Bioteknologi yang Berkaitan Dengan Perkembangbiakan Hewan
Bioteknologi adalah cabang ilmu yang
mempelajari tentang pemanfaatan makhluk hidup (bakteri, fungi, virus, dan
lain-lain) maupun produk dari makhluk hidup dalam proses
produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Sedangkan bioteknologi hewan
adalah bioteknologi yang menggunakan agen hayatinya berupa hewan dalam proses
produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Dalam bidang peternakan,
bioteknologi dimanfaatkan untuk menghasilkan vaksin, antibodi, pakan bergizi
tinggi, dan hormon pertumbuhan. Contoh vaksin untuk ternak yaitu vaksin untuk
penyakit mulut dan kuku pada mamalia, vaksin NCD untuk mengobati penyakit
tetelo pada unggas, dan vaksin untuk penyakit flu burung.
Beberapa metode bioteknologi pada hewan
antara lain :
1. Inseminasi
Buatan dan Seksing Sperma
Inseminasi
buatan adalah cara untuk memasukkan sperma hewan jantan ke dalam organ
reproduksi betina dengan menggunakan alat tertentu. Nama lain dari inseminasi
buatan ini adalah kawin suntik.
Tujuan utama
dari teknik ini ialah memaksimalkan potensi pejantan berkualitas unggul. Sperma
dari satu pejantan berkualitas unggul dapat digunakan untuk beberapa ratus
bahkan ribuan betina, meskipun sperma tersebut harus dikirim ke suatu tempat
yang jauh.
Jenis kelamin
anak pada hewan yang menggunakan teknik ini dapat ditentukan dengan
memanfaatkan teknologi seksing sperma X dan sperma Y. Terdapat dua teknik yang
umum dipakai untuk seksing sperma, yaitu separasi albumin yang menghasilkan 75
sampai 80 persen sperma Y dan filtrasi sephadex yang menghasilkan 70 hingga 75
persen sperma X. Perubahan proporsi sperma X atau Y akan menyebabkan peluang
untuk memperoleh anak dengan jenis kelamin yang diharapkan lebih besar.
Tujuan
dilakukannya inseminasi buatan ini adalah sebagai berikut :
·
Meningkatkan kualitas keturunan.
·
Memudahkan pengaturan proses perkawinan.
·
Menghindari kelangkaan hewan jantan yang termasuk bibit unggul.
·
Meningkatkan tingkat reproduksi hewan.
2. Transfer Embrio
Transfer embrio
merupakan teknologi yang memungkinkan induk betina unggul untuk memproduksi
anak dalam jumlah banyak tanpa harus bunting dan melahirkan.
Pada teknik
ini, betina unggul tidak perlu bunting tetapi hanya menghasilkan embrio yang selanjutnya
dapat ditransfer pada induk titipan (resipien) dengan kualitas yang tidak perlu
bagus tetapi memiliki kemampuan untuk bunting.
Kelebihan dari
Transfer Embrio adalah sebagai berikut :
· Pada proses reproduksi alami, betina hanya bisa bunting sekali dalam
waktu satu tahun dan hanya mampu menghasilkan 1 anak (atau 2 anak bila terjadi
kembar). Sedangkan menggunakan teknologi transfer embrio, betina unggul tidak
perlu bunting dan menunggu satu tahun untuk menghasilkan anak.
·
Embrio yang digunakan pada teknologi transfer embrio dapat berupa
embrio segar atau embrio beku (freezing embrio). Embrio beku efisien untuk
dipakai karena dapat disimpan lama sebagai stok. Sedangkan embrio segar hanya
dapat ditransfer pada saat produksi di lokasi yang berdekatan dengan donor.
· Perbaikan mutu genetik transfer embrio lebih efisien daripada
dengan inseminasi buatan karena perbaikan mutu genetik pada inseminasi buatan
hanya berasal dari pejantan unggul. Sedangkan perbaikan mutu genetik pada
transfer embrio, sifat unggul dapat berasal dari pejantan dan induk yang
unggul.
3. Kloning
Kloning adalah
upaya reproduksi hewan secara aseksual (tanpa kawin) yang menghasilkan turunan
dengan komposisi genetik yang identik. Dalam bioteknologi, kloning merujuk pada
berbagai usaha-usaha yang dilakukan manusia untuk menghasilkan salinan berkas
DNA atau gen, sel, atau organisme.
Kloning
dilakukan dengan cara mengambil inti sel pendonor yang kemudian ditanamkan ke dalam
ovum lain yang nukleusnya telah dikosongkan.
Teknik ini
melibatkan dua pihak, yaitu donor sel somatis (sel tubuh) dan donor ovum (sel
gamet). Meskipun pada proses ini kehadiran induk betina adalah hal yang mutlak serta
tidak mungkin dihindari, tetapi pada proses tersebut tidak ada fertilisasi dan
rekombinasi (perpaduan) gen dari induk jantan maupun induk betina. Ini
mengakibatkan anak yang dihasilkan memiliki sifat yang sama persis dengan induk
donor sel somatis.
4. Hewan Transgenik
Hewan
transgenik merupakan hewan yang diinjeksi dengan DNA dari hewan lain.
Transformasi gen tersebut umumnya berasal dari spesies yang sama, tetapi dapat
juga berasal dari spesies berbeda yang dilakukan terhadap embrio sebelum hewan
transgenik tersebut dilahirkan. Transformasi genetik diharapkan menyebabkan
mutasi spontan sehingga genetik dari hewan yang ditransformasi termodifikasi
sesuai dengan gen yang diharapkan muncul sebagai performans.
Teknologi
transgenik pada hewan dilakukan dengan cara penyuntingan fragmen DNA secara
mikro ke dalam sel telur yang telah mengalami pembuahan. Transgenik mengatasi
kekurangan praktek pembiakan satwa secara klasik yang membutuhkan waktu lama
untuk modifikasi genetik.

