Kecanduan
Internet
Saat ini internet
merupakan media yang diperlukan oleh semua orang untuk mendapatkan informasi, bermain
game online, berinteraksi sosial, atau untuk kepentingan lainnya sesuai dengan kepentingan
dan kebutuhan masing-masing penggunanya. Namun, ternyata berlama-lama
menggunakan internet akan menimbulkan dampak buruk yang dinamakan kecanduan
internet yang pada akhirnya pengguna internet tidak mempunyai waktu untuk
memperhatikan hal penting disekitarnya.
Kecanduan internet
merupakan sebutan bagi seseorang yang selalu menggunakan internet dalam
kehidupannya dan sudah mengalami kesulitan untuk terlepas dari internet. Kecanduan
internet atau Internet Addiction Disorder
(IAD) mengacu pada gangguan dalam penggunaan internet yang berlebihan. Gangguan
kecanduan internet belum tercantum dalam buku pegangan profesional kesehatan
mental, yaitu Diagnostic adn Statistical
Manual of Mental Disorders atau yang disebut dengan DSM. Namun, kecanduan
internet telah diakui secara formal oleh American
Psychological Association sebagai salah satu bentuk gangguan.
Konsep tentang
kecanduan internet telah diterima sebagai gangguan klinis yang memerlukan
perawatan (treatment) khusus. Para peneliti
masih belum sepakat mengenai apakah kecanduan internet merupakan gangguan pada
dirinya sendiri atau merupakan salah satu gejala (symptom) dari gangguan yang lain. Ada pula yang memperdebatkan
apakah kecanduan internet dikategorikan sebagai gangguan impuls atau gangguan
kompulsif-obsesif (obsessive compulsive
disorder) dan bukan kecanduan biasa.
Kecanduan internet atau
Internet Addiction Disorder (IAD)
mencakup sejumlah problem kontrol impuls, seperti :
·
Kecanduan
Cybersex (Cybersex
Addiction)
Internet
pornography, adult chat rooms, adult fantasy role-play.
·
Kecanduan
Hubungan-Cyber (Cyber-Relationship
Addiction)
Kecanduan
jejaring sosial, chat, e-mail, atau text (SMS).
·
Net
Compulsions
Game
online, judi online, permainan saham online, atau lelang online yang seringkali
membawa masalah pekerjaan.
·
Kelebihan
Informasi (Information
Overload)
Pencarian
database secara kompulsif.
·
Kecanduan
Komputer
Memainkan
permainan komputer secara obsesif atau pemrograman secara obsesif.
Terdapat beberapa
faktor yang telah diusulkan untuk menjelaskan kecanduan internet. Salah satu
teori yang berhubungan dengan potensi mengubah mood (mood-atering potential) dari perilaku-perilaku yang berkaitan
dengan kecanduan proses. Para peniliti berfikir bahwa terdapat perubahan
kimiawi yang terjadi dalam tubuh saat seseorang terlibat dalam perilaku
kecanduan. Dari sudut pandang biologis, mungkin terdapat kombinasi dari gen-gen
yang membuat seseorang lebih rentan terhadap perilaku kecanduan.
Dr. Ronald Pies, selaku
profesor psikiatri dari SUNY Upstate Medical University, New York, mengatakan bahwa kebanyakan dari orang yang
kecanduan internet merupakan seseorang yang mengalami depresi berat, kecemasan,
atau orang yang tidak bisa bersosialisasi, sehingga sulit untuk bertatap muka
dengan orang lain secara langsung. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa
kecenderungan kecanduan ini dimiliki oleh seseorang yang memiliki gangguan
dalam dunia nyata, sehingga internet merupakan salah satu media pelampiasannya.
Dr. Diva Mariska
Tarastin, spKJ selaku psikiater mengatakan bahwa terdapat banyak hal yang
menyebabkan seseorang dapat mengalami kecanduan internet. Salah satunya adalah
intensitas penggunaan internet yang terlalu sering saat memiliki waktu luang
dan dilakukan terus-menerus, sehingga membuat orang tersebut terbiasa dengan
perilaku itu.
Beberapa gejala
kecanduan internet ditunjukkan dengan kurangnya waktu tidur, kelelahan, lesu,
kurangnya fokus, performa kerja yang menurun, kurang terlibatnya dalam
aktivitas dan hubungan sosial, serta masih terdapat berbagai macam gejala
kecanduan internet lainnya. Penderita akan berbohong tentang berapa lama waktu
yang digunakan untuk berinternet dan tentang permasalahan yang ditundanya
karena berinternet. Ketika sedang tidak menggunakan internet, penderita menjadi
pribadi yang mudah marah ketika ada yang bertanya tentang berapa lama waktu
yang digunakan untuk berinternet.
Menurut dr. Diva
Mariska Tarastin, spKJ , dampak yang dapat ditimbulkan oleh seseorang yang
mengalami kecanduan internet adalah kurang bersosialisasi dengan lingkungan
disekitarnya, terutama dalam lingkungan keluarga. Penderita akan lebih fokus
terhadap kehidupannya di dunia maya dan sering mengabaikan orang-orang yang ada
disekitarnya. Menurutnya, penderita yang sudah mengalami kecanduan yang cukup
berat, secara psikis dan mental akan sulit untuk membedakan antara dunia maya
dengan dunia nyata.
Ketidakmampuan seseorang
dalam mengontrol diri untuk terkoneksi dengan internet dan melakukan kegiatan bersamanya
merupakan awal dari terbentuknya kecanduan internet. Kebiasaan yang tidak
terkendali terkadang dapat menimbulkan dampak negatif bagi diri sendiri, dengan
tidak dapat mengatur lamanya durasi berinternet, menghabiskan waktu, dan
menghancurkan semua tanggung jawab dalam hidupnya.
Karena gangguan kecanduan
internet merupakan fenomena yang masih relatif baru, maka hanya ada sedikit
penelitian tentang efektivitas dari prosedur perawatan. Beberapa ahli
menyarankan penderita untuk melakukan penghentian total dari penggunaan
internet. Beberapa ahli lainnya mengatakan bahwa tidak realistis menyarankan
kepada penderita untuk benar-benar berhenti menggunakan internet. Sebagai alternatif
dari menghentikan semua aktivitas yang berhubungan dengan internet, Young
(1999) memberikan 7 teknik perawatan yang mungkin dilakukan, yaitu :
·
Praktekkan
Kebalikannya (Practice
the Opposite)
·
Penghenti
Eksternal (External
Stoppers)
·
Tetapkan
Goal
(Setting Goals)
·
Kartu-Kartu
Pengingat (Reminder
Cards)
·
Inventori
Personal (Personal
Inventory)
·
Dukungan
Sosial (Social
Support)
·
Terapi
Keluarga (Family
Therapy)
Dr. Diva Mariska
Tarastin, spKJ mengatakan terdapat dua cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi
kecanduan internet, yaitu jenis terapi yang pertama untuk penderita yang sudah
sadar akan dampak negatif dari candu internet adalah terapi yang dilakukan diri
sendiri dengan dibantu oleh orang-orang terdekatnya. Jenis terapi yang kedua
untuk penderita yang sudah mengalami kecanduan internet yang cukup berat, yaitu
dibutuhkan psikolog atau psikiater untuk memberikan terapi kognitif dan
perilaku agar penderita dapat terlepas dari candu internet.
Terapi Kognitif
Perilaku (Cognitive Behavioral Therapy atau
CBT) dapat memberikan langkah demi langkah untuk menghentikan perilaku internet
kompulsif dan mengubah persepsi seseorang mengenai internet. Terapi dapat
menolong seseorang untuk mempelajari cara-cara yang lebih baik dalam mengatasi
emosi yang tidak nyaman, seperti kecemasan, stres, dan depresi.
Khazaal et al. merangkumkan
komponen-komponen perilaku dan motivasional dari perawatan kecanduan internet
menurut Young, yaitu sebagai berikut :
·
Untuk mengenali masalah terdapat
beberapa strategi pemulihan, yaitu :
1. Akuilah apa yang telah hilang
2. Bawalah kartu-kartu pengingat
3. Dengarlah suara-suara penyangkalan
·
Untuk pengamatan diri terdapat beberapa
strategi pemulihan, yaitu :
1. Tinjaulah waktu online
2. Akuilah dorongan akan kecanduan
3. Pelarian, obat bius dari internet
·
Untuk manajemen waktu, strategi
pemulihannya adalah menggunakan teknik manajemen waktu.
·
Untuk pengembangan aktivitas offline
terdapat beberapa strategi pemulihan, yaitu :
1. Ambil langkah nyata untuk menanggulangi
masalah
2. Hadapi kesepian
3. Carilah dukungan dalam dunia nyata
·
Untuk pencegahan relapse (kambuh)
terdapat dua strategi pemulihan, yaitu :
1. Pertimbangkan manfaat dari pemulihan
(recovery benefits)
2. Tips-tips untuk perjalanan menuju pemulihan
Kondisi kambuh (relapse) merupakan kondisi yang wajar
untuk siapapun yang sedang berhubungan dengan kecanduan internet. Mengakui dan
mengantisipasi kambuh seringkali merupakan bagian dari proses perawatan. Mengidentifikasi
situasi-situasi yang dapat menyebabkan kecanduan internet dan menemukan
cara-cara untuk menghadapi situasi ini dapat sangat mengurangi kemungkinan
kambuh total.
Jadi, dalam menggunakan
internet janganlah berlebihan dengan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk
bermain game online atau hanya sekedar untuk mencari kesenangan yang tidak
bermanfaat dan tidak memiliki tujuan yang berarti yang kemudian dapat
meninggalkan tanggung jawab di kehidupan nyata. Hal tersebut merupakan
kebiasaan berinternet yang tidak sehat yang akan menimbulkan gangguan kecanduan
internet. Kebiasaan berinternet yang sehat dan sewajarnya adalah dengan
menyesuaikan jadwal dan kepentingan, serta tidak melupakan tanggung jawab yang
dimiliki seseorang. Manfaatkan media internet sebaik mungkin sesuai dengan
kepentingan dan kebutuhan serta sebaiknya jangan menggunakan media internet
dengan intensitas yang terlalu sering.
Sumber :








