Kamis, 17 Maret 2016

Tugas 1 Psikoterapi

PENGANTAR
A.   Pengertian Psikoterapi
Psikoterapi merupakan usaha penyembuhan untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan, dan perilaku. Psikoterapi (Psychotherapy) berasal dari dua kata, yaitu "Psyche" yang artinya jiwa, pikiran atau mental dan "Therapy" yang artinya penyembuhan, pengobatan atau perawatan. Oleh karena itu, psikoterapi disebut juga dengan istilah terapi kejiwaan, terapi mental, atau terapi pikiran.
Psikoterapi juga merupakan suatu interaksi sistematis antara pasien dan terapis yang menggunakan prinsip-prinsip psikologis untuk membantu menghasilkan perubahan dalam tingkah laku, pikiran, dan perasaan pasien supaya membantu pasien mengatasi tingkah laku abnormal dan memecahkan masalah-masalah dalam hidup atau berkembang sebagai seorang individu. Psikoterapi juga digunakan untuk pasien yang terganggu mentalnya dan mempunyai masalah emosi yang berat.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa psikoterapi disebut dengan istilah terapi kejiwaan, terapi mental, atau terapi pikiran yang merupakan suatu interaksi sistematis antara pasien dan terapis dengan menggunakan prinsip-prinsip psikologis sebagai usaha penyembuhan untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan, dan perilaku, serta digunakan untuk pasien yang terganggu mentalnya dan mempunyai masalah emosi yang berat.

B.   Tujuan Psikoterapi
Psikoterapi didasarkan pada fakta bahwa aspek-aspek mental manusia, seperti cara berpikir, proses emosi, persepsi, believe system, kebiasaan, dan pola perilaku dapat diubah dengan pendekatan psikologis.
Menurut Dr. Maxwell Maltz (dalam Sholeh, 2008), tujuan psikoterapi adalah mengubah gambaran seseorang tentang dirinya sendiri.
Selain tujuan psikoterapi menurut Dr. Maxwell Maltz, berikut ini terdapat beberapa tujuan psikoterapi, yaitu sebagai berikut:
·         Mengembangkan potensi klien.
·         Membantu penyembuhan penyakit fisik.
·         Mengatasi pola perilaku yang terganggu.
·         Mengubah kebiasaan menjadi lebih baik.
·         Memodifikasi struktur kognisi (pola pikiran).
·         Mengurangi atau menghilangkan tekanan emosional.
·         Meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan.
·         Memperoleh pengetahuan tentang diri atau pemahaman diri.
·         Memperkuat motivasi klien untuk melakukan hal yang benar.
·         Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan interaksi sosial.
·         Menghapus, mengubah, atau mengurangi gejala gangguan psikologis.
·         Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian yang positif.

C.   Unsur Psikoterapi
Terdapat beberapa unsur psikoterapi, antara lain adalah sebagai berikut:
1.      Interaksi berlangsung dalam jangka waktu lama.
2.      Interaksi umumnya terbatas pada pertukaran verbal.
3.    Hubungan bertujuan untuk mengubah perilaku tertentu pada klien yang telah disetujui oleh kedua pihak.
4.   Dua individu saling terikat dalam interaksi yang bersifat rahasia, dimana klien akan dibukakan jalan untuk menjadi tahu.

D.   Perbedaan antara Psikoterapi dan Konseling
L. M. Brammer membedakan antara psikoterapi dan konseling. Menurut Brammer, konseling menekankan perencanaan yang lebih bersifat rasional, problem-solving, pembuatan keputusan, intensionalitas, pencegahan dari beberapa penyesuaian diri, dan mendorong timbulnya situasi yang menyenangkan dalam kehidupan sehari-hari bagi orang normal. Sedangkan psikoterapi menekankan intensitas dan tingkat keterlibatan yang lama dan lebih berhubungan dengan pengurangan beberapa permasalahan hidup.
Terdapat beberapa perbedaan yang lain antara psikoterapi dan konseling, yaitu psikoterapi dilakukan secara rutin dalam jangka waktu yang lebih panjang, terfokus pada proses ketidaksadaran dan perubahan struktur kepribadian, serta solusi tidak dapat diperoleh secara langsung, melainkan melalui proses pemahaman diri yang intensif terhadap dinamika masalah kehidupan. Sedangkan konseling dilakukan dalam jangka pendek, terfokus pada permasalahan tertentu, serta membantu individu mengatasi hambatan untuk berkembang.
Selain itu, perbedaannya juga terdapat pada setting dimana setting pada psikoterapi meliputi klinik, rumah sakit, dan praktik pribadi, sementara setting pada konseling meliputi sekolah, universitas, lembaga layanan masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan.

E.   Pendekatan Terhadap Mental Illness
Mental illness merupakan suatu istilah dalam psikologi yang berkaitan dengan suatu gangguan yang bersifat psikis, dimana orang yang mengalami mental illness adalah orang yang sebelumnya sehat, namun karena suatu alasan sehingga mereka terkena suatu penyakit (biasanya bukan merupakan penyakit yang didapat dari lahir).
Terdapat beberapa pandangan yang berkaitan dengan pendekatan mental illness, antara lain:
1.      Biological
Pendekatan terhadap mental illness yang didasarkan pada pandangan biological, dimana gangguan diakibatkan oleh terganggunya faktor-faktor, seperti gen, neurotransmitter, serta struktur dan fungsi otak. Contohnya, seseorang yang mengalam gangguan Schizofrenia, yaitu karena meningkatnya jumlah dopamine di otak dalam kadar yang lebih atau juga karena reseptor dopamine di otak berlebihan atau sangat sensitif, kemudian hilangnya sel-sel otak, serta berkurangnya aktivitas di korteks prefrontal.
2.      Psychological
Pendekatan terhadap mental illness yang didasarkan pada pandangan psychological. Terdapat berbagai macam teori seperti, psikoanalisa yang percaya bahwa pikiran-pikiran yang direpres atau ditekan merupakan sumber perilaku yang tidak normal atau menyimpang, sementara kognitif-behavioristik menyatakan bahwa gangguan diakibatkan oleh ketidakmampuan kognisi dalam meregulasi pikiran, serta humanistik yang melihat bahwa gangguan merupakan kegagalan seorang individu dalam mencapai aktualisasi diri.
3.      Sociological
Pendekatan terhadap mental illness yang didasarkan pada pandangan sociological, melihat faktor eksternal yang dapat mempengaruhi manusia. Menurut paradigma sosial, mental illness merupakan akibat dari meluapnya stress yang diakibatkan oleh faktor lingkungan seperti, lingkungan keluarga, lingkungan pekerjaan, dan masyarakat. Hal yang membedakan pendekatan sosiologis dengan biologis dan psikologis adalah letak sumber masalahnya. Pandangan biologis dan psikologis berasumsi bahwa sumber dari mental illness berasal dari dalam diri manusia, sedangkan sosiologis menyatakan bahwa stresor dari luar yang membuat seseorang terganggu.



TERAPI PSIKOANALISIS
A.   Konsep Dasar Teori Psikoanalisis
Psikoanalisis merupakan salah satu aliran psikologi yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya. Aliran psikoanalisis dari Sigmund Freud berasumsi bahwa energi penggerak awal perilaku manusia berasal dari dalam diri manusia yang terletak jauh di alam bawah sadar dan itulah sebabnya mengapa seringkali banyak penyakit fisik yang disebabkan oleh tertekannya psikologis seseorang. Selain itu, terdapat beberapa konsep dasar teori psikoanalisis dari Freud yang akan dibahas disini.
Konsep pertama mengenai alam bawah sadar (the unconscious). Menurut Freud, dasar skematis jiwa individu terbagi atas tiga bagian, yakni alam sadar (conscious) yang mengandung hal-hal yang disadari, alam pra-sadar (pre-conscious) yang berisi memori yang dapat diingat kembali di alam sadar dengan sedikit upaya, serta alam bawah sadar (unconscious) yang menjadi tempat bagi keinginan, hasrat, pikiran, dan emosi dalam diri individu yang tidak dapat muncul dalam kesadarannya, baik karena menyakitkan ataupun keinginan yang terpendam. Freud sangat menekankan keberadaan alam bawah sadar karena meskipun tidak disadari, alam bawah sadar justru mempengaruhi sebagian besar tingkah laku individu.
Freud mengemukakan bahwa materi dari alam sadar yang berisi hal yang menyakitkan atau diinginkan secara terpendam, didorong ke alam bawah sadar melalui mekanisme represi yang pada intinya merupakan suatu mekanisme yang menutupi pikiran, sikap, dan ingatan dari kesadaran. Akan tetapi, tidak selamanya materi yang berada di alam bawah sadar terepresi karena mengingat dorongannya yang begitu kuat, sehingga ada kemungkinan materi-materi tersebut akan meletup melalui mimpi. Freud menjelaskan hal ini dimungkinkan karena kondisi tidur akan meredusir aktivitas psikis.
Freud juga mengemukakan mengenai tiga struktur kepribadian, yaitu Id, Ego, dan Superego. Struktur kepribadian pertama adalah Id yang sepenuhnya berada di bawah sadar dan berisi insting-insting bawaan dari lahir (innate instict) yang menjadi motivator primer seperti rasa lapar, haus, dan seks. Id memegang Prinsip Kenikmatan (Pleasure Principle) yang berarti bahwa Id berujung pada satu tujuan, yaitu mencapai kepuasan dan menghindari hal yang menyakitkan.
Struktur kepribadian yang kedua adalah Ego yang bertugas menjadi perantara untuk mendamaikan tujuan Id dengan kenyataan yang ada. Ego mengedepankan rasio dan akal dalam bertindak karena memegang Prinsip Kenyataan (Reality Principle). Ego adalah pihak yang berada di antara Id dan Superego. Tugas utama Ego adalah menjembatani tuntutan Id dan Superego.
Sementara struktur kepribadian yang ketiga adalah Superego yang merupakan wujud nilai-nilai yang bersumber dari orang tua. Superego menjadi bagian moral dalam diri individu yang berkembang melalui proses internalisasi Ego terhadap norma-norma masyarakat dan memegang Prinsip Moralistik yang selalu menuntut hal yang ‘ideal’ bukan yang real.
Selain itu, terdapat juga teori tahap perkembangan psikoseksual dari Sigmund Freud. perkembangan psikoseksual merujuk kepada pertumbuhan dan perkembangan fisiologi pada bagian-bagian tertentu tubuh badan anak-anak. Berikut ini adalah tahap-tahap perkembangan psikoseksual Freud, antara lain:
·         Tahap Oral (0 sampai 2 tahun)
Tahap pertama perkembangan psikoseksual manusia. Seorang bayi memperoleh segala bentuk kepuasan dan kenikmatan melalui daerah mulut. Freud menghubungkan daerah mulut dengan kepuasan dan kenikmatan libidinal. Pada usia yang lebih lanjut, bayi berkecenderungan memasukkan suatu objek yang lain ke dalam mulut bagi memuaskan kehendak hatinya.
·         Tahap Anal (2 sampai 3 tahun)
Tahap kedua perkembangan psikoseksual individu. Pusat kenikmatan berubah dari daerah mulut ke daerah anus. Kegiatan penting daerah anus adalah membuang air besar. Apabila anak-anak dapat membuang air besar mengikut cara yang ada padanya, maka anak-anak tersebut akan memperoleh kepuasan yang optimum. Anak-anak juga akan mengalami konflik menahan membuang air besar. Orang tua harus menangani masalah tersebut sesempurna mungkin bagi mengelakkan perasaan negatif di kalangan anak-anak.
·         Tahap Phalic (3 sampai 6 tahun)
Pada tahap ini, anak-anak sudah dapat membandingkan perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan tersebut dikaitkan dengan kegiatan seks.
Pada tahap ini terjadi Oedipus Kompleks pada anak laki-laki dan Electra Kompleks pada anak perempuan. Konflik-konflik ini bercirikan hasrta-hasrat inses untuk memiliki orang tua yang tidak sejenis dan membenci orang tua sejenis. Biasanya konlfik-konflik ini dihentikan dengan cara merepresikan hasrat-hasrat inses dan mengadakan identifikasi dengan orang tua sejenis.
·         Tahap Laten (6 sampai 12 tahun)
Pada tahap ini, anak seolah-olah tidak ada aktivitas seksual. Tahap ini sangat penting dalam pengembangan keterampilan sosial dan komunikasi, serta kepercayaan diri.
·         Tahap Genital (Diatas 12 tahun)
Tahap ini merupakan tahap akhir perkembangan psikoseksual dimana dorongan-dorongan seksual terangsang lagi. Pada tahap ini, individu mengembangkan minat seksual yang kuat pada lawan jenis.

B.   Unsur-Unsur Terapi Psikoanalisis
1.      Munculnya masalah atau gangguan
Untuk lebih mengenal karakteristik penyebab masalah atau gangguan yang dialami klien, maka terapis berusaha memunculkan penyebab-penyebab yang menjadi akar permasalahan atau gangguan dari klien dan kemudian terapis memperkuat kondisi psikis klien agar nantinya bila klien mengalami gangguan, diri klien akan lebih siap menghadapi gangguan yang dialami.
2.      Tujuan terapi
·         Fokus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak.
·   Membentuk kembali struktur karakter individu dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari di dalam diri klien.
3.      Peran terapis
·        Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan klien.
·  Mendengarkan kesenjangan-kesenjangan dan pertentangan-pertentangan pada cerita klien.
·   Membangun hubungan kerja dengan klien, yaitu dengan banyak mendengar dan menafsirkan.
·     Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis.

C.   Teknik Terapi Psikoanalisis
Terdapat beberapa teknik dalam terapi psikoanalisis, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Asosiasi Bebas (free association)
Suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lalu dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi traumatik di masa lalu. Dalam teknik ini, klien diperintahkan untuk duduk santai atau tidur lalu menceritakan semua pengalaman yang terlintas dalam benaknya, baik yang teratur maupun yang tidak, sepele atau penting, logis atau tidak logis, relevan atau tidak, semuanya harus diungkapkan. Asosiasi-asosiasi yang diucapkan itu kemudian ditafsirkan sebagai pengungkapan tersamar pengalaman-pengalaman yang direpres.
2.      Penafsiran
Suatu prosedur dalam menganalisa asosiasi-asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi. Bentuknya adalah tindakan analisis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku.
3.      Analisis Mimpi
Suatu prosedur yang penting untuk menyingkap bahan-bahan yang tidak disadari dan memberikan kepada klien atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Freud memandang mimpi sebagai jalan utama menuju ke alam tidak sadar karena isi mimpi ditentukan oleh keinginan-keinginan yang direpres. Keinginan-keinginan tersebut muncul lagi dalam bentuk simbol sebagai jalan menuju pemuasan.
4.      Analisis Resistensi
Ditujukan untuk membantu klien agar menyadari alasan-alasan yang ada dibalik resistensi, sehingga klien bisa menanganinya.
5.      Analisis Transferensi
Teknik utama dalam psikoanalisis karena mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lalunya dalam terapi. Terapi ini terjadi jika dalam pertemuan terapi terungkap adanya displacement dalam diri klien. Hal tersebut terjadi kalau klien mengalihkan sasaran perasaan cinta atau bencinya kepada terapeuti yang menanganinya. Transferensi itu menunjukkan kebutuhan klien untuk mengekspresikan kebutuhannya. Semua ini berlangsung secara tidak sadar, terapeut sering menjadi sasaran atau pengganti. Disini terapeut berusaha untuk menjelaskan perasaan-perasaan yang sedang dialami atau yang diekspresikannya pada terapeut, sehingga klien memiliki satu pemahaman yang lengkap mengenai kesulitan yang sedang dialami.


Referensi :
Apa itu psikoterapi?. Diakses dari http://www.psikoterapis.com/?en_apa-itu-psikoterapi-,6.
Hashim, S., Jantan, R., & Razali, M. (2003). Psikologi pendidikan. Kuala Lumpur: PTS Professional Publishing Sdn. Bhd.
Matthewa, Andrew. (1997). Being happy! Kiat hidup tenteram dan bahagia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Naisaban, Ladislaus. (2004). Para psikolog terkemuka dunia (riwayat hidup, pokok pikiran, dan karya). Jakarta: Grasindo.
Putri, Herlin. Bab II: Kerangka teori. Diakses dari lib.ui.ac.id/file?file=digital/127142-RB09P440m-Mimpi%20tokoh...pdf.
Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta: Kanisius.
Semiun, Yustinus. (2006). Teori kepribadian dan terapi psikoanalitik Freud. Yogyakarta: Kanisius.
Sholeh, M. (2008). Bertobat sambil berobat: Rahasia ibadah untuk mencegah dan menyembuhkan berbagai penyakit. Jakarta: Hikmah.
Tjandra, Olivia. Psikoterapi: ‘Bengkel’ perkembangan kepribadian. Diakses dari psi442.weblog.esaunggul.ac.id/wp.../sites/.../Psikoterapi-Pertemuan-2.ppt.
Wijaya, Fahri. Teori psikoanalisa dari Sigmund Freud. Diakses pada tahun 2013 dari http://www.wivrit.com/2013/07/teori-psikoanalisa-dari-sigmund-freud.html.
Wolberg, L, R. (1967). The technique of psychotherapy. New York: Grune & Stratton.

Kamis, 31 Desember 2015

Tugas 4 Psikologi Manajemen

I.   Komunikasi dalam Manajemen
A.   Pengertian Komunikasi
Komunikasi merupakan rangkaian proses pengalihan informasi dari satu orang kepada orang lain dengan maksud tertentu. Menurut Theodorson dan Thedorson, komunikasi adalah penyebaran informasi, ide-ide sebagai sikap atau emosi dari seseorang kepada orang lain terutama melalui simbol-simbol.
Sementara menurut Edwin Emery, komunikasi adalah seni menyampaikan informasi, ide, dan sikap seseorang kepada orang lain. Menurut William Albig, komunikasi adalah proses sosial, dalam arti pelemparan pesan/lambang yang mana mau tidak mau akan menumbuhkan pengaruh pada semua proses dan berakibat pada bentuk perilaku manusia dan adat kebiasaan.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah seni menyampaikan informasi, penyebaran informasi, atau rangkaian proses pengalihan informasi dari seseorang kepada orang lain terutama melalui simbol-simbol atau dapat juga diartikan sebagai proses sosial yang akan menumbuhkan pengaruh pada semua proses dan berakibat pada bentuk perilaku manusia dan adat kebiasaan.

B.    Proses Komunikasi
Proses komunikasi adalah setiap langkah mulai dari saat menciptakan informasi sampai dipahami oleh komunikan. Dalam aplikasinya, langkah-langkah dalam proses komunikasi adalah sebagai berikut:
1.      Langkah pertama, ide atau gagasan diciptakan oleh sumber atau komunikator.
2.  Langkah kedua, ide yang diciptakan tersebut kemudian dialihbentukan menjadi lambang-lambang komunikasi yang mempunyai makna dan dapat dikirimkan.
3.    Langkah ketiga, pesan yang telah di-encoding tersebut selanjutnya dikirimkan melalui saluran atau media yang sesuai dengan karateristik lambang-lambang komunikasi ditujukan kepada komunikan.
4.   Langkah keempat, penerima menafsirkan isi pesan sesuai dengan persepsinya untuk mengartikan maksud pesan tersebut.
5.  Langkah kelima, apabila pesan tersebut telah berhasil di-decoding, khalayak akan mengirim kembali pesan tersebut ke komunikator.
Wilbur Schramm mengatakan bahwa untuk terjadinya proses komunikasi paling sedikit harus memiliki 3 unsur komunikasi, yaitu komunikator, pesan, dan komunikan.
Menurut Bovee dan Thill dalam buku Business Communication Today, 6e, proses komunikasi terdiri atas enam tahap, yaitu:
1.      Pengirim mempunyai suatu ide atau gagasan.
2.      Pengirim mengubah ide menjadi suatu pesan.
3.      Pengirim menyampaikan pesan.
4.      Penerima menerima pesan.
5.      Penerima menafsirkan pesan.
6.      Penerima memberi tanggapan dan mengirim umpan balik kepada pengirim.

C.   Hambatan Komunikasi
Ada banyak hal yang dapat mengganggu kita untuk berkomunikasi secara efektif. Komunikasi dikatakan berhasil hanya jika penerima memahami pesan seperti yang dimaksudkan oleh pengirim. Gangguan merupakan segala campur tangan dalam proses komunikasi yang mengubah atau mengaburkan apa yang diartikan oleh pengirim.
Menurut Robbins (2003), ada empat hambatan komunikasi yang akan mempengaruhi kualitas komunikasi yang kita lakukan, diantaranya adalah:
1.      Perbedaan Bahasa dan Persepsi
Setiap hari kita menerima input berupa pemandangan, suara, bau, dan sebagainya. Lesikar dkk (1999) mengilustrasikan pikiran kita yang mengatur input menjadi peta mental (mental map) yang mewakili persepsi kita mengenai realitas. Bahkan bila dua orang mengalami peristiwa yang sama, bayangan mental mereka mengenai peristiwa itu tidak akan identik. Karena persepsi seseorang unik, maka gagasan yang ingin disampaikan berbeda dengan orang lain. Sebagai pengirim, seseorang memilih rincian yang tampaknya penting bagi dirinya, yaitu proses yang dikenal sebagai persepsi selektif. Sebagai penerima, seseorang mencoba menyesuaikan rincian baru ke dalam pola yang sudah ada dala dirinya. Apabila rincian yang dimaksud tidak ada kesesuaian, kita cenderung mengubah informasi itu ketimbang mengatur ulang pola yang sudah ada. Hal ini yang menyebabkan pengertian kita terhadap sesuatu hal akan berbeda secara dramatis dengan orang lain. Namun, semakin banyak pengalaman yang dibagi, semakin tinggi tingkat pemahaman satu sama lain.
2.      Gangguan Komunikasi
Menurut Locker (2000), ada 2 gangguan dalam berkomunikasi, yaitu:
a.       Gangguan Emosional
Seseorang akan kesulitan dalam menyusun pesan jika sedang kecewa, marah, atau takut. Hal ini yang menyebabkan gagasan dan perasaan sering membuat seseorang sulit bersikap objektif. Walaupun kita tidak mungkin menghindari komunikasi dengan orang lain ketika emosi kita terlibat, namun akan lebih baik apabila kita waspada akan kemungkinan besarnya kesalahpahaman yang akan terjadi akibat emosi kita terlibat di dalamnya.
b.      Gangguan Fisik
Hambatan komunikasi sering kali bersifat fisik, yaitu hubungan yang buruk, akustik yang jelek, dan tulisan yang tidak dapat dibaca. Gangguan jenis ini dapat menghambat pesan yang sebenarnya efektif. Penerima pesan mungkin terganggu oleh kursi yang tidak nyaman, cahaya yang redup, masalah kesehatan, atau beberapa kondisi yang menimbulkan gangguan secara fisik. Semua gangguan ini pada umumnya tidak menghambat komunikasi, tetapi akan mengurangi konsentrasi penerima.
3.      Overload Informasi
Komunikasi bisnis sering terganggu karena materinya rumit dan kontroversial. Jumlah pesan bisnis yang disampaikan semakin hari semakin banyak dan peluang untuk terjadinya umpan balik sering terbatas, sehingga sulit untuk meluruskan salah pengertian ketika hal itu terjadi. Dengan memahami berbagai tipe hambatan komunikasi yang ada dalam organisasi, peluang untuk mengatasinya akan meningkat. Teknologi baru pada satu sisi semakin mempermudah pekerjaan staf administrasi, namun di sisi lain juga menambah beban mereka. Sebagai akibatnya, sebagian besar orang terbenam dalam pesan dan akan mengabaikan berita yang menurut mereka tidak penting, menunda menanggapinya, atau menjawab tidak lengkap atau tidak akurat.
4.      Penyaringan yang Tidak Tepat
Menyaring adalah membuang atau menyingkat informasi sebelum pesan itu diteruskan kepada orang lain. Namun apabila hal tersebut mempengaruhi jumlah dan mutu informasi yang diteruskan, tentu akan mempengaruhi komunikasi efektif yang diharapkan.
Penyebab-penyebab dari hambatan komunikasi antara lain sebagai berikut:
1.      Komunikator berpikir dalam lingkup dirinya sendiri;
2.   Berbicara dengan konteks penuh rahasia dan disampaikan dalam waktu yang kurang tepat;
3.      Tanpa memberi contoh nyata, penjelasan sifatnya hanya umum;
4.    Bersikap diktator, kurang menggunakan perasaan sebagai pimpinan, sebagai teman;
5.      Lamban, tidak efisien;
6.      Terlalu cepat mengambil keputusan;
7.      Tidak konsekuen, tidak ada alternatif.

D. Definisi Komunikasi Interpersonal Efektif dalam Organisasi yang Mencakup Componential dan Situational
Komunikasi interpersonal dapat dikatakan efektif apabila pesan diterima dan dimengerti sebagaimana dimaksud oleh pengirim pesan, pesan ditindaklanjuti dengan sebuah pembuatan secara sukarela oleh penerima pesan, dapat meningkatkan kualitas hubungan antarpribadi, dan tidak ada hambatan akan hal itu (Hardjana, 2003 dalam Suranto, 2011). Komunikasi interpersonal efektif adalah komunikasi yang terkandung dalam tatap muka dan saling mempengaruhi, mendengarkan, menyampaikan pernyataan, keterbukaan, kepekaan yang merupakan cara paling efektif dalam mengubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang dengan efek umpan balik secara langsung.
Komunikasi dalam organisasi atau perusahaan dapat menentukan efektif atau tidaknya suatu penyampaian pesan atau perintah antar anggota organisasi, baik antara atasan dengan bawahan (downward communication), bawahan dengan atasan (upward communication), maupun antar anggota yang jabatannya setaraf (lateral communication).
Adapun komunikasi interpersonal efektif dalam organisasi mencakup dua jenis, yaitu:
1.      Componential
Menjelaskan komunikasi antar pribadi dengan mengamati komponen-komponen utamanya, dalam hal ini adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik dengan segera.
2.      Situational
Interaksi tatap muka antara dua orang dengan potensi umpan balik langsung dengan situasi yang mendukung disekitarnya.

E.    Model Pengolahan Informasi
Model ini berdasarkan pada teori belajar kognitif (Piaget) dan berorientasi pada kemampuan seseorang dalam memproses informasi untuk memperbaiki kemampuannya. Pengolahan informasi mengacu kepada cara orang menangani rangsangan dari lingkungan, mengorganisasi data, mengembangkan konsep dan memecahkan masalah, serta menggunakan lambang verbal dan non verbal.
Model pengolahan informasi mencakup empat jenis, yaitu:
1.      Rational
Model ini berasumsi bahwa orang beroperasi dalam model pengolahan dikontrol menggunakan prosedur analitis.
2.      Limited Capacity
Model ini menunjukkan bagaimana orang menyederhanakan pengolahan informasi.
3.      Expert
Model ini bergantung pada model Limited Capacity.
4.      Cybernetic
Model ini berpendapat bahwa informasi diproses dari waktu ke waktu.

F.    Model Interaktif Manajemen
Model interaktif manajemen mencakup lima jenis, yaitu:
1.      Confidence
Dalam manajemen, timbulnya suatu interaksi karena adanya rasa nyaman. Kenyamanan tersebut dapat membuat suatu organisasi bertahan lama dan menimbulkan suatu kepercayaan dan pengertian.
2.      Immediacy
Ini adalah model organisasi yang membuat suatu organisasi tersebut menjadi segar dan tidak membosankan.
3.      Interaction Management
Adanya berbagai interaksi dalam manajemen, seperti mendengarkan dan juga menjelaskan kepada berbagai pihak yang bersangkutan.
4.      Expressiveness
Mengembangkan suatu komitmen dalam suatu organisasi dengan berbagai macam ekspresi perilaku.
5.      Other Orientation
Adanya komunikasi antara komunikasi dengan satu pihak ke pihak lain, sebagai tukar menukar informasi.


Sumber
Andayani. (2015). Problema dan aksioma: dalam metodologi pembelajaran bahasa Indonesia. Yogyakarta: Deepublish.
Briliani, N. I. (2015). Psikologi manajemen tugas VI. Diakses pada 28 Desember 2015 dari http://nataliabriliani.blogspot.co.id/2015_12_01_archive.html.
Efektivitas komunikasi interpersonal. Diakses pada tahun 2013 dari http://www.psychologymania.com/2013/04/efektivitas-komunikasi-interpersonal.html.
Novianty, A. (2014). Komunikasi dalam manajemen. Diakses pada 14 Januari 2014 dari http://alvi-novianty.blogspot.co.id/2014/01/komunikasi-dalam-manajemen.html.
Purwanto, Djoko. (2006). Komunikasi bisnis edisi ketiga. Jakarta: Erlangga.
Rumanti, M. A. (2002). Dasar-dasar public relations: teori dan praktik. Jakarta: PT Grasindo.
Sukoco, B. M. (2007). Manajemen administrasi perkantoran modern. Jakarta: Erlangga
Suprapto, Tommy. (2009). Pengantar teori dan manajemen komunikasi. Yogyakarta: Media Pressindo.
Yasa, R. (2015). Komunikasi dalam manajemen. Diakses pada 17 Januari 2015 dari http://rizkitriyasa.blogspot.co.id/2015/01/komunikasi-dalam-manajemen.html.

Jumat, 25 Desember 2015

Tugas 3 Sistem Informasi Psikologi

Impian dan Karir

Semua orang pasti memiliki impian mengenai kesuksesan di masa depan, begitupun dengan saya. Impian saya mengenai kesuksesan di masa depan berkaitan dengan cita-cita saya kedepannya ingin menjadi apa. Awalnya saya memiliki keinginan untuk menjadi dokter dan semasa SMA pun saya memilih jurusan IPA agar saya dapat mencapai keinginan saya tersebut untuk menjadi dokter. Namun selama saya bersekolah di jurusan IPA, saya memiliki hambatan dalam mempelajari mata pelajaran fisika dan saya berfikir bahwa untuk menjadi dokter harus menguasai banyak materi mengenai fisika, meskipun saya kurang tahu apa yang saya fikirkan tersebut benar atau tidak.
Seiring berjalannya waktu, saya semakin yakin bahwa untuk mencapai keinganan saya menjadi dokter merupakan hal yang sangat sulit, terlebih saya sangat kurang menguasai mata pelajaran fisika. Dan kemudian saya terfikir untuk mempelajari bidang psikologi dan menjadi seorang psikolog karena saya ingin memahami psikis maupun mental seseorang baik yang sedang mengalami suatu penyakit maupun yang sedang mengalami suatu permasalahan lain dalam hidupnya. Selain karena saya ingin memahami psikis maupun mental seseorang, saya juga ingin menyembuhkan orang-orang secara emosionalnya.
Setelah saya lulus SMA, saya memutuskan untuk berkuliah mengambil jurusan psikologi agar saya dapat mencapai keinginan saya untuk dapat memahami bidang psikologi dan menjadi seorang psikolog. Selama saya mempelajari bidang psikologi lebih jauh dalam perkuliahan, saya semakin yakin bahwa saya sangat tertarik dengan bidang psikologi dan keinginan saya untuk menjadi psikolog semakin besar. Untuk saat ini saya memiliki keinginan menjadi psikolog klinis karena saya ingin membantu menyembuhkan mereka yang mengalami gangguan psikis.