A. Pengorganisasian
Struktur Manajemen
1. Pengertian Struktur Organisasi dan Organizing
a.
Pengertian
Struktur Organisasi
Struktur organisasi dapat diartikan sebagai susunan
dan hubungan antar komponen-komponen, bagian, dan posisi dalam suatu
perusahaan. Struktur organisasi menunjukkan hierarki organisasi dan struktur
wewenang, serta memperlihatkan aliran pelaporannya. Selain itu, struktur
organisasi dapat memberikan stabilitas dan kelanjutan hidup organisasi, serta
dapat merinci pembagian aktifitas kerja dan menunjukkan tingkat spesialisasi
dari suatu pekerjaan.
Menurut
Robbins (1994), struktur organisasi adalah pengakuan organisasi akan adanya
kebutuhan untuk mengkoordinasikan pola interaksi para anggota organisasi secara
formal.
Menurut Siswanto, struktur organisasi menspesifikasikan
pembagian aktifitas kerja dan menunjukkan
bagaimana fungsi atau
aktifitas yang beraneka
macam dihubungkan sampai batas tertentu, juga menunjukkan tingkat
spesialisasi aktifitas kerja. Struktur Organisasi juga menunjukkan hierarki dan
struktur otoritas organisasi serta memperlihatkan hubungan pelaporannya.
Berdasarkan
uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa struktur organisasi merupakan susunan
dan hubungan antar komponen suatu perusahaan yang dapat menunjukkan hierarki
organisasi, struktur wewenang, dan tingkat spesialisasi aktifitas kerja, serta
dapat memberikan stabilitas dan kelanjutan hidup organisasi.
b.
Pengertian
Organizing
Pengorganisasian (Organizing) adalah proses pembagian tugas, wewenang, dan sumber
daya di antara anggota organisasi untuk mencapai tujuan tertentu.
Pengorganisasian (Organizing) berarti
menetapkan sistem organisasi yang dianut organisasi tersebut dan mengadakan
pembagian kerja agar tujuan dapat direalisasikan dengan mudah.
Pengorganisasian (Organizing) juga dapat dikatakan sebagai proses penyusunan struktur
organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi, sumber daya yang dimilikinya,
dan lingkungan yang melingkupinya. Selain itu, dapat pula berarti proses untuk
merancang struktur formal, mengelompokkan dan mengatur, serta membagi tugas
atau pekerjaan antara para anggota
organisasi agar tujuan
organisasi dapat dicapai
dengan efisien.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa
pengorganisasian (organizing)
merupakan proses penyusunan struktur organisasi yang meliputi pembagian tugas
dan wewenang antar para anggota organisasi agar tujuan organisasi dapat
direalisasikan dengan efisien.
2. Pengorganisasian Sebagai Fungsi Dari
Manajemen
Salah
satu fungsi manajemen adalah mengetahui pengorganisasian karena dengan
pengorganisasian berarti akan memadukan seluruh sumber-sumber yang ada dalam
organisasi ke arah tercapainnya suatu tujuan organisasi.
Pengorganisasian sebagai fungsi dari
manajemen meliputi :
a.
Struktur
Organisasi Formal
Organisasi
formal merupakan sistem tugas, hubungan wewenang, tanggung jawab, dan
pertanggungjawaban yang dirancang oleh manajemen agar pekerjaan dapat
dilakukan, serta memiliki struktur yang jelas, pembagian tugas yang jelas, dan
memiliki tujuan yang ditetapkasn secara jelas. Organisasi formal menawarkan
bidang-bidang yang relatif tetap bagi masing-masing orang yang bekerja pada
bidang tanggung jawabnya sendiri.
Ciri-ciri
organisasi formal antara lain :
1) Garis-garis
kewenangan dan jabatan diatur menurut suatu tatanan hierarkis. Hierarkinya
mengambil bentuk umum suatu piramida, yang menunjukkan setiap pegawai
bertanggung jawab kepada atasannya atas keputusan-keputusan bawahannya serta
keputusan-keputusannya sendiri.
2) Kenaikan
jabatan dilakukan berdasarkan senioritas dan prestasi kerja.
3) Organisasi
terdiri dari hubungan-hubungan yang ditetapkan antara jabatan-jabatan.
4) Pegawai
dipilih untuk bekerja dalam organisasi berdasarkan kualifikasi teknis,
alih-alih koneksi politis, koneksi keluarga, atau koneksi lainnya.
5) Prosedur
dalam organisasi bersifat formal dan impersonal, yakni peraturan-peraturan
organisasi berlaku bagi setiap orang.
6) Sikap
dan prosedur untuk menerapkan suatu sistem disiplin merupakan bagian dari
organisasi.
7) Sistem
aturan dan regulasi yang umum tetapi tegas, yang ditetapkan secara formal,
mengatur tindakan-tindakan dan fungsi-fungsi jabatan dalam organisasi.
Struktur
formal adalah struktur resmi organisasi yang menggambarkan fungsi yang
diharapkan dalam organisasi. Struktur organisasi formal dibuat untuk mencakup
pekerjaan yang harus dilakukan dan memberikan kerangka bagi perilaku dalam
mengerjakannya.
Beberapa faktor yang harus
diperhatikan dalam penyusunan struktur organisasi formal adalah :
1) Wewenang
2) Tanggung
jawab
3) Pertanggungjawaban
4) Delegasi
5) Koordinasi
Faktor-faktor
utama yang menentukan perancangan struktur organisasi formal adalah sebagai
berikut :
1) Anggota
(pegawai/karyawan) dan orang-orang yang terlibat dalam organisasi.
Kemampuan dan cara berpikir, serta
kebutuhan para anggota untuk untuk bekerjasama dalam merancang struktur
organisasi harus diperhatikan. Kebutuhan manajer dalam pembuatan keputusan juga
akan mempengaruhi saluran komunikasi, wewenang, dan hubungan diantara satuan
kerja pada rancangan struktur organisasi. Manajer organisasi, terutama manajer
puncak, akan mempengaruhi pemilihan strategi dan pemilihan strategi tersebut
akan dapat mempengaruhi tipe struktur yang digunakan dalam organisasi.
2) Lingkungan
yang melingkupinya.
Dalam merancang struktur organisasi
formal, perlu dibedakan tiga tipe lingkungan. Tiga tipe lingkungan tersebut
antara lain :
-
Lingkungan Stabil, yaitu lingkungan
dengan sedikit atau tanpa perubahan yang tidak diperkirakan (secara tiba-tiba).
-
Lingkungan Berubah (Changing Environment), yaitu lingkungan dimana inovasi(perubahan)
mungkin terjadi dalam setiap atau seluruh bidang.
-
Lingkungan Bergejola (Turbulent Environment), yaitu lingkungan
dimana sering terjadi perubahan secara drastis.
3) Strategi
organisasi untuk mencapai tujuan.
Strategi menjelaskan bagaimana
aliran wewenang dan saluran komunikasi dapat disusun diantara para pemimpin dan
bawahan.
4) Teknologi
yang digunakan.
Semakin kompleks teknologi yang
digunakan, maka semakin besar jumlah manajer dan tingkatan manajemen.
Perusahaan yang ingin sukses harus memiliki struktur yang sesuai dengan tingkat
teknologinya.
5) Ukuran
organisasi
Semakin besar ukuran organisasi,
maka strukrue organisasi akan semakin kompleks dan harus dipilih struktur yang
tepat.
Terdapat
beberapa model struktur organisasi formal, antara lain :
1) Model
Hubungan Manusiawi
2) Model
Tradisional
3)
Model Sumber Daya Manusia
b.
Struktur
Organisasi Informal
Organisasi
informal merupakan jaringan hubungan pribadi dan sosial yang umumnya tidak
dilakukan atas dasar aturan formal. Organisasi informal adalah kumpulan dari
dua orang atau lebih yang terlibat pada suatu aktifitas serta tujuan bersama
yang tidak disadari.
Struktur
organisasi informal selalu ada dalam setiap organisasi, serta keberadaannya
tidak direncanakan, terjadi atas dasar keakraban dan hubungan-hubungan baik
yang menyangkut pekerjaan ataupun tidak.
Organisasi
informal hampir selalu terjadi dalam semua perusahaan karena adanya interaksi
manusia. Organisasi informal pada dasarnya dapat melayani empat fungsi utama,
yaitu:
1) Memelihara
dan memperkuat kesamaan norma diantara aggota.
2) Memberi
atau menyediakan kepuasan sosial, status, dan rasa aman bagi anggotanya.
3) Membantu
para anggotanya untuk berkomunikasi.
4) Membantu
memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi anggotanya.
Struktur
informal atau “struktur bayangan” adalah struktur tidak resmi, namun memegang
peran penting yang mengatur hubungan antar anggota organisasi. Struktur
organisasi informal memiliki beberapa manfaat, diantaranya adalah sebagai
berikut :
1) Membantu
pelaksanaan pekerjaan
2) Memuaskan
kebutuhan untuk berinteraksi sosial
3) Membantu
komunikasi antar anggota organisasi
4) Membantu
mengatasi keterbatasan struktur formal
5) Membantu
individu untuk saling mendukung dan melindungi
Selain
memiliki beberapa manfaat, struktur organisasi informal juga memiliki beberapa
kelemahan, antara lain :
1) Rentan
terhadap rumor
2) Memunculkan
penyimpangan terhadap tujuan dankepentingan
3) Terkadang
melahirkan resitensi terhadap perubahan
3. Manfaat Struktur Fungsional dan Struktur
Divisional
a. Beberapa
manfaat atau kelebihan dari struktur fungsional antara lain sebagai berikut:
·
Efisiensi (melalui spesialisasi).
·
Definisi tanggung jawab yang jelas.
·
Diferensiasi dan delegasi keputusan
(operasional sehari-hari).
·
Keahlian fungsional.
·
Hubungan yang erat antara struktur dan
strategi (unit terpisah).
·
Mengurangi mekanisme kontrol atau
kendali.
·
Pengendalian sentralisasi (keputusan
strategik).
·
Pimpinan (CEO) dapat menyentuh atau
memegang seluruh operasi.
b. Beberapa
manfaat maupun kelebihan dari struktur divisional antara lain sebagai berikut:
·
Biaya overhead pusat rendah.
·
Kerugian bisnis individu dapat ditutupi
(off-set).
·
Ketersediaan keungan untuk bisnis
individu.
·
Mudah divestasi untuk perusahaan
pengelola.
4. Kerugian Struktur Fungsional dan Struktur
Divisional
a. Beberapa
kerugian dari struktur fungsional antara lain sebagai berikut :
·
Kesulitan dalam koordinasi fungsional
dan pengambilan keputusan antarfungsi.
·
Keterbatasan pengembangan manajer umum (general manajer).
·
Manajer senior mempunyai banyak
pekerjaan rutin atau melupakan issu strategik.
·
Persaingan atau konflik fungsional dan
spesialisasi yang sempit
·
Potensi untuk konflik antarfungsi
(fungsional, bukan bisnis).
b. Beberapa
kerugian dari struktur divisional antara lain sebagai berikut :
·
Kesulitan untuk pengendalian sentral.
·
Ketidaktersediaan keahlian di tingkat
grup untuk membantu bisnis individu.
·
Kurang sinergi.
·
Risiko untuk divestasi bisnis individu
dengan perusahaan pengelola.
5. Contoh Kasus Organisasi
Struktur Fungsional
Dalam
menjalankan aktivitas usahanya, P.T. TIFICO Tbk menerapkan struktur organisasi
fungsional dimana organisasi menurut fungsi menyatukan semua orang yang
terlibat dalam satu aktivitas yang disebut fungsi dalam satu grup. P.T. TIFICIO
Tbk mempunyai empat group, yaitu grup administrasi (Administration Group), grup produksi (Production Group), grup machinery (Machinery Group), ISO 9002 & 14000 Project.
Adapun
tugas dan tanggung jawab dari elemen organisasi pada P.T. TIFICO Tbk dapat
dikemukakan debagai berikut :
a. General Manager Manufacturing
(GMM)
Memimpin perusahaan dan bertanggung
jawab terhadap seluruh kelangsungan hidup perusahaan. Dalam menjalankan
tugasnya, General Manager Manufacturing
(GMM) dibantu oleh empat divisi.
b. Division
Memimpin grup dan bertanggung jawab
atas beberapa departemen yang ada dibawahnya. Terdapat empat grup dalam struktur
organisasi P.T. TIFICO Tbk, yaitu grup administrasi, grup produksi, grup
machinery, dan ISO 9002 & 14000 Project.
c. Safety and Environmental Control
Departement
bertugas memberikan pembinaan
mengenai keselamatan kerja karyawan, membuat standar pakaian dan alat kerja
sehingga dalam bekerja, karyawan mendapatkan jaminan keselamatan dan apabila
terjadi kecelakaan, perusahaan akan bertanggung jawab sepenuhnya dengan catatan
ketika kecelakaan terjadi karyawan telah memakai pakaian dan alat keselamatan
kerja sesuai standar perusahaan. Bertanggung jawab atas keberlangsungan kondisi
lingkungan hidup akibat dampak dari aktivitas produksi perusahaan. Berkaitan
dengan hal itu maka departemen ini mengawasi dan mencegah terjadinya polusi dan
pecemaran, mengatur gas buang, dan mengolahan limbah.
d. General Affair Departement
Bertanggung jawab atas :
·
Penyediaan saranan pakaian dan alat
keselamatan kerja.
·
Menyediakan dan memelihara fasilitas
kantin, mushola, poliklinik, apotik, asrama, dan perumahan (dormitory and mess) karyawan.
·
Menentukan rumah sakit, dokter, apotik yang
ditunjuk untuk pelayanan karyawan dan keluarganya.
·
Penyedian alat-alat tenaga kerja.
·
Pengawasan kesehatan karyawan.
·
Penyediaan sarana transportasi anatr
jemput karyawan.
e. Personalia Departement
Bertanggung jawab atas
ketenagakerjaan, mulai dari rekruitment karyawan, penggajian, kenaikan jabatan
(promosi), penilaian prestasi kerja, penghargaan karyawan secara langsung maupun
tidak langsung, dan pengadaan keamanan (security)
perusahaan.
f. Accounting Departement
Bertanggung jawab terhadap masalah
keuangan, adapun untuk mengaudit keuangan perusahaan dilakukan oleh tim audit
dari luar perusahaan.
g. Purchasing 1 & 2 Departement
Purchasing
1 bertanggung jawab dalam penyediaan pergudangan dan penyediaan bahan baku (lokal
maupun import), sedangkan purchasing 2 bertanggung jawab dalm
masalah transportasi bahan baku dan barang produksi.
h. Polymerrization Production
Departement
Mempunyai tugas pokok membuat bahan
baku untuk produksi, berupa chips yang diproses dari bahan pokoknya, yaitu Ethelyne Glycol (EG) dan Terepthalic Pure Acid (TPA).
i.
Polymer
Tecnology Departement
Melakukan riset dan pengembangan
bahan baku chips.
j.
Staple
Fiber Production Departement
Memiliki tugas pokok memproduksi
kapas polyester (Staple Fiber).
k. Staple Fiber Tecnology Departement
Mempunyai tugas pokok melakukan
penelitian dan pengembangan produk kapas polyester.
l.
FOY
Production Departement
Menghasilkan benang polyester
dengan berbagai macam jenisnya.
m. Quality Departement
Membuat standar kualitas filament
yang didasarkan pada hasil riset.
n. Control Departement
Melakukan pengawasan secara ketat
terhadap proses produksi filament.
o. Spinning Draw Yarn (SDY) Production
Departement
Menghasilkan filament (benang) dengan menggunakan padat teknologi.
p. Draw Texture Yarn (DTY) Production
Departement
Membuat texture benang sesuai
dengan keinginan konsumen.
q. Maintenance 1
& 2 Departement
Mempunyai tugas pokok menjaga,
merawat, dan memperbaiki peralatan mesin-mesin P.T. TIFICO Tbk.
r.
Electricity
& Maintenance Departement
Mempunyai tugas pokok menjaga,
merawat dan memperbaiki peralatan eletronika P.T. TIFICO Tbk.
s. Utility
1 & 2 Departement
Mempunyai tugas pokok memasok
sumber tenaga listrik, air, dan netrogen.
t.
ISO 9002 Group
Mempunyai tugas pokok mengadakan
pengembangan dan pengawasan ISO.
Struktur Divisional
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk
(WIKA) merupakan salah satu perusahaan konstruksi di Indonesia. Perusahaan ini
menerapkan struktur divisional dimana biasanya perusahaan mengubah strukturnya
menjadi struktur organisasi yang terdiri
dari beberapa divisi ketika mengembangkan berbagai produk baru dalam industri
dan pasar yang berbeda. Tiap-tiap divisi bertanggung jawab atas laba, sehingga
memfasilitasi penilaian yang akurat atas laba dan rugi, serta dapat beroperasi
dibawah pengarahan seorang manajer divisi yang bertanggungjawab langsung kepada
CEO. Manajer divisi dapat mengembangkan strategi untuk masing-masing divisinya
dan mungkin mereka akan menghadapi persaingan yang berbeda dengan divisi
lainnya, sehingga strategi yang ditempuh mungkin juga akan berbeda dengan divisi
yang lain.
Sumber
Arifin, I., & Giana, H. W. (2007). Membuka Cakrawala Ekonomi. Bandung: PT.
Setia Purna Inves.
Fuad, M., Christin, Nurlela, Sugiarto, & Paulus.
(2006). Pengantar Bisnis. Jakarta:
PT. Gramedia Pustaka Utama.
Herujito, Y. M. (2001). Dasar-Dasar Manajemen. Bogor: Grasindo.
Hutabarat, J., & Huseini, M. (2006). Proses, Formasi, & Implementasi
Manajemen Strategik Kontemporer : Operasionalisasi Strategi. Jakarta : PT.
Elex Media Komputindo.
Sitio, A., & Tamba, H. (2001). Koperasi: Teori dan Praktik. Jakarta:
Erlangga.
B. Actuating dalam Manajemen
1. Pengertian Actuating dalam Manajemen
Penggerakan (actuating)
merupakan salah satu fungsi manajemen dalam suatu rangkaian proses manajemen
yang tugasnya menjalankan segala aktifitas atau tindakan guna mencapai tujuan
atau sasaran yang telah direncanakan. Fungsi penggerakan (actuating) sangat menentukan sukses atau tidaknya seseorang di
dalam organisasi.
Menurut George R. Terry (1986), actuating merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok
sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran
perusahaan dan sasaran anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota
itu juga ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut. Sementara menurut Keith
Davis, actuating adalah kemampuan
membujuk orang-orang mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dengan penuh
semangat.
Dapat dikatakan juga bahwa penggerakan (actuating) adalah usaha menggerakan
seluruh orang yang terkait untuk secara bersama-sama melaksanakan program
kegiatan sesuai dengan bidang masing-masing dengan cara yang terbaik dan benar.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa
penggerakan (actuating) merupakan
suatu usaha menggerakan seluruh anggota kelompok yang terkait untuk menjalankan
atau melaksanakan segala aktifitas atau program kegiatan yang sesuai dengan
bidangnya masing-masing untuk mencapai tujuan atau sasaran perusahaan yang
telah direncanakan.
2. Pentingnya Actuating dalam Manajemen
Penggerakan (actuating)
merupakan suatu bagian yang sangat penting dalam manajemen karena tanpa penggerakan
(actuating), maka perencanaan dan organisasi
(planning and organizing) tidak dapat direalisasikan dalam kenyataan.
Pentingnya penggerakan (actuating) dalam manajemen disebabkan oleh beberapa hal, antara
lain sebagai berikut:
a. Penggerakan
(actuating) adalah usaha untuk menggerakkan manajemen.
b. Manusia
adalah unsur yang pertama dan utama dalam kegiatan manajemen.
c. Perencanaan
berhasil karena manusia menyatukan dan menghimpun kegiatan-kegiatan bersama
yang tepat.
d. Organisasi
menjadi efektif apabila manusia menggunakannya untuk bekerja sama secara baik
dan tertib.
e. Pengawasan
akan efektif karena digunakan untuk membantu manusia dalam mencapai tujuannya.
f. Manajemen
akan berhasil apabila menggerakkan orang-orang atau manusia yang kompeten
dengan tepat.
Hal yang penting untuk diperhatikan dalam
penggerakan (actuating) adalah bahwa seorang karyawan akan termotivasi untuk
mengerjakan sesuatu jika :
a. Merasa
yakin akan mampu mengerjakan.
b. Merasa
yakin bahwa pekerjaan tersebut memberikan manfaat bagi dirinya.
c. Tugas
tersebut merupakan kepercayaan bagi yang bersangkutan.
d. Hubungan
antar teman dalam organisasi tersebut harmonis.
e. Tidak
sedang dibebani oleh problem pribadi atau tugas lain yang lebih penting atau
mendesak.
3. Prinsip Actuating dalam Manajemen
Penggerakan (actuating) dalam manajemen memiliki
prinsip-prinsip yang dapat menjadikan penggerakan (actuating) itu sendiri
memperoleh hasil yang maksimal.) Menurut Kurniawan (2009), terdapat beberapa
prinsip penggerakan (actuating) dalam
manajemen, antara lain:
a. Memperlakukan
pegawai dengan sebaik-baiknya.
b. Mendorong
pertumbuhan dan perkembangan manusia.
c. Menanamkan
pada manusia keinginan untuk melebihi.
d. Menghargai
hasil yang baik dan sempurna.
e. Mengusahakan
adanya keadilan tanpa pilih kasih.
f. Memberikan
kesempatan yang tepat dan bantuan yang cukup.
g. Memberikan
dorongan untuk mengembangkan potensi dirinya.
Dalam manajemen, suatu penggerakan (actuating) bersifat sangat kompleks
karena disamping menyangkut manusia, penggerakan (actuating) juga menyangkut berbagai tingkah laku dari manusia itu
sendiri. Manusia dengan berbagai tingkah lakunya yang berbeda-beda, memiliki
pandangan dan pola hidup yang berbeda-beda pula. Oleh karena itu, penggerakan (actuating) yang dilakukan oleh pimpinan
harus berpegang pada beberapa prinsip. Menurut Haris (2011), terdapat tiga
prinsip yang harus dipegang oleh pimpinan dalam melakukan suatu penggerakan (actuating), yaitu:
a.
Prinsip
mengarah pada tujuan
Tujuan pokok
dari pengarahan nampak pada prinsip yang menyatakan bahwa semakin efektif suatu
proses pengarahan, maka akan semakin besar sumbangan anggota terhadap usaha
mencapai tujuan.
b.
Prinsip
keharmonisan dengan tujuan
Orang-orang
bekerja untuk dapat memenuhi kebutuhannya yang mungkin tidak sama dengan tujuan
perusahaan. Mereka mengkehendaki demikian dengan harapan tidak terjadi
penyimpangan yang terlalu besar dan
kebutuhan mereka dapat dijadikan sebagai pelengkap serta harmonis dengan
kepentingan perusahaan. Semua ini dipengaruhi oleh motivasi masing-masing
individu. Motivasi yang baik akan mendorong seseorang untuk memenuhi
kebutuhannya dengan cara yang wajar. Sedangkan kebutuhan akan terpenuhi apabila
mereka dapat bekerja dengan baik, dan pada saat itulah mereka menyumbangkan
kemampuannya untuk mencapai tujuan organisasi.
c.
Prinsip
kesatuan komando
Prinsip
kesatuan komando sangat penting untuk menyatukan arah tujuan dan tanggung jawab
bawahan. Apabila bawahan hanya memiliki satu jalur dalam melaporkan segala
kegiatannya dan hanya ditujukan kepada satu pimpinan saja, maka pertentangan
didalam pemberian instruksi dapat dikurangi, serta akan semakin besar tanggung
jawab mereka untuk memperoleh hasil maksimal.
Sumber
Wiyono, S. (2004). Manajemen Potensi Diri. Jakarta : Grasindo.
Mulyono. (2008). Manajemen
Administrasi dan Organisasi Pendidikan. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media.