PENGANTAR
A. Pengertian Psikoterapi
Psikoterapi merupakan
usaha penyembuhan untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan, dan
perilaku. Psikoterapi (Psychotherapy)
berasal dari dua kata, yaitu "Psyche"
yang artinya jiwa, pikiran atau mental dan "Therapy" yang artinya penyembuhan, pengobatan atau perawatan.
Oleh karena itu, psikoterapi disebut juga dengan istilah terapi kejiwaan,
terapi mental, atau terapi pikiran.
Psikoterapi juga
merupakan suatu interaksi sistematis antara pasien dan terapis yang menggunakan
prinsip-prinsip psikologis untuk membantu menghasilkan perubahan dalam tingkah
laku, pikiran, dan perasaan pasien supaya membantu pasien mengatasi tingkah
laku abnormal dan memecahkan masalah-masalah dalam hidup atau berkembang
sebagai seorang individu. Psikoterapi juga digunakan untuk pasien yang
terganggu mentalnya dan mempunyai masalah emosi yang berat.
Berdasarkan
uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa psikoterapi disebut dengan istilah
terapi kejiwaan, terapi mental, atau terapi pikiran yang merupakan suatu
interaksi sistematis antara pasien dan terapis dengan menggunakan
prinsip-prinsip psikologis sebagai usaha penyembuhan untuk masalah yang
berkaitan dengan pikiran, perasaan, dan perilaku, serta digunakan untuk pasien
yang terganggu mentalnya dan mempunyai masalah emosi yang berat.
B. Tujuan Psikoterapi
Psikoterapi didasarkan pada fakta bahwa aspek-aspek
mental manusia, seperti cara berpikir, proses emosi, persepsi, believe system, kebiasaan, dan pola
perilaku dapat diubah dengan pendekatan psikologis.
Menurut Dr. Maxwell Maltz (dalam Sholeh, 2008),
tujuan psikoterapi adalah mengubah gambaran seseorang tentang dirinya sendiri.
Selain tujuan psikoterapi menurut Dr. Maxwell Maltz,
berikut ini terdapat beberapa tujuan psikoterapi, yaitu sebagai berikut:
·
Mengembangkan potensi klien.
·
Membantu penyembuhan penyakit fisik.
·
Mengatasi pola perilaku yang terganggu.
·
Mengubah kebiasaan menjadi lebih baik.
·
Memodifikasi struktur kognisi (pola
pikiran).
·
Mengurangi atau menghilangkan tekanan
emosional.
·
Meningkatkan kemampuan dalam mengambil
keputusan.
·
Memperoleh pengetahuan tentang diri atau
pemahaman diri.
·
Memperkuat motivasi klien untuk
melakukan hal yang benar.
·
Mengembangkan kemampuan berkomunikasi
dan interaksi sosial.
·
Menghapus, mengubah, atau mengurangi
gejala gangguan psikologis.
·
Meningkatkan pertumbuhan dan
perkembangan kepribadian yang positif.
C. Unsur Psikoterapi
Terdapat beberapa unsur psikoterapi, antara lain
adalah sebagai berikut:
1. Interaksi
berlangsung dalam jangka waktu lama.
2. Interaksi
umumnya terbatas pada pertukaran verbal.
3. Hubungan
bertujuan untuk mengubah perilaku tertentu pada klien yang telah disetujui oleh
kedua pihak.
4. Dua
individu saling terikat dalam interaksi yang bersifat rahasia, dimana klien
akan dibukakan jalan untuk menjadi tahu.
D. Perbedaan antara Psikoterapi dan Konseling
L. M. Brammer membedakan antara psikoterapi dan
konseling. Menurut Brammer, konseling menekankan perencanaan yang lebih
bersifat rasional, problem-solving,
pembuatan keputusan, intensionalitas, pencegahan dari beberapa penyesuaian
diri, dan mendorong timbulnya situasi yang menyenangkan dalam kehidupan
sehari-hari bagi orang normal. Sedangkan psikoterapi menekankan intensitas dan
tingkat keterlibatan yang lama dan lebih berhubungan dengan pengurangan
beberapa permasalahan hidup.
Terdapat beberapa perbedaan yang lain antara
psikoterapi dan konseling, yaitu psikoterapi dilakukan secara rutin dalam
jangka waktu yang lebih panjang, terfokus pada proses ketidaksadaran dan
perubahan struktur kepribadian, serta solusi tidak dapat diperoleh secara
langsung, melainkan melalui proses pemahaman diri yang intensif terhadap
dinamika masalah kehidupan. Sedangkan konseling dilakukan dalam jangka pendek,
terfokus pada permasalahan tertentu, serta membantu individu mengatasi hambatan
untuk berkembang.
Selain itu, perbedaannya juga terdapat pada setting dimana setting pada psikoterapi meliputi klinik, rumah sakit, dan praktik
pribadi, sementara setting pada
konseling meliputi sekolah, universitas, lembaga layanan masyarakat, dan organisasi
kemasyarakatan.
E. Pendekatan Terhadap Mental Illness
Mental illness merupakan suatu istilah dalam
psikologi yang berkaitan dengan suatu gangguan yang bersifat psikis, dimana orang
yang mengalami mental illness adalah orang yang sebelumnya sehat, namun karena
suatu alasan sehingga mereka terkena suatu penyakit (biasanya bukan merupakan
penyakit yang didapat dari lahir).
Terdapat beberapa pandangan yang berkaitan dengan
pendekatan mental illness, antara lain:
1.
Biological
Pendekatan
terhadap mental illness yang didasarkan pada pandangan biological, dimana gangguan diakibatkan oleh terganggunya
faktor-faktor, seperti gen, neurotransmitter,
serta struktur dan fungsi otak. Contohnya, seseorang yang mengalam gangguan Schizofrenia, yaitu karena meningkatnya
jumlah dopamine di otak dalam kadar
yang lebih atau juga karena reseptor dopamine
di otak berlebihan atau sangat sensitif, kemudian hilangnya sel-sel otak, serta
berkurangnya aktivitas di korteks prefrontal.
2.
Psychological
Pendekatan
terhadap mental illness yang didasarkan pada pandangan psychological. Terdapat berbagai macam teori seperti, psikoanalisa
yang percaya bahwa pikiran-pikiran yang direpres atau ditekan merupakan sumber
perilaku yang tidak normal atau menyimpang, sementara kognitif-behavioristik
menyatakan bahwa gangguan diakibatkan oleh ketidakmampuan kognisi dalam
meregulasi pikiran, serta humanistik yang melihat bahwa gangguan merupakan
kegagalan seorang individu dalam mencapai aktualisasi diri.
3.
Sociological
Pendekatan terhadap mental illness yang didasarkan
pada pandangan sociological, melihat
faktor eksternal yang dapat mempengaruhi manusia. Menurut paradigma sosial,
mental illness merupakan akibat dari meluapnya stress yang diakibatkan oleh faktor lingkungan seperti, lingkungan
keluarga, lingkungan pekerjaan, dan masyarakat. Hal yang membedakan pendekatan
sosiologis dengan biologis dan psikologis adalah letak sumber masalahnya.
Pandangan biologis dan psikologis berasumsi bahwa sumber dari mental illness
berasal dari dalam diri manusia, sedangkan sosiologis menyatakan bahwa stresor
dari luar yang membuat seseorang terganggu.
TERAPI PSIKOANALISIS
A. Konsep Dasar Teori Psikoanalisis
Psikoanalisis merupakan salah satu aliran psikologi
yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya. Aliran psikoanalisis
dari Sigmund Freud berasumsi bahwa energi penggerak awal perilaku manusia
berasal dari dalam diri manusia yang terletak jauh di alam bawah sadar dan itulah
sebabnya mengapa seringkali banyak penyakit fisik yang disebabkan oleh
tertekannya psikologis seseorang. Selain itu, terdapat beberapa konsep dasar
teori psikoanalisis dari Freud yang akan dibahas disini.
Konsep pertama mengenai alam bawah sadar (the unconscious). Menurut Freud, dasar
skematis jiwa individu terbagi atas tiga bagian, yakni alam sadar (conscious) yang mengandung hal-hal yang
disadari, alam pra-sadar (pre-conscious)
yang berisi memori yang dapat diingat kembali di alam sadar dengan sedikit
upaya, serta alam bawah sadar (unconscious)
yang menjadi tempat bagi keinginan, hasrat, pikiran, dan emosi dalam diri
individu yang tidak dapat muncul dalam kesadarannya, baik karena menyakitkan
ataupun keinginan yang terpendam. Freud sangat menekankan keberadaan alam bawah
sadar karena meskipun tidak disadari, alam bawah sadar justru mempengaruhi sebagian
besar tingkah laku individu.
Freud mengemukakan bahwa materi dari alam sadar yang
berisi hal yang menyakitkan atau diinginkan secara terpendam, didorong ke alam
bawah sadar melalui mekanisme represi yang pada intinya merupakan suatu
mekanisme yang menutupi pikiran, sikap, dan ingatan dari kesadaran. Akan
tetapi, tidak selamanya materi yang berada di alam bawah sadar terepresi karena
mengingat dorongannya yang begitu kuat, sehingga ada kemungkinan materi-materi
tersebut akan meletup melalui mimpi. Freud menjelaskan hal ini dimungkinkan
karena kondisi tidur akan meredusir aktivitas psikis.
Freud juga mengemukakan mengenai tiga struktur
kepribadian, yaitu Id, Ego, dan Superego. Struktur kepribadian pertama adalah Id
yang sepenuhnya berada di bawah sadar dan berisi insting-insting bawaan dari
lahir (innate instict) yang menjadi
motivator primer seperti rasa lapar, haus, dan seks. Id memegang Prinsip Kenikmatan
(Pleasure Principle) yang berarti
bahwa Id berujung pada satu tujuan, yaitu mencapai kepuasan dan menghindari hal
yang menyakitkan.
Struktur kepribadian yang kedua adalah Ego yang
bertugas menjadi perantara untuk mendamaikan tujuan Id dengan kenyataan yang
ada. Ego mengedepankan rasio dan akal dalam bertindak karena memegang Prinsip
Kenyataan (Reality Principle). Ego
adalah pihak yang berada di antara Id dan Superego. Tugas utama Ego adalah
menjembatani tuntutan Id dan Superego.
Sementara struktur kepribadian yang ketiga adalah
Superego yang merupakan wujud nilai-nilai yang bersumber dari orang tua. Superego
menjadi bagian moral dalam diri individu yang berkembang melalui proses
internalisasi Ego terhadap norma-norma masyarakat dan memegang Prinsip
Moralistik yang selalu menuntut hal yang ‘ideal’ bukan yang real.
Selain
itu, terdapat juga teori tahap perkembangan psikoseksual dari Sigmund Freud.
perkembangan psikoseksual merujuk kepada pertumbuhan dan perkembangan fisiologi
pada bagian-bagian tertentu tubuh badan anak-anak. Berikut ini adalah
tahap-tahap perkembangan psikoseksual Freud, antara lain:
·
Tahap
Oral (0 sampai 2 tahun)
Tahap
pertama perkembangan psikoseksual manusia. Seorang bayi memperoleh segala
bentuk kepuasan dan kenikmatan melalui daerah mulut. Freud menghubungkan daerah
mulut dengan kepuasan dan kenikmatan libidinal.
Pada usia yang lebih lanjut, bayi berkecenderungan memasukkan suatu objek yang
lain ke dalam mulut bagi memuaskan kehendak hatinya.
·
Tahap
Anal (2 sampai 3 tahun)
Tahap
kedua perkembangan psikoseksual individu. Pusat kenikmatan berubah dari daerah
mulut ke daerah anus. Kegiatan penting daerah anus adalah membuang air besar. Apabila
anak-anak dapat membuang air besar mengikut cara yang ada padanya, maka
anak-anak tersebut akan memperoleh kepuasan yang optimum. Anak-anak juga akan
mengalami konflik menahan membuang air besar. Orang tua harus menangani masalah
tersebut sesempurna mungkin bagi mengelakkan perasaan negatif di kalangan
anak-anak.
·
Tahap
Phalic (3 sampai 6 tahun)
Pada tahap ini, anak-anak sudah dapat membandingkan
perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan tersebut
dikaitkan dengan kegiatan seks.
Pada
tahap ini terjadi Oedipus Kompleks pada anak laki-laki dan Electra Kompleks
pada anak perempuan. Konflik-konflik ini bercirikan hasrta-hasrat inses untuk
memiliki orang tua yang tidak sejenis dan membenci orang tua sejenis. Biasanya
konlfik-konflik ini dihentikan dengan cara merepresikan hasrat-hasrat inses dan
mengadakan identifikasi dengan orang tua sejenis.
·
Tahap
Laten (6 sampai 12 tahun)
Pada
tahap ini, anak seolah-olah tidak ada aktivitas seksual. Tahap ini sangat
penting dalam pengembangan keterampilan sosial dan komunikasi, serta
kepercayaan diri.
·
Tahap
Genital (Diatas 12 tahun)
Tahap ini merupakan tahap akhir perkembangan
psikoseksual dimana dorongan-dorongan seksual terangsang lagi. Pada tahap ini,
individu mengembangkan minat seksual yang kuat pada lawan jenis.
B. Unsur-Unsur Terapi Psikoanalisis
1.
Munculnya
masalah atau gangguan
Untuk
lebih mengenal karakteristik penyebab masalah atau gangguan yang dialami klien,
maka terapis berusaha memunculkan penyebab-penyebab yang menjadi akar
permasalahan atau gangguan dari klien dan kemudian terapis memperkuat kondisi
psikis klien agar nantinya bila klien mengalami gangguan, diri klien akan lebih
siap menghadapi gangguan yang dialami.
2.
Tujuan
terapi
·
Fokus pada upaya mengalami kembali
pengalaman masa anak-anak.
· Membentuk kembali struktur karakter
individu dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari di dalam diri
klien.
3.
Peran
terapis
· Terapis memberikan perhatian khusus pada
penolakan klien.
· Mendengarkan kesenjangan-kesenjangan dan
pertentangan-pertentangan pada cerita klien.
· Membangun hubungan kerja dengan klien,
yaitu dengan banyak mendengar dan menafsirkan.
· Membantu klien dalam mencapai kesadaran
diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani
kecemasan secara realistis.
C. Teknik Terapi Psikoanalisis
Terdapat beberapa teknik dalam terapi psikoanalisis,
diantaranya adalah sebagai berikut:
1.
Asosiasi
Bebas (free association)
Suatu
metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lalu dan pelepasan
emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi traumatik di masa lalu. Dalam
teknik ini, klien diperintahkan untuk duduk santai atau tidur lalu menceritakan
semua pengalaman yang terlintas dalam benaknya, baik yang teratur maupun yang
tidak, sepele atau penting, logis atau tidak logis, relevan atau tidak,
semuanya harus diungkapkan. Asosiasi-asosiasi yang diucapkan itu kemudian
ditafsirkan sebagai pengungkapan tersamar pengalaman-pengalaman yang direpres.
2.
Penafsiran
Suatu
prosedur dalam menganalisa asosiasi-asosiasi bebas, mimpi-mimpi,
resistensi-resistensi, dan transferensi. Bentuknya adalah tindakan analisis
yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku.
3.
Analisis
Mimpi
Suatu
prosedur yang penting untuk menyingkap bahan-bahan yang tidak disadari dan
memberikan kepada klien atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan.
Freud memandang mimpi sebagai jalan utama menuju ke alam tidak sadar karena isi
mimpi ditentukan oleh keinginan-keinginan yang direpres. Keinginan-keinginan
tersebut muncul lagi dalam bentuk simbol sebagai jalan menuju pemuasan.
4.
Analisis
Resistensi
Ditujukan
untuk membantu klien agar menyadari alasan-alasan yang ada dibalik resistensi,
sehingga klien bisa menanganinya.
5.
Analisis
Transferensi
Teknik utama dalam psikoanalisis karena mendorong
klien untuk menghidupkan kembali masa lalunya dalam terapi. Terapi ini terjadi
jika dalam pertemuan terapi terungkap adanya displacement dalam diri klien. Hal tersebut terjadi kalau klien
mengalihkan sasaran perasaan cinta atau bencinya kepada terapeuti yang
menanganinya. Transferensi itu menunjukkan kebutuhan klien untuk
mengekspresikan kebutuhannya. Semua ini berlangsung secara tidak sadar, terapeut
sering menjadi sasaran atau pengganti. Disini terapeut berusaha untuk
menjelaskan perasaan-perasaan yang sedang dialami atau yang diekspresikannya
pada terapeut, sehingga klien memiliki satu pemahaman yang lengkap mengenai
kesulitan yang sedang dialami.
Referensi
:
Apa itu
psikoterapi?.
Diakses dari http://www.psikoterapis.com/?en_apa-itu-psikoterapi-,6.
Hashim,
S., Jantan, R., & Razali, M. (2003). Psikologi
pendidikan. Kuala Lumpur: PTS Professional Publishing Sdn. Bhd.
Matthewa,
Andrew. (1997). Being happy! Kiat hidup
tenteram dan bahagia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Naisaban,
Ladislaus. (2004). Para psikolog
terkemuka dunia (riwayat hidup, pokok pikiran, dan karya). Jakarta:
Grasindo.
Putri,
Herlin. Bab II: Kerangka teori. Diakses
dari lib.ui.ac.id/file?file=digital/127142-RB09P440m-Mimpi%20tokoh...pdf.
Semiun,
Yustinus. (2006). Kesehatan mental 3.
Yogyakarta: Kanisius.
Semiun,
Yustinus. (2006). Teori kepribadian dan
terapi psikoanalitik Freud. Yogyakarta: Kanisius.
Sholeh,
M. (2008). Bertobat sambil berobat:
Rahasia ibadah untuk mencegah dan menyembuhkan berbagai penyakit. Jakarta:
Hikmah.
Terapi
psikoanalisis (Freud).
Diakses dari http://indryawati.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/21332/TERAPI+PSIKOANALISIS.doc.
Tjandra,
Olivia. Psikoterapi: ‘Bengkel’
perkembangan kepribadian. Diakses dari psi442.weblog.esaunggul.ac.id/wp.../sites/.../Psikoterapi-Pertemuan-2.ppt.
Wijaya,
Fahri. Teori psikoanalisa dari Sigmund
Freud. Diakses pada tahun 2013 dari http://www.wivrit.com/2013/07/teori-psikoanalisa-dari-sigmund-freud.html.
Wolberg, L, R. (1967). The technique of
psychotherapy. New York: Grune & Stratton.