinya apakah waktu untuk mengerjakan suatu pekerjaan sesuai atau tidak dengan rencana.

4.    Strategi Controlling untuk Organisasi
1.      Menentukan standar yang akan digunakan sebagai dasar pengendalian.
2.   Mengukur pelaksanaan atau hasil yang sudah dicapai dengan melaksanakan evaluasi terhadap kinerja serta kompetensi SDM yang dimiliki.
3.      Membandingkan pelaksanaan atau hasil dengan standar.
Kembali membandingkan hasil pelaksanaan kegiatan dengan tujuan awal (rencana) kegiatan tersebut dilaksanakan, dan mengukur capaian keberhasilannya.
4.      Melakukan tindakan perbaikan.
Jika ada kesalahan atau penyimpangan, segera melakukan perbaikan
5.      Meninjau dan menganalisis ulang rencana.
Kembali membuat rencana baru jika terjadi penyimpangan. Namun jika hasilnya sesuai dengan tujuan program, maka perlu dibuatkan rencana lanjutan untuk melanjutkan program yang berhasil tersebut, sehingga tujuan organisasi semakin dekat untuk dicapai.


Sumber
Arifin, I., & Wagiana, G. H. (2007). Membuka Cakrawala Ekonomi. Bandung: PT Setia Purna Inves.
Bateman, T. S., & Snell, S. A. (2008). Manajemen: Kepemimpinan dan Kolaborasi dalam Dunia yang Kompetitif.  Jakarta: Salemba Empat.
Firdaus, R. B. (2014). Tipe-tipe Kontrol dan Kontrol Proses Manajemen. Diakses pada 08 Januari 2014 dari http://rachmabuana.blogspot.co.id/2014/01/tipe-tipe-kontrol-dan-kontrol-proses.html.
Irawati, R. (2014). Pengendalian (Controlling). Diakses pada 4 Februari 2014 dari http://blog.stie-mce.ac.id/rina/2014/02/04/pengendalian-controlling/.
Nggili, R. A. (2011). POAC : Planning, Organizing, Actuating, Controlling. Diakses pada 21 November 2011 dari http://rickyanggili.blogspot.co.id/2011/11/poac-planning-organizing-actuating.html.
Samjaya, A. (2013). Mengendalikan (Controlling) : Fungsi Manajemen. Diakses pada 24 November 2013 dari https://deathneverlost.wordpress.com/2013/11/24/mengendalikan-controlling-fungsi-manajemen/.
Syarifah, U. (2014). Fungsi Controlling dalam Manajemen. Diakses pada 12 Maret 2014 dari http://www.kompasiana.com/uutsyarifah/fungsi-controlling-dalam-manajemen_54f82624a33311c27b8b554b.
Wiyono, S. (2004). Manajemen Potensi Diri. Jakarta: Grasindo.




B.  Kekuasaan dan Pengaruh
1.    Pengertian Kekuasaan
Kekuasaan merupakan kapasitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain kearah pencapaian tujuan.
Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau sekelompok manusia untuk mempengaruhi tingkah laku orang lain atau kelompok lain sedemikian rupa sehingga tingkah laku tersebut menjadi sesuai dengan keinginan dan tujuan dari orang yang mempunyai kekuasaan itu.
Menurut Walterd Nord, kekuasaan ialah suatu kemampuan untuk mempengaruhi aliran energi dan dana yang tersedia untuk mencapai suatu tujuan yang berbeda secara jelas dari tujuan lainnya. Sementara menurut Amitai Etzioni, kekuasaan adalah kemampuan untuk membujuk atau mempengaruhi perilaku.
Kekuasaan juga dapat diartikan sebagai kemampuan menggunakan sumber-sumber pengaruh yang dimiliki untuk memengaruhi perilaku pihak lain sehingga pihak lain berperilaku sesuai dengan kehendak pihak yang mempengaruhi. Menurut Robert Dahl, A dikatakan memiliki kekuasaan atas B apabila A dapat mempengaruhi B untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dikehendaki B.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kekuasaan merupakan kapasitas atau kemampuan menggunakan sumber-sumber pengaruh yang dimiliki untuk membujuk atau mempengaruhi perilaku seseorang atau kelompok kearah pencapaian tujuan sehingga perilaku tersebut sesuai dengan keinginan atau kehendak yang mempengaruhi.

2.    Sumber-Sumber Kekuasaan
       Terdapat 5 sumber kekuasaan menurut French & Raven, diantaranya :
·         Kekuasaan Imbalan (Insentif Power)
Kemampuan seseorang untuk memberikan imbalan kepada orang lain karena kepatuhan mereka. Kekuasaan imbalan digunakan untuk mendukung kekuasaan legitimasi. Jika seseorang memandang bahwa imbalan, yang ditawarkan seseorang atau organisasi yang mungkin sekali akan diterimanya, mereka akan tanggap terhadap perintah. Penggunaan kekuasaan imbalan ini sangat erat kaitannya dengan teknik memodifikasi perilaku dengan menggunakan imbalan sebagai faktor pengaruh.
·         Kekuasaan Keahlian (Expert Power)
Seseorang mempunyai kekuasaan ahli jika orang itu memiliki keahlian khusus yang dinilai tinggi. Seseorang yang memiliki keahlian teknis, administratif, atau keahlian yang lain dinilai mempunyai kekuasaan, walaupun kedudukan mereka rendah. Semakin sulit mencari pengganti orang yang bersangkutan, maka semakin besar kekuasaan yang dimiliki. Dengan demikian, kekuasaan ini bersumber dari keahlian, kecakapan atau pengetahuan yang dimiliki seorang pemimpin.
·         Kekuasaan Paksaan (Coercive Power)
Para manajer menggunakan kekuasaan jenis ini agar para pengikutnya patuh pada perintah karena takut pada konsekuensi tidak menyenangkan yang mungkin akan diterimanya. Konsekuensi yang tidak menyenangkan tersebut salah satunya adalah pemberian hukuman. Pemberian hukuman kepada seseorang dimaksudkan untuk memodifikasi perilaku, menghukum perilaku yang tidak baik atau merugikan organisasi dengan maksud agar berubah menjadi perilaku yang bermanfaat. Meskipun pemberian hukuman mungkin mengakibatkan dampak yang tidak diharapkan, misalnya perasaan dendam, tetapi hukuman adalah bentuk kekuasaan paksaan yang masih digunakan untuk memperoleh kepatuhan atau memperbaiki prestasi yang tidak produktif dalam organisasi. Dengan demikian, sumber kekuasaan diperoleh dari rasa takut.
·         Kekuasaan Referensi (Referent Power)
Banyak individu yang menyatukan diri dengan atau dipengaruhi oleh seseorang karena gaya kepribadian atau perilaku orang yang bersangkutan. Dengan dimikian, kekuasaan ini bersumber dari sifat-sifat pribadi dari seorang pemimpin.
·         Kekuasaan Legitimasi (Legitimate Power)
Kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain karena posisinya. Seseorang yang tingkatannya lebih tinggi memiliki kekuasaan atas pihak yang berkedudukan lebih rendah karena orang tersebut merasakan bahwa ia mempunyai hak dan wewenang yang diperoleh dari jabatan dalam organisasi, sehingga diharapkan saran-saran akan banyak diikuti orang lain. Dengan demikian, kekuasaan ini bersumber pada jabatan yang dipegang pemimpin.

3.    Definisi Pengaruh
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang.
Pengaruh adalah kegiatan atau keteladanan yang baik secara langsung atau tidak langsung mengakibatkan suatu perubahan perilaku dan sikap orang lain atau kelompok. Pengaruh diperlukan untuk menyampaikan gagasan, mendapatkan penerimaan dari kebijakan atau rencana dan untuk memotivasi orang lain agar mendukung dan melaksanakan berbagai keputusan.
Menurut Uwe Becker, pengaruh adalah kemampuan yang terus berkembang yang (berbeda dengan kekuasaan) tidak begitu terkait dengan usaha memperjuangkan dan memaksakan kepentingan. Sementara menurut Norman Barry, pengaruh adalah suatu tipe kekuasaan yang, jika seorang yang dipengaruhi agar bertindak dengan cara tertentu, dapat dikatakan terdorong untuk bertindak demikian, sekalipun ancaman sanksi yang terbuka tidak merupakan motivasi yang mendorongnya.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pengaruh merupakan kegiatan atau keteladanan yang mengakibatkan suatu perubahan perilaku dan sikap orang lain atau kelompok serta membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang.

4.    Pengaruh Taktik dalam Organisasi
Ada 9 macam, diantaranya:
·         Legitimasi
Mengandalkan posisi kewenangan seseorang atau menekankan bahwa sebuah permintaan selaras dengan kebijakan atau ketentuan dalam organisasi.
·         Persuasi Rasional
Menyajikan argumen-argumen yang logis dan berbagai bukti faktual untuk memperlihatkan bahwa sebuah permintaan itu masuk akal.
·         Seruan Inspirasional
Mengembangkan komitmen emosional dengan cara menyerukan nilai-nilai, kebutuhan, harapan, dan aspirasi sebuah sasaran.
·         Konsultasi
Meningkatkan motivasi dan dukungan dari pihak yang menjadi sasaran dengan cara melibatkannya dalam memutuskan bagaimana rencana atau perubahan akan dijalankan.
·         Tukar Pendapat
Memberikan imbalan kepada target atau sasaran berupa uang atau penghargaan lain sebagai ganti karena mau menaati suatu permintaan.
·         Seruan Pribadi
Meminta kepatuhan berdasarkan persahabatan atau kesetiaan.
·         Menyenangkan Orang Lain
Menggunakan rayuan, pujian, atau perilaku bersahabat sebelum membuat permintaan.
·         Tekanan
Menggunakan peringatan, tuntutan tegas, dan ancaman.
·         Koalisi
Meminta bantuan orang lain untuk membujuk sasaran (target) atau menggunakan dukungan orang lain sebagai alasan agar sasaran (target) setuju.


Sumber
Budiardjo, M. (1978). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Budiardjo, M. (2008). Dasar-Dasar Ilmu Politik – Edisi Revisi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). http://kbbi.web.id/pengaruh.
Kau, A. M. (2015). Pendidikan Kewarganegaraan. Diakses pada 18 Juni 2015 dari http://mahasiswa.ung.ac.id/521414029/home/2015/6/18/pendidikan-kewarganegaraan.html.
Kurniady, D. A. (2015). Bahan Mata Kuliah Kekuasaan dan Kewenangan. Diakses pada 14 Agustus 2015 dari http://dedyahmadkurniady.staf.upi.edu/2015/08/14/bahan-mata-kuliah-kekuasaan-dan-kewenangan/.
Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2007). Perilaku Organisasi 2 – Edisi 12. Jakarta: Salemba Empat.
Soekarso, & Putong, I. (2015). Kepemimpinan: Kajian Teoritis dan Praktis.
Subakti, R. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: Grasindo.
Thoha, M. (2005). Perilaku Organisasi (Konsep Dasar dan Aplikasinya). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.